Esai Budaya : Umbu Landu Paranggi: Guru Kehidupan Itu Telah Pergi – Muhammad Asqalani eNeSTe

Umbu Landu Paranggi: Guru Kehidupan Itu Telah Pergi

Muhammad Asqalani eNeSTe

Pendidikan kita selama ini memang mengarahkan kita menjadi “Habibie-Habibie”. Itu wajar dan normal, tetapi perjalanan hidup sebagai manusia kan tidak selalu begitu. Prestasi ilmiah harus setara dengan prestasi insaniah. Tak cukup kita ke bulan, ke langit, tanpa ditopang oleh kekayaan batin. Semua yang rasional itu ada batasnya. Bekal semacam ini wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Kalau tidak, lihat saja contohnya, Habibie. ‘Kan kasihan, tidak disiapkan untuk menjadi “yang seimbang” tadi. (Umbu Landu Paranggi, 10 Agustus 1943 – 6 April 2021)

Indonesia kembali kehilangan sastrawan berdedikasi tinggi, Umbu Landu Paranggi. Ia pernah mendirikan Persada Studi Klub (PSK), yang dari klub inilah muncul nama-nama seperti: Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag, Korrie Layun Rampan, Suwarna Pragolapati, Eko Tunas, Joko S. Passansaran, Arwan Tuti Artha, dan lain-lain.

Umbu adalah sosok yang misterius, meski mendapat julukan Penyair Malioboro, ia sendiri seakan menjauh dari popularitas dan sorotan publik.

Selain Penyair Malioboro ia juga mendapat julukan Pohon Rindang, karena ia menaungi bahkan membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tetapi ia menyebut dirinya sebagai pupuk, ya mengolah apa yang telah tumbuh.

Pada tahun 2019, Badan Bahasa memberikan penghargaan kepada Umbu Landu Paranggi sebagai sastrawan yang dianggap telah mendedikasikan dirinya selama puluhan tahun untuk menjadi “guru” dan mengajarkan sastra Indonesia, khususnya puisi, kepada anak-anak muda.

Entah kenapa, saya tiba-tiba ingin kembali membicarakan pernyataan Umbu di awal tulisan saya di atas, tentang pendidikan kita yang terlalu fokus mengejar nilai-nilai tinggi secara akademis, kadang justru senjang dengan kecerdasan sosial dan pribadi mendasar sebagai manusia.

Sebelumnya, saya ingin bercerita atau barangkali mencuplik kembali film Dead Poetry Society yang bercerita tentang hubungan guru dan murid, yang intinya adalah tentang menemukan hakikat diri sendiri sebagai manusia yang hidup atas keinginan diri sendiri, bukan hidup atas dikte orang tua atau pandangan orang kebanyakan. Film ini diproduksi pada tahun 1989, dan berhasil memenangi Penghargaan Oscar.

Kutipan dari film ini mengatakan: Tidak peduli siapa pun bilang padamu, ide dan kata dapat mengubah dunia. Sementara jargon yang paling terkenal dan sering sekali diucapkan sepanjang film adalah: Oh Captain, My Captain!

Cerita dimulai ketika seorang guru pengganti bahasa Inggris, Pak Keating (dimainkan oleh Robin Williams) baru saja memulai pelajaran. Seorang siswa membaca pengantar buku tentang puisi, yang menyebutkan bagaimana mengukur kualitas sebuah puisi, yang dapat diukur Dan diberi skala, proses ini sudah umum dalam literatur klasik waitu itu. Keating, sebaliknya menyuruh muridnya merobek halaman pengantar puisi di buku tersebut. Sesuatu yang aneh bukan?

Aksi lainnya yang mungkin aneh, sangat ekstrim dan tidak layak dicontohkan oleh seorang guru adalah, ketika para siswa di minta berdiri di atas sebuah meja secara bergantian dan melompat ke lantai setelah berdiri tegak sambil mengatakan “Oh captain, my captain!”. Ada juga ajaran PBB dimana berjalan bukan lurus tapi malah bengkok, pincang, sambil tertawa. Belum lagi sekelompok siswa yang mengagumi Keating, keluar dari asrama malam-malam lalu masuk ke dalam goa hanya untuk mendiskusikan tentang The Dead Poetry Society. Puncaknya, ketika Neil Perry (Robert Sean Leonard) ketahuan ayahnya bermain drama dan dipaksa pulang dan harus menjadi polisi. Permainan drama adalah sesuatu yang bisa membuat Neil menjadi dirinya sendiri, maka sebagai bentuk pemberontakan ia memilih bunuh diri dengan pistol yang tersimpan di laci ayahnya.

Seluruh film ini adalah proses penyadaran, di mana para murid (dan juga pemirsa) melihat bahwa otoritas lembaga (seperti sekolah) dapat dan selalu berupaya menjadi pengarah, tetapi hanya diri kita sendiri yang dapat mengetahui siapa diri kita.

Lalu, apa kaitannya dengan Umbu?

Sebagaimana dikutip dari laman Balairung Press, Umbu pernah ditanya:

1. Ada suatu ketertarikan khusus pada orang-orang muda?

Umbu: Ya, saya memang mengutamakan orang-orang muda. Mereka bagi saya adalah “binatang yang lain”, yang selalu ingin menggelandang dalam pemburuan hidup yang sesungguhnya.

2. Masih banyak yang meremehkan mereka (anak muda) begitu saja. Pendapat Anda?

Umbu: Mungkin karena pertarungan yang keras, membuat ego seniman keluar. Jadi, kalau anak-anak muda datang melihat dan bertanya, belajar, malah dibilang bodoh. Saya sebenarnya memahami, tapi harus dimengerti bahwa anak muda punya cara tersendiri untuk menyiasati hal itu.

3. Kalau kemudian mereka jadi sedikit “nakal”, tidak apa-apa ya?

Umbu: Saya menganggap itu sebagai bagian dari misteri penciptaan. Sayangnya kita, cenderung memvonis mereka. Tidak tahu adatlah, tidak tahu diuntunglah, apalah orang bilang. Tapi ingat, di balik sikap yang demikian, tersimpan kekuatan yang mengejutkan dan daya kreatifitas yang meledak-ledak.

Ya, Umbu dan Keating adalah guru kehidupan nyata. Karena mereka sama-sama tahu bahwa apa pun alasannya, seperti apa pun kondisi anak muda, senakal apa pun mereka; anak muda adalah harapan kita. Maka, berhenti mengutuk, mulailah memeluk mereka, agar mereka tahu bahwa mereka sangat berharga.

Ada kutipan Umbu yang menurut saya layak kita genggam guna menumbuk kesadaran diri: Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri.

Umbu Wulang Landu Paranggi telah pergi, Presiden Malioboro telah henti, Pohon Rindang telah tumbang. Sebagai penyair, sebagai anak muda, sebagai manusia yang hidup, mari menundukkan kepala dan mengheningkan cipta. Setelah kepala Anda tegak, pastikan ruh Umbu berjalan-jalan di hati Anda, selamanya.

Muhammad Asqalani eNeSTe. Penyair. Mentor Kelas Puisi Online. Mengajar Bahasa Inggris di Smart Fast Education – Pekanbaru.

Rujukan:

– Wikipedia Indonesia

– www.balairungpress.com

– YouTube: Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbud

– Film The Dead Poetry Society

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

4 Komentar
  1. Rina yuliana mengatakan

    Mantul ka, saya sebagai anak muda termotivasi

  2. Budi Riyoko mengatakan

    Luar biasa memang kakak kami ini, setiap membaca yang ditulis oleh beliau selalu ada yang baru bukan hanya informasi tapi penanaman karakter. Hanya bisa berdoa semoga kakak Asqsa selalu sehat dan memberi aura positif dalam kehidupan. Dan pasti Allah lebih tahu cara membalas dengan yang lebih baik.
    Budi Riyoko Al Kubro

  3. Levi mengatakan

    Mantap, mas Asqa.. HArus dijadikan bahan renungan ini..

  4. Riami mengatakan

    Keren, Umbu memang guru kehidupan
    Aku belajar pada beliau, menulis puisi adalah menulis kehidupan