Esai Budaya : Lokalitas Sastra Yang Hilang – Zulfadhli

LOKALITAS SASTRA YANG HILANG

Oleh : Zulfadhli

Globalisasi, istilah yang mulai kerap terdengar sejak pertengahan 1990-an, telah memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan.

Penulis masih ingat betapa khawatirnya salah seorang guru yang memberikan pelajaran di tingkat SMA pada tahun 2001 terhadap globalisasi memberikan dampak buruk pada terbentuknya satu tatanan baru yang seolah tanpa sekat, borderless. Meskipun pada saat itu penilaiannya sederhana, ia berasumsi setiap orang bisa keluar masuk dengan bebas, begitu juga menyangkut transaksi barang maupun jasa.

Kini kekhawatiran itu jelas nyata-nya, bagaimana arus informasi keluar masuk tanpa batas, apa yang terjadi di negara lain bisa diakses beritanya, bahkan bisa memberikan dampak langsung, anasir tak langsung di negara lain pula. Kecenderungan pada terbentuknya tatanan global. Orang per-orang tercipta dengan pemahaman yang cenderung sama.

Apa yang paling mengkhawatirkan, kita tak lagi punya corak khas, pun tak terkecuali dalam bidang budaya/sastra.

Kenyataan ini menjadi realitas yang paling menyedihkan, pelaku budaya yang tunak di bidangnya berangsur-angsur hilang, kalau tidak bisa disebut punah. Pewarisan nilai-nilai tidak terdelegasikan dengan baik, disisi lain diperparah pula dengan pengabaian dari pemangku kebijakan.

Kalaupun ada perhatian hanya berupa bantuan sosial yang bersifat sementara, hanya memberikan solusi jangka pendek. Pelaku budaya, atawa budayawan, sastrawan Riau harus berjuang dengan keras untuk dapat mempertahankan tidak hanya berjuang menghasilkan karya-karya terbaik namun juga berkutat dengan perjuangan untuk dapat bertahan hidup dengan layak.

Keberadaan Asosiasi Seniman Riau (Aseri) yang dipimpin sastrawan Marhalim Zaini menjadi salah satu oase yang menjawab kekhawatiran itu, walaupun memang masih berupa langkah baru namun satu kata yang pasti telah berbuat. Ada yang perlu disepakati bersama : tidak ada karya brilian jika si seniman, budayawan, ataukah sastrawannya sendiri hidup dalam ketidaklayakan.

Kembali ke soal globalisasi tadi, ambil contoh di Rokan Hilir (Rohil) dulu pernah ada laku budaya Koba, kini Koba tersebut tak ada lagi kabar-nya. Pun begitu ada Zikie, belancang dan masih banyak bentuk budaya lokal yang telah hilang.

Pada konteks sastra, apa yang merupakan nilai lokal itu tak lagi tampil pada produk karya sastra, bahkan yang paling mengkhawatirkan tidak ada lagi sastrawan di daerah.

Di Riau, agaknya pusat sastra lokal ada di Pekanbaru itupun tak begitu kuat dalam mengetengahkan konten lokal. Di beberapa daerah, yang mungkin karena masih ada penulis maka masih cukup bertahan.

Di Rohil, bisa dikatakan tidak ada lagi lokalitas sastra yang khas seperti yang pernah ditorehkan oleh Almarhum Sudarno Mahyudin. Bagaimana dalam tulisannya, baik cerpen, novel/roman dapat ditemukan dengan mudah nilai-nilai lokal di dalamnya. Sebut saja bagaimana budaya orang china di Bagansiapiapi, karakter orang Melayu tempatan, persebatian budaya antar suku dan seterusnya.

Kini tak ada lagi proyek budaya besar-besaran seperti pengalian budaya lokal, sejarah daerah dan sejenisnya. Padahal kerja menyangkut hal itu seharusnya tidak pernah berhenti. Setiap tahun, setiap zaman ada perubahan dan perlu interprestasi baru.

Beberapa komunitas lokal terbentuk, baik yang khusus hanya ada di daerah setingkat kabupaten maupun yang berafiliasi ke tingkat propinsi namun tak benar-benar eksis. Perhatian pemerintah masih sebelah mata pada kerja-kerja budaya/sastra yang ditandai dengan minimnya penghargaan yang diberikan. Sebaliknya proporsi pada program infrastruktur sangat besar setiap tahunnya. Wallahu’alam.

Zulfadhli, merupakan reporter sebuah harian di wilayah Rohil. Pernah meraih nominator penulisan Novel Ganti Award 2006 dengan judul Novel “Kehilangan Jembalang”, pernah meraih anugerah jurnalistik Sagang (2012), telah menghasilkan karya tulis “Buku kumpulan cerita rakyat pesisir,” bersama penulis Murkan Muhammad, buku puisi “Kampung Halaman”. Kini bermastautin di Bagansiapiapi.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan