Di sudut sepi
Kusimpan seruan azan bagai memoar masa lalu.
Pernah suaraMu menggema.
Menuntunku menyusuri malam
yang tak pernah habis kurapal.
Lalu aku bicara pada bayang-bayang sembari menyeduh kopi yang dingin sebelum sempat kuseruput.
Waktu tersenyum pahit
karena bahkan doa-doakupun
mulai malu menyebut nama-Nya.
Ya, aku lelah menjadi suci.
Jenuh dianggap panutan
sementara luka dalam dada tak tahu
kepada hati siapa kutitipkan.
Aku ingin kembali ke barisan
tapi masjid terasa seperti gedung tua
yang mengenangku
dengan kenangan usang.
Lalu aku menepi,
menyepi pada pengakuan
rapuhku sebagai hamba.
Jika ini futur
Biar kunikmati sunyi
Hingga suara-Nya memanggil pulang.
Alamanda 2, 21 April 2025.