Ketika Kamu Jadi Tempat Curhat: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

54

Seperti yang pernah saya bilang, akhir-akhir ini saya sering sekali melayan teman-teman curhat. Salah satu yang cukup serius ini teman saya yang sebulan lagi dijanjikan bakal dinikahi lantas ditinggalkan. Ditinggal rujuk dengan mantan istrinya. Teman saya ditipu mentah-mentah dan akhirnya ditinggalkan.

Alkisah, teman saya ini sangat besar pengorbanannya ke si lelaki. Rencana akan menikah, sampai-sampai teman saya inilah yang membantu mencarikan pekerjaan si lelaki. Sampai akhirnya didapat pekerjaan di salah satu sekolah swasta cukup bergengsi di Pekanbaru.

Dari yang pekerjaan si cowok belum jelas, sampai akhirnya gajinya di atas UMR. Tak hanya itu, teman saya ini juga mencarikan rumah sewa sementara untuk si cowok.

Rencananya, untuk sementara pula mereka tinggal di sana.

Namun, lain yang dipikirkan, lain pula kenyataan. Setelah lelaki ini cukup berjaya, ia akhirnya memilih perempuannya yang dulu. Rumah yang dicarikan oleh teman saya ini akhirnya ia tempati bersama perempuan lamanya itu. Teman saya pun mengadu, ia hancur dan sangat hancur.

“Kenapa bisa begitu, Kak?” teman saya setiap malam selalu menelpon dan bercerita. Ia menangis sambil mengirimkan foto-foto si lelaki bersama perempuan lamanya.

“Kenapa laki-laki itu tidak punya empati, Kak? Kenapa mereka hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri?” katanya lagi.

“Kenapa lelaki itu menipu, Kak? Kenapa dia menjebak perempuan-perempuan dalam perasaannya?” terus saja pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

Saya cuma jawab, “Kalau saat ini kamu tersakiti, berdoalah. Doa-doamu akan dikabulkan. Jangan lupa mohon pada Allah agar dihindarkan dari kesedihan.”

Sebenarnya kadang kita tidak benar-benar siap untuk menerima curhatan permasalahan orang lain, tetapi kadang dengan mendengar curhat orang lain kita merasa sedikit bersyukur. Oh, ternyata ada yang lebih sedih dari aku, ada yang lebih susah dari aku.

Dalam perspektif komunikasi pun apabila seseorang curhat bersama kita, artinya ia nyaman menyampaikan pesan pada komunikan yang ia percaya. Ia merasa mendapatkan pengaruh yang baik setelah menyampaikan pesan-pesannya pada kita.

Jika mendengarkan orang lain curhat, hal paling penting adalah empati. Ya, karena kita kadang juga merasakan apa yang orang lain curhatkan, maka boleh sedikit menyampaikan pengalaman.

Kalau sedang pusing masalah sendiri lalu tiba-tiba orang pengen curhat ke kita, itu yang kadang-kadang bikin tarik napas ya. Tapi kalau itu terjadi ke kamu, artinya kamu bisa menyembunyikan masalahmu di hadapan orang lain.

Ya, ada bakat juga menerima curhatan alias konsultan.

De Daikos, 24 April 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan