

TEPUK tangan, sorak-sorai kegembiraan, diskusi intim yang riang-gembira usai pertunjukan teater, jadi penanda, bahwa seni ini masih mendapat tempat di ‘minda‘ masyarakat kita. Di setiap kepala dan hati orang-orang yang menjadi saksi kunci peristiwa itu membawa pulang, pesan atau kesan yang ditangkapnya untuk kemudian dilupakan atau diendapkan menjadi sesuatu pula di dalam dirinya.
Teater masih punya penonton dan orang-orang yang bekerja tanpa pamrih terus bergeliat hingga ke ceruk-ceruk kampung. Mereka bekerja bahu-membahu untuk mewujudkan niat baiknya, karena teater bagi mereka menjadi tontonan alternatif untuk menyuarakan berbagai keresahan disekitarnya.
Dianaktirikan, ditempatkan di tepi arus besar pemajuan seni, dipunggungi dan dibiarkan ‘hidup‘ dalam kesulitan dan kekurangan fasilitas serta apresiasi sekalipun, teater tetap jalan. Kerap para senimannya, terutama di Riau menyebut dengan slogan, “Hidup nekat mati muda“. Seniman tak ambil pusing dengan kondisi dan situasi yang memprihatinkan itu.
“Kami turun ke kota maupun kabupaten, hingga ke ceruk-ceruk kampung untuk menguji kekuatan teater. Gerakan mandiri ini sudah kami lakukan sejak 2007 hingga saat ini. Terbukti, tontonan alternatif ini sentiasa diminati masyarakat, dari orang tua hingga anak-anak,” ungkap Fedli Azis, usai pertunjukan monolog berjudul, “3431” (adaptasi cerpen Putu Wijaya berjudul, “Babi“.
Pertunjukan monolog itu sendiri hanya sebagai bonus dari Mengarak Teater lewat class akting yang ditujukan untuk generasi muda yang berminat belajar seni peran. Program itu pun sebagai edukasi plus distribusi pengetahuan tentang teater, khususnya monolog. Barangkali, bagi sekolah menengah atas (SMA) sederajat, pelatihan itu diperlukan untuk persiapan menuju FLS3N yang dilaksanakan setiap tahunnya dari level kecamatan hingga tingkat nasional.
“Program ini kami jalankan sendiri tanpa sponsor atau donatur dari manapun pada 8-9 Mei 2026 lalu. Kami mengandalkan apresiasi masyarakat untuk membiayainya. Untuk class acting berbayar, per-anak 150K (25 orang) dan tiket menonton seharga 25K dan 30K untuk 200 orang penonton. Hasilnya cukup lumayan karena seluruh dana operasional bisa terpenuhi, meski tidak menguntungkan secara finansial. Yang penting program ini berjalan terus menerus,” ulas Pimpinan Lembaga Teater Selembayung, Fedli Azis.
Seniman sepuh asal Cerenti, Kabupaten Kuansing Syafrizal Syaf menyebut, program Lembaga Teater Selembayung terbilang jitu. Diakuinya, sudah lama pagelaran teater tak digelar di kampungnya. Apalagi sejak dirinya tak kuat lagi untuk berkarya karena faktor usia yang terus menggerusnya.
Syafrizal Syaf yang pernah belajar seni peran bersama tokoh teater Riau almarhum Idrus Tintin dan Taufik Effendi Aria menyebut, saat Fedli Azis berniat ke Cerenti, semangatnya terbit dan menantikan hari itu. Karena di kampungnya tak ada penginapan atau hotel, ia pun menjamu tamu dari Kota Pekanbaru itu di rumahnya selama tiga hari.
“Saya support penuh karena class acting dan pertunjukan teater sudah lama tidak ada lagi di kampung ini. Antusias masyarakat tinggi dan kita perlu apresiasi agar kedepan tumbuh aktor-aktor tangguh dari sini,” ungkap penulis sekaligus pelukis itu yang diakui rekannya yang juga pelukis Kurtubi.