Don’t be fooled by the pretty flower’s!: Cerpen Yansi Aresta Camila [X.4]

1,459

Pagi itu, Aku berjalan di sebuah lorong yang sepi sambil bersenandung. Celingak – celinguk mencari papan tanda kelas X.2. Ya, aku murid baru disekolah ini. Aku berhasil menemukannya, lalu mengetuk pintu itu secara pelan.
“Masuk.” Ucap seseorang yang sedang duduk di meja depan.
Aku mengucapkan salam lalu masuk ke dalam, lalu berdiri didepan kelas. Terlihat wanita paruh baya yang sedang duduk disana yang tidak lain adalah wali kelas ku. Ia bangun dari duduk nya dan berdiri tepat di samping ku.
“Selamat pagi anak anak. Seperti yang sudah saya katakan, hari ini kita kedatangan murid baru yang datang jauh – jauh dari Bali. Baiklah, nama saya Tidna. Kamu bisa memanggil saya Miss Tidna. Silahkan perkenalkan dirimu.” Miss Tidna tersenyum ke arah ku. Dari cara ia mengenalkan diri, sepertinya Miss Tidna adalah orang yang tegas.
Esta melihat keseluruh ruang kelas lalu tersenyum dan mulai memperkenalkan diri.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan saya Bunga Lestari. Panggil saja Esta. Saya pindahan dari Bali. Saya harap teman – teman semua mau berteman dengan saya, jadi mohon kerja samanya ya. Terima kasih.” Aku menunduk sedikit sebagai tanda hormat.
Miss Tidna tersenyum tipis dan menyuruh ku duduk di bangku kosong. Aku berjalan ke bangku kosong itu. Di samping bangku itu, ada gadis perempuan dengan mata yang berkilauan dan rambut hitam pekat menatap ku dengan tatapan manis. Aku duduk di bangku kosong itu, dan Miss Tidna memulai pelajaran.
“Pstt.. Hai!”. Gadis itu menyenggol sedikit bahu ku dan aku yang sedang memperhatikan Miss Tidna. Aku menoleh ke arahnya lalu memasang wajah bingung.
“Aku Kaylaney. Panggil saja Laney.” Gadis itu bagaikan bunga Wijaya Kusuma. Senyuman yang hangat dan wajah dingin bagai sinar bulan di malam hari. Terlebih lagi rambutnya yang hitam pekat berkilau seperti langit malam.
“Esta.”. Membalas senyumnya dengan ramah.
Saat jam istirahat tiba. Laney menghampiri meja ku dan meletakkan roti pudding diatas meja ku.
“Esta.” Panggilnya dengan penuh energi.
Aku yang sedang memasukkan buku kedalam tas sontak menoleh kearahnya lalu memberikan senyum ramah itu padanya.
“Ada apa Laney?”
“Kamu ga jajan?” Tanya Laney sambil menyeruput susu kotak di tangannya.
Aku menggeleng dan mengeluarkan kotak bekal ku. Lantas Laney mengambil bangku nya lalu duduk didepan ku. Aku membuka bekal ku, lalu menawarkan sebatang nugget.
“Terimakasih, tapi aku sudah kenyang.”. Ucapnya lalu memandangi ku yang sedang memakan bekal ku.
“Laney.”
“Hm?”
“Kamu suka bermain musik?”
Mata Laney seketika bersinar dan mendekatkan kursinya ke meja.
“Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Kamu cenayang ya Esta?” Ucapnya sambil terkekeh pelan.
Aku terkekeh pelan. Lalu melihat ke arah tangannya.

“Kamu pasti Gitaris.” Ucapku sambil menyebarkan sisi ramah ku.
“Bingo! Kamu cenayang yang hebat! Esta main musik juga?” Tanya nya padaku dengan tatapan penuh harapan.
Aku mengangguk. Lalu menyuap makanan ku lagi. Laney banyak mengajak ku mengobrol hari ini. Dia benar – benar seperti bunga Tigerlily. Bunga yang melambangkan kepercayaan diri dan kebanggaan.

Semenjak perkenalan itu. Aku dan Laney menjadi sangat dekat. Kami bermain bersama, melakukan banyak hal bersama mulai dari menginap di salah satu rumah, makan bersama keluarga. Bahkan keluarga kami sudah sangat dekat. Seiring berjalannya waktu, kini aku dan Laney memasuki tahun ke-2 disekolah itu. Pagi ini aku berjalan sendirian di lorong sekolah. Ada yang tidak beres dengan suasana pagi ini. Setiap aku berjalan di lorong, orang – orang yang sedang mengobrol ataupun yang sedang berjalan seketika menoleh ke arah ku. Memasang tatapan tak percaya dengan apa yang ku perbuat. Aku juga melihat beberapa orang memandang ku dengan tatapan tak suka. Aku terus berjalan hingga sampailah aku di depan kelas ku. Saat aku masuk, semua kegiatan dikelas terhenti dan semua orang menatapku. Tatapan yang sama dengan orang diluar tadi.

“Esta! Kamu kemana saja? Aku sudah mengontak mu beberapa kali, aduhhh ayo ikut aku!” Laney sontak menarik tangan ku dan membawa ku ke tempat yang sepi. Dari raut wajahnya, tidak bisa di gambarkan. Aku tak mengerti dengan tatapan itu. Tatapan apa itu? Kecewa? Atau bahkan sedih?

Di tempat sepi itu, Laney melepas tanganku dan mendengus kasar. Lalu memandang ku dengan tatapan yang sudah berganti menjadi tatapan khawatir. Laney mendekap bahu ku dan menatap ku darimata ke mata. Sepertinya ini percakapan serius.
“Esta. Kamu harus membuka ponsel mu sekarang.”
Aku menurutinya. Lalu mengambil ponsel ku dari dalam saku ku. Banyak notifikasi yang belum terbaca olehku. Aku membaca satu – satu notifikasi itu. Mataku terbuka lebar melihat notifikasi dari akun sosial media sekolah ku. “Disekolah ini ada pembully? Siapakah dia?”. Aku meng – scroll komen dari postingan itu.


“Wah, benar benar keterlaluan.” – @sunsetwhyt
“Kenapa dia bisa diterima begitu saja disekolah ini? Ini tidak bisa dibiarkan” – @jyunhytra
“Keluarkan saja dia, dia sangat berbahaya jika terus di sini.’ – @hyuraww
Aku melihat ada satu akun yang menyebarkan foto itu. Aku membelalak kan mataku. Itu…Aku? Tapi bagaimana bisa foto itu tersebar. Aku mematikan ponsel ku lalu melihat Laney yang memasang muka frustasi.
“Laney, aku-”
“Aku tau kamu melakukan itu karna ada alasan, Esta.” Laney menatap ku dengan tegas dan berfikiran positif. Aku takut Laney akan menjauhi ku. Padahal aku ingin membangun kehidupan baru yang lebih baik disini.
“Maaf telah mengecewakan mu, Laney.” Aku mengurungkan wajahku. Aku benar – benar tak percaya aku akan masuk dalam situasi menyulitkan seperti ini.
Laney menangkup kedua pipi ku dengan tangannya lalu membuat ku menatapnya. Kali ini wajahnya hangat dan tenang, penuh dengan kepercayaan terhadap ku.
“Aku tau kamu pasti melakukan nya dengan alasan baik. Aku pernah berada diposisi ini Esta. Aku akan terus bersamamu, apapun yang terjadi.” Suaranya bagaikan desir ombak di sore hari saat air laut pasang. Menenangkan dan menambah semangat ku untuk tetap kuat seperti air yang bertambah di lautan. Aku tersenyum dan memeluknya. Aku berharap rumor ini akan segera lenyap.

Sebulan berlalu. Rumor itu telah lenyap. Masih belum diketahui siapa yang menyebarkan rumor itu. Laney selalu bersama ku dan mendukung ku. Aku benar benar beruntung mempunyai teman sepertinya. Kehidupan ku kembali seperti sedia kala. Aku dan Laney bahkan semakin dekat dan sering bersama. Ibuku menitipkan ku ke Laney karna rumor waktu itu dan Laney bersedia. Dia benar – benar membuat ku aman.

Hari ini ada acara pertemuan keluarga dirumah ku. Keluarga Laney termasuk dari beberapa undangan. Saat bel pulang sekolah berbunyi. Aku pergi sebentar ke kamar mandi. Saaat aku menjalankan panggilan alam, dari luar bilik terdengar dua orang perempuan yang sedang membicarakan gosip – gosip sekolah. Dasar bala nemo dayonk (orang yang menyukai gosip).

“Eh, kamu masih inget ga rumor anak X.2 kemarin? Sumpah polos banget ya dia”
“Iya, aku rada kasihan liatnya. Mana masih temenan sampe skrg. Bodoh banget ya dia.”
“Bangett. Serigala berbulu domba itu, aku memang tidak suka dengannya dari dulu. Benar benar mencurigakan. Betul dugaan ku.
“Laney? Iya. Padahal sudah terlihat dari wajahnya”

Jantung ku seketika berhenti mendengar ucapan mereka dari dalam bilik. Aku menghapus pikiran buruk itu. Lalu keluar dari bilik itu dan berjalan pulang bersama Laney. Saat acara digelar, semua berjalan dengan lancar hingga pada saat aku dan Laney hanya berdua di taman depan rumah ku. Laney bermuka masam dengan hati yang berantakan. Dia bererita tentang kematian ibunya pada saat dia masih berumur 10 tahun. Saat itu dia masih tinggal di Ciwidey. Itu benar – benar jadi mimpi buruk baginya. Aku berusaha menenangkannya dan memeluknya.
“Kamu anak yang kuat, Laney. Aku yakin kamu bisa melupakan trauma mu seiring berjalannya waktu. Aku akan selalu bersamamu disini” Ucapku sembari mengelap air mata yang mengalir dipipi nya. Laney mengangguk dan tersenyum hangat.

Berita Lainnya

Diam: Puisi Dewi Rejeki

Seminggu kemudian. Laney kini sendiri disekolah karna aku ada urusan keluarga yang harus diurus dan aku harus ikut dengan kedua orang tua ku. Kini Laney merasa Deja vu dengan situasi ini. Orang – orang yang memandang nya dengan tatapan aneh. Tapi kini berbeda, tatapan itu seakan mengatakan pada Laney bahwa dia seorang pembunuh dan orang yang pantas untuk dihindari. Laney masuk kedalam kelas. Semua orang yang ia temui hari ini bahkan diluar sekolah pun menatap nya dengan waspada. Laney merasa ganjil dengan suasana ini. Ini menyakitkan, dan lebih menyakitkannya aku tak ada di sana bersamanya.

Laney duduk di bangku nya. Seperti biasa dia mengambil susu kotak dari tas nya dan mulai menyeruput susu kotak itu sambil membuka ponselnya. Saat dia sedang asyik menonton, ada satu pesan dari orang yang tak dikenal. Bahkan itu sebuah nomor asing. Ia membuka pesan tersebut.

Unknow : Sampai kapan kau mau terus menjadi serigala berbulu domba, Laney?
Unknow : (foto)

Laney melempar ponselnya sambil berteriak setelah melihat foto itu. Itu adalah foto dimana ia bersimbah darah dengan wajah bahagia nya yang khas. Laney sangat frustasi. Semua orang dikelas terkejut dengan tingkah Laney dan menatapnya dengan tatapan liar serta merendahkan. Mereka juga berbisik satu sama laim. Foto itu sudah menyebar ke seluruh daerah di negara ini. Orang – orang memasang tingkat waspada tinggi pada gadis yang ada difoto itu.

Karna kejadian itu, Laney menjadi sangat stres dan ter – obsesi mencari siapa pelaku yang meneror dan menyebarkan foto tersebut. Sedangkan ayah Laney sibuk mencari uang kesana kemari untuk menutupi rumor tersebut. Hingga pada suatu hari Laney ingat pada ku. Aku sudah sebulan tidak datang kesekolah. Tidak ada siapapun yang memberitahu Laney kemana aku pergi, bahkan para guru enggan berbicara dengan Laney.

Saat Laney sedang menjalankan tugas piketnya, ia menemukan secarik kertas yang ada diantara sampah yang ia sapu. Entah kenapa, Laney merasa ditarik dan dibisikkan untuk mengambil secarik kertas itu. Laney mengambil kertas itu dan membuka kertas kusut itu dengan perlahan.

Gotcha! KayLANEY. This is karma from God for you,Little crow. –at2<sE

Laney menggeram kesal dan membanting sapu yang ada ditangannya. Ia benar benar menjadi gila sekarang.

Di sisi lain, aku sedang minum teh hangat dengan bau khas melati di balkon kamarku lalu tersenyum.

Layne memang seperti bunga Wijaya Kusuma. Mekar disaat yang spesial, tapi sesuai dengan waktu ia mekar, di malam hari yang mana kejadian apapun bisa terjadi saat itu juga, mau itu baik atau pun buruk. Tapi aku adalah bunga Petunia. Bunga yang indah penuh dengan makna. Semangat dan menenangkan hati, tapi juga mewakili kemarahan, kepahitan, dan kebencian.

Pekanbaru, 27 Oktober 2023

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan