MONOMANIA || Yusmar Yusuf

Tulisan Terkait

MONOMANIA
 
     Derita ini bukan milik kita semata. Dunia, alam, bumi sesungguhnya tengah menjalani derita yang teramat  gayang. Kita hanya memikul secuil derita yang bersembilu takut. Dan takut ini juga bukan milik kita, tetapi dunia, alam dan bumi sedang merasakan lelahnya memikul takut. Ketika derita dan takut menyatu, seluruh alam ini akan runduk sujud dan merebah serebah-rebahnya. Dalam posisi rebah nan merayap itulah ada yang melambung. 
 
     Ketika manusia didera rasa takut, ada dua pilihan yang ditegakkan; menjauh atau malah mendekat ke sumber takut itu. Kalau rasa takut itu bermuasal dari manusia  atau  makhluk kasat  lainnya, maka jauhilah. Namun bila rasa takut itu bersumber dari sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang ghaib, takut yang ghazal, maka mendekatlah kepada Kekuatan Transendental; Dia lah Tuhan. Bercumbu dengan kedekatan, sembari menjinjit rasa takut, Tuhan pun  menghadir dalam sejumlah negasi; Tuhan menyusun salam  “perkenalan” dalam kalimat negatif (“Tidak ada Tuhan Selain Aku”). Tuhan menegasi diri-Nya, demi memupus konstruksi positif dari sebuah kamus tentang Tuhan (Tuhan kamus);  membangun patahan-patahan   dogmatik;  Tuhan   menurut para ulama,   Tuhan ala buku-buku teks, Tuhan bak cerita  nenek menjelang  tidur,  Tuhan menurut kitab, Tuhan cara naskah tua, Tuhan menurut  para pemikir,   Tuhan  kata     pariah. Inilah jenis Tuhan ‘adalah…’. Dengan kalimat negasi itu, Tuhan hendak meletakkan ‘diri-Nya’ bukan sebagai Tuhan   ‘adalah’, tetapi   Dia   hendak   dikenal  sebagai  “Tuhan  menurut Tuhan”  (God as such);  bukan Tuhan menurut para penyembah-Nya atau menurut manusia. Di sini Dia memposisikan ‘diri-Nya’ sebagai Tuhan ‘adalah bukan’: Bukan ini, bukan itu, bukan samping; kiri dan kanan, bukan atas dan bukan bawah. Bukan segalanya… alias Tuhan “bukan adalah”. Tetapi, “Tuhan adalah bukan”.
 
     Dalam segala ‘bukan’ itulah, manusia memaksai (muncul) kedekatan, merasa dekat, selejang perjalanan manzilah pencapaian maqam ruhani, sepanjang melayani rasa takut itu (era pandemic), teramat asyik   para salik,  mengadu kepada Tuhan (as such); anonym, tanpa alamat, nir-bentuk,  kekosongan abadi, sejumlah maujud menggetarkan (tremendum), bergumam dalam senyap dan diam. Inilah peristiwa pendakian manzilah, jeluk akan lezatnya cinta (hubb) dengan segala Maha. Inilah peristiwa lambungan dan serba melambung. Dalam senyap, sunyi, pilu serba mencekam, manusia meniti rasa takut. Dalam takut, kita mendekat kepada Tuhan. Lalu meninggilah kesyahduan spiritual yang selama ini heboh dipamerkan, lemak diekspo dalam keramaian pasar. Hari ini, Tuhan menjemput kita bertandang dalam senyap dan mencekam. Wilayah spiritual berlantun dan bernyanyi. Dan kita diberi ruang meng-aktus-kan diri selaku makhluk spiritual itu sejadi-jadinya (maaf, ‘segila-gilanya’). Cinta dan kecintaan dalam kamus psiko-patologis dan psikiatri terhubung dengan mania; berasyik-asyik dengan sesuatu nan gaib, tak tergoda dengan ihwal fisikal. Mengalami trance (kerasukan spiritual), bahkan dalam kaidah psikiatri dikenal sebagai ‘homicidal monomanias’ (sebuah simpangan laku yang berkelindan dengan kegilaan; majenun, majnin). Mata batin dan kalbu menjadi tajam dalam jenis kegilaan lain. Di erapandemicini, kita diajak bertandang dalam gelora istana spiritual yang prabawa “oceanic feeling” (perasaan menyamudera); retak persimpangan spiritual nan jelita antara rasa takut dan plateaubahagia.
 
     Ketika takut merebak, maka tasawuf dan perenungan ala gnostic lah yang meninggi. Dalam pendakian fenomena ‘majenun’ itu, ada masa-masa interupsi (spacement). Subyek cumbuan menghilang, tak maujud dalam kilasan (tajalli) apa pun, beberapa waktu. Benar-benar menghilang, sebagaimana percumbuan kasih antara Majenun dan Laila yang terputus oleh sebuah kehendak dua pemilik suku besar di zamannya. Laila disimpan, dipingit dalam kekelaman bilik rindu membuncah. Qais (sang lelaki bergelar Majenun)  demi menebas rindu,  membangun pondok mungil di puncak bukit tak jauh dari kediaman Laila, agar saban pagi dan senja, kala membuka daun jendela bisa mengarahkan pandang tertumpu ke atap rumah Laila. Namun, Laila tetap menghilang. Dalam tradisi tasawuf, peristiwa kehilangan ini adalah peristiwa yang amat menakutkan, dikenal dengan sebutan “absence” (vanish/ lesap). Para penekun tasawuf pasti pernah mengalami masa-masa ‘spasi’ ini.Kecemburuan, kekecewaan, perasaan tergamak, penasaran, menyirap, bersatu dalam olakan didihan ‘air spiritual kehilangan’. Sebuah tahapan manzilah yang mendebar, menggerun sekaligus menggetar. 
 
     Dulu, di Bengkalis ada seorang Tuan Faqih (Ghani); mendaras bebunyi ‘trance’: babberua, babberua..” berulang-ulang, tanpa makna bumi. Mungkin memikul “makna langit”. Ini wilayah ‘trance’ dan ‘absence’, yang dialami oleh seorang yang dinisbah sebagai wali majenin.Tak saja Qais (Majenun) yang mengalami kehilangan, Laila demikian pula. Namun yang membedakannya; Majenun mengekspos kehilangan ini ke ruang publik, Laila malah menyimpankannya di dalam lipatan hati terhalus. Saban hari Majenun bercerita kepada burung-burung, kepada hewan,unggas jua angin yang melintas, kepada rerimbun daun di sekitar pondok:“tolong kabarkan rindu ku kepada Laila”. Saban pagi, Majenun memetik bunga-bunga hutan nan wangi dan menghanyutkannya lewat parit sempit berliku dari puncak bukit itu menuju rumah Laila, dan seakan dia melaksanakan tindakan ‘go-send’ agar bunga itu berkabar kepada Laila tentang daku nan gila (monomania) mengalami “absence” teramat pucuk. Laila, membatin dan mendiam dalam senyap menyayat. Dalam diam, Laila memungut bunga-bunga yang hanyut sealir selokan lewat ujung mata memelas. Dua bentuk ekspresi yang berbeda demi  dijadikan alat untuk “menyembelih rasa takut” dan rindu.
 
     Sejalan tabiat gender, Majenun menghoyak kisah cinta (hubb) kepada dunia secara terbuka. Laila sebaliknya, menyimpan rindu dendam sehingga mati. Kematian Laila tersambung ke dawai instink pencinta Majenun. Dan Majenun mendekat,memeluk pusara Laila dalam balutan tanah memerah. Majenun menangis dan tersungkur di atas tanah kubur membusut. Tubuh kaku, kering berbulan-bulan. Orang-orang sekampung, baru mengetahui kematian Majenun setelah ziarah peringatan satu tahun kematian Laila, ketika bertakziah ke tanah perkuburan. Tubuh Majenun mengering, tak dibalut rasa takut lagi. Majenun dikuburkan dalam satu liang dengan Laila. Mereka bersatu dan menyatu di alam sana. Dalam sebuah mimpi, seorang Sufi bersua dengan Majenun yang berada di samping Tuhan. Tuhan mengelus dan membelai-belai kepala Majenun dengan rasa cinta penuh rahim. Dan, Tuhan pun berkata: “Tidakkah engkau wahai Majenun merasa malu memanggil Aku dengan nama Laila setelah kau teguk anggur cinta-Ku?” Sang Sufi tersentak dari tidur dan terbangun dalam peluh mengucur. “Lalu di mana Laila?” Tanya dia dalam hati. Tuhan menyisipkan ilham ke dalam qalbu sang Sufi, bahwa Laila memiliki kedudukan lebih tinggi, tersebab dia merawat dan menyimpan kisah cintanya di dalam hati nan sunyi.
 
 
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan