Cerpen Zahra Ramadhani

ALISHA DAN LUKANYA


Tak ada yang tahu mengapa akhir-akhir ini Alisha sering tidak hadir di sekolah bahkan aku yang merupakan sahabat Alisha, aku pernah mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa Alisha sering tidak hadir ke sekolah kama sebuah penyakit yang dideritanya. Dan saat aku bertanya kepada Alisha tentang hal ini ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Namun aku tau bahwa apa yang dikatakan Alisha itu tidak sepenuhnya benar dan dari situ muncul perasaan takut akan kehilangan seseorang. Alisha tidak ingin memberi tahu kebenaran tentang penyakitnya kepada sahabatnya karena ia tidak ingin mengganggu pikiran sahabatnya namun sepertinya keputusan yang dibuat oleh Alisha akan menimbulkan dampak yang sangat besar.

Seperti sekarang ini Alisha tiba-tiba saja pingsan saat kami sedang melakukan praktikum IPA Guru yang melihat ini langsung memanggil mobil ambulance. Setelah pulang sekolah ini aku berencana menjenguk sahabatku Alisha di Rumah Sakit Rambulan. Setelah bertanya pada resepsionis dan mendapatkan kamar Alisha akupun langsung pergi ke kamar itu.

Namun saat aku masuk aku dikejutkan dengan bayaknya alat medis yang terdapat di sekitar ranjang milik sahabatku itu. Kupaksakan kakiku ini untuk melangkah ke tempat di mana seorang gadis yang biasanya ceria sekarang terkulai lemas. Sebulir cairan bening menetes di pipi ku. aku merasa sangat gagal menjadi sahabatnya orang seperti apa yang membiarkan sahabanya kesakitan sendirian dalam waktu yang lama ucapku lirih.

Orang tua Alisha yang ada di sana langsung memelukku untuk menenangkanku. Tak lama setelah itu tiba-tiba saja alat medis di sekitar tubuh Alisha mulai berbunyi dengan tidak teratur, menandakan bahwa Alisha sedang tidak baik-baik saja, dokter dan perawat berbondong bondong mulai memasuki ruangan Alisha dan menyuruh para keluarga untuk menunggu di luar. Suara tangisan menggema di lorong rumah sakit itu sesaat setelah mendengar kabar bahwa Alisha kami telah berpulang ke rahmatullah.

Sekarang aku hanya bisa menangis ingin sekali aku kembali ke masa-masa di mana Alisha dan aku bercanda tawa tanpa memikirkan apa yang terjadi pada hari esok. Dan untuk  yang terakhir kalinya aku membisikkan sesuatu kepada telinga Alisha sembari mengelus ranbut cantiknya Untuk sahabat terkuat aku, terimakasih waktu dua tahun nya, aku nggak akan pernah lupain kamu, istirahat yang tenang nya sekarang sakitnya udah hilang kan?” begitulah ucapan perpisahan yang bisa aku sampaikan untuk sahabat yang menemaniku dari masa awal SMA.

Duri, 16 November 2021


Zahra Ramadhani, kelahiran Duri 3 Oktober 2006, siswa sekolah SMPS Cendana Mandau kelas 9. hobi membaca novel, bercica-cita ingin menjadi Dokter, menjabat sebagai bendahara OSIS SMPS Cendana mandau, harapan 2 KFP UNRI angkatan 14, peserta KSN IPA 2021, dan juara 3 lomba menulis cerpen acara sumpah pemuda.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan