

Bacalah Hikayat Perang Sabil
Agar kau tau derita perang
Tak terkira yang syahid
Ringgit berjuta terbuang
Dalam genangan darah
Hei para Pencoleng!
Penguasa!
Pengkhianat!
Kalian kuras warisan nenek moyang untuk anak negeri ini hingga ke akar rumput!
Enyahlah!
Meski luka kehilangan
Pantang bagimu meneteskan airmata
Mereka kira kau akan menyerah.
Tidak! Sekali-kali tidak!
Rencong Komando harus dilanjutkan.
Nyak, kapan kami ikut perang?
Tanya gadis itu melembutkan kerasmu
Ah, semoga jangan ada lagi perang saat nanti kau dewasa, Nak.
Dalam rentamu di pengasingan
Di antara temaram cahaya
Kau titipkan pesan Iman perjuanganmu
Pada murid mengajimu
Doa untukmu Wahai Sang Ibu Suci
Mengenang Tjoet Nja’ Dhien, ( Lampadang, Aceh 12 Mei 1848 – Sumedang 6 November 1908)