Dari TPA Piyungan ke Banyu Bening: Yogyakarta Jadi Ruang Belajar Hidup bagi Kepala Sekolah Sirkular Indonesia

15

15 pendidik dari 5 provinsi mengikuti Indonesia Green Principal Award (IGPA) Batch 8 di UGM, menyusuri sudut-sudut Yogyakarta untuk belajar langsung dari praktik nyata ekonomi sirkular.

YOGYAKARTA, 14 Mei 2026 — Selama tiga hari penuh, 7–9 Mei 2026, 15 pendidik dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Lampung, dan Riau menyusuri berbagai lokasi di Yogyakarta dan Surakarta: dari ruang sidang di Gedung Rektorat Universitas Gadjah Mada, hamparan sampah yang pelan-pelan menghijau di TPA Piyungan, tetes air hujan yang berubah menjadi air minum di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, lalu ekosistem sirkular yang tumbuh di lahan Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, hingga praktik terbaik sekolah sirkular di SMA Assalaam Sukoharjo.

Diselenggarakan oleh JBI Education Consulting bersama Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) Universitas Gadjah Mada, program lokakarya tiga hari ini menjadikan Yogyakarta bukan sekadar tuan rumah, melainkan laboratorium hidup tempat gagasan bertemu bukti nyata.

“Tumpukan sampah itu saya lihat sudah seperti bukit yang mulai menghijau. Entah belum sepenuhnya, tapi terlihat ada harapan di sana. Permasalahan sampah ternyata bisa jadi pintu menuju sesuatu yang hijau kembali. Kita hanya perlu teknologinya,” ujar Ghazwu Fikril Haq, guru SD Muhammadiyah 4 Surabaya sekaligus peserta termuda IGPA Batch 8, usai mengunjungi TPA Piyungan.

Bagi Wahyu Kristiani, Kepala Jenjang SD BPK PENABUR Jakarta yang membawahi 20 sekolah, kunjungan ke berbagai lokasi di Yogyakarta memicu gagasan yang lebih besar lagi. Setiap tahun, sekitar seribu BPK PENABUR melakukan kegiatan live-in (tinggal di rumah warga) ke Desa Kampung Santan di Yogyakarta dalam lima gelombang. Kini, ia bermimpi agar sesi live-in tersebut bisa bersinergikan dengan apa yang ia saksikan langsung selama IGPA.

“Setiap tahun ada seribu anak yang kami bawa ke Jogja dengan lima gelombang. Saya ingin anak-anak itu langsung terjun ke tempat pengolahan sampah dan pengolahan air hujan seperti yang kami kunjungi di IGPA ini. Ini bukan hal yang gampang, tapi harus kami lakukan. Segera setelah pulang kami akan presentasikan ke Yayasan”, ungkap Wahyu.

Yogyakarta tidak hadir semata sebagai lokasi acara. Di sinilah, UGM berdiri menjadi mitra riset global yang menghidupkan program pendidikan ekonomi sirkular secara akademis. Dr. Suci Lestari Yuana, dosen dari Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL dan peneliti dari PSPD UGM, saat ini memimpin penelitian kolaboratif antara UGM dan University College London (UCL) yang menjadikan alumni IGPA sebagai sampel penelitian pengembangan pendidikan ekonomi sirkular di sekolah.

Berita Lainnya

Selama tiga hari, para peserta juga mengikuti 10 sesi lokakarya intensif bersama narasumber dari UGM dan praktisi lapangan, termasuk Sri Wahyuningsih dari Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tommy Wahyu Pradana dari Teknologi Mengolah Sampah Piyungan, Dr. Alan Soffan dari PIAT UGM, serta Kepala SMA Assalaam yang berbagi praktik terbaik sekolah sirkular yang telah berjalan.

Di penghujung acara, lima penghargaan diberikan kepada pendidik terbaik dalam kategori inovasi, pengelolaan sampah, kurikulum, keterlibatan komunitas, dan kepemimpinan:
● Best Circular School Creator & Innovator: M. Romadona, S.Pd., Gr. (Kepala SMP Muhammadiyah Al Ghifari, Batanghari, Lampung Timur)
● Outstanding Transformation Planning on Waste Management: Dr. Bambang Kariyawan Ys., M.Pd. (Kepala SMAS Cendana Rumbai, Pekanbaru)
● Outstanding Transformation Planning on Curriculum & Learning: BPK PENABUR Jakarta
● Outstanding Transformation Planning on Community Engagement: Riva Elvita, S.Pd., MM. (Kepala SMAS Cendana Mandau, Duri)
● Outstanding Transformation Planning on Leadership & Governance: Badru Zaman, M.Pd. (Kepala SMA Labschool Jakarta)

Para kepala sekolah tersebut masing-masing juga menerima penghargaan kolektif berjudul Outstanding Dedicated Principal on Circular Economy Initiatives sebagai pengakuan atas komitmen mereka memimpin transformasi sekolah sirkular.

“Walaupun peserta IGPA terlihat sedikit, sesungguhnya mereka merepresentasikan hampir 100 sekolah karena ada pengurus yayasan yang masing-masing membawahi sekitar 20 sekolah. Itu baru satu tingkat. Semangat diseminasi inilah yang membuat IGPA terus tumbuh sejak pertama digelar pada Januari 2022”, tutur Dr. Junita Widiati Arfani, salah satu pendiri IGPA dan Direktur JBI Education Consulting.

Seluruh peserta IGPA otomatis akan bergabung ke dalam jaringan alumni yakni Asosiasi Sekolah Sirkular Indonesia (ASSI). Di penghujung tahun 2026, ASSI berencana menggelar International Circular Eco Youth Camp 2026 di Bali guna memperluas gerakan sekolah sirkular ke panggung internasional. Sementara Yogyakarta, dengan ekosistem akademis UGM, jaringan sekolah sirkular, dan komunitas pengolah sampah dan air hujan, boleh jadi akan terus menjadi jantung dari gerakan IGPA. Informasi lebih lanjut mengenai IGPA dapat diikuti melalui Instagram @igpa.idn dan situs igpa.or.id.
________________________________________
Tentang IGPA: Indonesia Green Principal Award (IGPA) adalah program lokakarya dan penghargaan nasional yang diselenggarakan oleh JBI Education Consulting bersama Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM. Program ini dirancang untuk mendorong kepala sekolah dan pendidik menjadi agen perubahan dalam transformasi sekolah berbasis ekonomi sirkular. Sejak 2022, IGPA telah melibatkan ratusan sekolah dari berbagai jenjang dan provinsi di Indonesia.

#IGPA2026 #GreenPrincipal #EkonomiSirkular #Sustainability #UGM #Yogyakarta

Penulis dan Narahubung: Kinta Herawan | kinta.herawan@gmail.com, igpa.idn@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan