Langit merah tembaga. Kaulihat sebuah biduk rapuh
Terayun sunyi di hamparan laut. Dan engkau ragu
mendekatinya. Apakah biduk itu mampu membawamu
menyisir Segara Anakan? Tahan hempasan gelombang
Tak terbalik tak tenggelam. Dadamu senantiasa debar
Engkau terbiasa berperahu mewah. Dengan layar indah
Dan janji serta harapan. Walau perahu itu nyaris serupa
fatamorgana atau pelangi senja gerimis. Tapi sorot
mata cerlang seribu rahasia. Sejarah jingga
Biduk itu kian rapuh. Engkau kalah. Tak kuasa menahan
gelombang. Menghantam tebing karang. Nyaris tenggelam
ke dasar lautan. Lalu sunyi. Engkau sungguh bimbang
Apakah hendak bertahan di atas biduk yang rapuh
Atau terus berharap perahu layar indah. Serupa fatamorgana
Engkau berdiri gemetar di atas batu karang. Lautan sunyi
Hati sunyi. Hanya gemuruh dalam dada. Hanya elegi
Dan kabut mengurung. Camar terluka terbang ke atas
mercusuar, sorot matanya berkaca-kaca. Berlinang.
Jaspinka, 2023
Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyei (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).