Api itu membubung membuat butiran abu yang halus
Jelaga. Ella dengan hati terluka. Bersepatu kaca
Datang ke sebuah pesta. Dengan seribu keinginan dan angan.
Di tempat pesta, Ella adalah mumi. Adalah patung
Tanpa rasa. Tanpa jiwa. O waktu sembilu.
Di sana. Jauh di dusun. Seorang penyair yang fakir. Guncang jiwa
Mencatat sejarah kecil. Ia hadirkan Rhodopis gadis budak Yunani
Bermuka-muka. Seekor rajawali mengambil sebelah sepatunya
Dijatuhkan ke baris-baris sajak serupa telaga. Sepatu kaca itu
Berkilauan. Tetapi Sang Raja kemudian mencari pemilik sepatu
Dan tak pernah menemukan sepatu kaca itu. Hanya penyair fakir
Paham dan tahu dalam baris-baris sajak serupa telaga
Sepatu kaca sebelah ditenggelamkan ke palung telaga. Tak ingin memiikinya
Biarlah. Nasib. Bukan jerat atau perangkap. Cinder. Pergilah jauh
Merdeka dari jebakan harta. Kau tahu Cinder? Bahagia itu sederhana
Tak di bawah tekanan. Atau pasung. Atau labirin. O, sajak jingga.
Kau hanya penyair fakir. Sepertinya tidak akan berdaya.
Sudahlah. Tutup buku. Tutup sejarah. Tutup dongeng.
: “Tetapi, sumpah; aku tidak akan silau pada jabatan atau harta!”
Jaspinka, 2023
Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyei (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).
a