Bandar Bendera: Puisi Wahyu Mualli Bone

119

Berkibar di pinggir dan tengah pembatas lajur. Sebuah pampangan bicara lambang, melambai-lambai, penghibur dua puluh empat jam sepanjang musim misi masa jelang tanggal.

Jalan-jalan protokol hingga jalan-jalan tikus jadi bandar bendera merata kota dan pelosok desa. Tak kurang tepat di simpang-simpang jadi pilihan jitu pampang menutupi rambu dan lawan lalu-lalang.

Penggarap kayu ramban kayu jelang dan usai musim.

Celetuk jasa cetak mengetuk otak, mengotak-atik tangan mendarat ke kertas dan media kaca mungkin memungkinkan. Meruah untung apa salahnya.

Sorek, 26 Januari 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan