Cerpen : Bisu Sialang – Oleh Bambang Kariyawan, Ys

Cerpen : Bambang Kariyawan Ys

Bisu Sialang

Aku hanya bisa mengitari waktu. Berputar diantara kegagahanmu. Bersama koloniku aku menggantungkan seluruh waktu pada dahan-dahan kokohmu. Ketinggian jangkauanmu yang bisa mencapai 88 meter membuatku bangga menjadi bagian dari kekokohanmu. Sialang. Pohon bersuku Johar-joharan itu membuatku senang mengeluarkan suara dengungan sebagai pertanda aku nyaman tinggal di dalamnya.

Aku, seekor lebah apis dorsata bersama koloniku telah menikmati hidup dengan teramat nyaman di hutan larangan ini. Menari dan hinggap pada dedahanan Sialang yang di kelilingi pepohonan Randu, Sulur Batang, Rumah Ketuang, Cempedak Air. Menikmati aroma lembut sentuhan mentari pagi. Menjaring derai angin sepoi jelang siang. Menampung jejaring terik kala sepenggalan matahari. Menyambut siluet gelap jelang malam. Menadah sunyi pada larik-larik batangnya. Kembali membelai tetesan embun pada dedaunan keladi di tepi danau. Siklus harian yang tak ingin kulepaskan bersama Sialang rumahku.

Namun banyak kisah pilu akhir-akhir ini tentangmu dan kepunganmu yang telah bertumbangan satu persatu. Aku terbiasa melihat rimbunan kepungan sialangmu berdiri kokoh dari berbagai jenis Kedundung, Batu, Kruing, Balau, dan Ara. Kini hanya tinggal sebatang sialang jenis Kruing menjulang ketinggian. Menopang keseimbangan rumpunan rawa dan bebukitan. Berdiri seperti menopang langit namun kulihat kesedihan dibalik kekokohanmu. Rapuh dan hampir roboh.

Pada suatu waktu aku dan koloniku masih bisa dengan sangat mudah menempel pada satu sialang hingga 150 sarang. Bayangkan. Kami bisa bercanda antara satu sarang dengan sarang yang lain. Kini aku hanya bisa bergelayut bersama tujuh sarang. Sepi dan bisu. Dengungan teman-temanku yang selalu menghiasi hutan larangan ini, kini hanya gerungan dengan dengung yang sunyi.

Aku dah lama tak menyaksikan orang-orang menumbai. Aku rindu dihargai manusia atas kerja alamku bersama koloniku. Maduku diambil dengan cara yang sangat elegan. Bergelayut di atas dahan-dahan kokoh Sialang. Aku ingat saat mereka menumbai. Kudengar nada-nada rapalan indah dengan irama yang kini hanya bisa kurindu.

popat-popat tanah ibul

mai popat di tanah tombang

nonap-nonap cik dayang tidu

juagan mudo di pangkal sialang[1]

Irama mantra yang membuat sunyi malam menggetarkan dedaunan malam. Aku masih menyimpan memori detil setiap langkah kaki yang memijak sekitar 40 lantak. Pijakan gagah para penumbai walau terkadang gigil melihatnya memanjat di atas batang kayu rapuh. Penumbai yang dengan tungkul disandangnya sambil memegang tunam dari akar pepohonan kering berbentuk sapu lidi. Asap dari ujung tunam inilah yang akan mengusirku secara santun agar aku dan koloniku berpindah kepepohonan sialang yang lain. Mengapa kusebut “santun”? Mereka tidak menyakiti. Bahasa-bahasa permisi serta “memanusiakan” kami, membuatku tersanjung dan berterima kasih dengan cara kami pergi ke tempat sialang yang lain. Kenikmatan tersendiri bagiku melihat bergalon-galon madu hasil menumbai dipanen untuk dinikmati berjuta manusia.

Seiring angin bertiup. Seiring dedaun berguguran. Seiring air danau terlihat keruh. Senja ini kudengar bual-bual dari orang-orang yang selalu berlalulalang di sekitar sialang sunyi dan bisu ini.

[1] Mantra tradisi Menumbai Sialang

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan