Klenteng Tertua di Riau, Klenteng Hoo Ann Kiong Berusia 150 Tahun, Sejarah Tionghoa di Selatpanjang

TIRASTIMES.COM, PEKANBARU – Klenteng Hoo Ann Kiong di Kota Selatpanjang, Pulau Tebingtinggi, diyakini menjadi Klenteng tertua yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Klenteng Hoo Ann Kiong dikenal dengan nama Vihara Sejahtera Sakti ini dipercaya telah berusia sekitar 150 tahun.

Tribunpekanbaru.com sempat berkunjung ke Klenteng Hoo Ann Kiong sana untuk melihat kondisi dari Klenteng tersebut.

Terlihat kondisi Klenteng Hoo Ann Kiong cukup kokoh dan berdiri megah mulai dari gerbang masuk.

Di bagian dalam Klenteng Hoo Ann Kiong juga telah direnovasi sedemikian rupa sehingga terlihat tertata rapi, bersih dan kokoh.

Dibagikan luar terlihat pernak-pernik dan hiasan lampion mulai terpasang mengisi langit terbuka halaman Klenteng Hoo Ann Kiong.

Beberapa pengurus Klenteng Hoo Ann Kiong juga terlihat tengah sibuk membersihkan dan memasang lampu tambahan di beberapa bagian klenteng menjelang perayaan Imlek.

Tribunpekanbaru.com juga sempat berbincang degan Antoni pengurus Klenteng Hoo Ann Kiong bagian lokasi yang ada di sana.

Antoni mengatakan Klenteng Hoo Ann Kiong tersebut memang telah menjadi ikon di kota Selatpanjang dan menjadi sasaran wisatawan maupun warga Tionghoa dari berbagai daerah dan negara untuk melakukan ibadah khususnya saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Diceritakannya sejarah panjang dimulai sekitar abad 19 (kira-kira tahun 1850) dimana pulau Tebingtinggi masih berupa hutan belantara.

Saat itu para warga Tionghoa yang merantau banyak kemudian menetap di sana. Awalnya mereka membuka usaha kayu gelondongan, membabat hutan untuk menanam karet, sagu dan membuka lahan pertanian untuk menanam padi dan sayur-sayuran, serta membangun infrastruktur dasar seperti jalan dan jalur irigasi.

“Pertumbuhan pembangunan dan ekonomi yang makin menjanjikan mengundang banyak perantau yang datang menetap di pulau ini dan bergabung dengan penduduk setempat yang kemudian telah membentuk sebuah komunitas baru-sebuah kota sederhana yang bernafas aktif dalam bentuk yang paling awal,” tuturnya.

Pada masa itu, untuk memohon perlindungan dan kesejahteraan bagi masyarakat, para warga Tionghoa membangun sebuah gubuk di tepi pantai, yang terletak di antara rumah Kapitan dan kantor pelabuhan Bea Cukai untuk memuja Toa Pek Kong.

Begitu pula di tepi sungai Juling juga didirikan sebuah rumah papan untuk memuja Sian Shi Kong.

“Seiring berjalannya waktu, tempat ibadah ini pernah dipindah tempatkan di kantor Asosiasi Hakka yang terletak di tepi pantai.

Rumah ibadah Toa Pek Kong menetap di alamat tersebut hingga tahun 1903 (masa Dinasti Qing, Kaisar Kuang Shi tahun ke 29, tahun kelinci), kemudian pindah lagi ke alamat yang sekarang ini dengan mendirikan Klenteng Hoo Ann Kiong,” ungkapnya.

Bersamaan itu pula telah didirikan sebuah prasasti untuk mencatat nama para dermawan yang telah membantu pembangunan vihara.

Setelah sekira setengah abad, bangunan vihara pun mulai rusak termakan waktu.

Kemudian pada tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda menginstruksikan pelaksanaan renovasi Vihara Hoo Ann Kiong.

Para tokoh warga Tionghoa kemudian berkumpul untuk menggalang persatuan dalam pengumpulan material dan dana untuk persiapan perbaikan.

Namun karena biaya perbaikan yang sangat besar dan pecahnya perang dunia ke II -pasukan Dai Nippon menyerang Asia Tenggara menyebabkan perbaikan vihara berlangsung tersendat-sendat hingga tahun 1948.

Hanya sebagian besar dari bangunan vihara baru yang terlaksana.

Perbaikan vihara masih terus berlangsung walaupun terjadi banyak hambatan.

Pada tahun 1951, proyek perbaikan vihara yang telah memakan waktu 11 tahun akhirnya rampung secara sempurna.

Pada tanggal 12 Desember 1951, vihara yang baru dan megah diresmikan dengan upacara abhiseka yang ditandai dengan penempatan Toa Pek Kong di altar pemujaan.

“Ini menjadi bukti nyata, bahwa Hoo Ann Kiong bukan semata-mata hanya merupakan simbol dari budaya, adat, dan keyakinan rohani para warga Tionghoa di Selatpanjang,” tutur Antoni.

Melihat kenyataan ini, berbagai lapisan masyarakat di Selat Panjang telah berkumpul dan secara aklamasi menyepakati sebuah rencana untuk membangun kembali vihara tersebut. Panitia pembangunan vihara telah terbentuk pada tanggal 8 April 2000.

Melalui rapat yang berulang kali dilaksanakan untuk persiapan pembangunan, panitia telah merancang rencana pembangunan dan perbaikan vihara, yang pada tanggal 26 November 2000, telah mendapatkan persetujuan dari Toa Pek Kong melalui sebuah upacara ritual khusus yang disaksikan oleh para umat yang hadir.

Dari sana kemudian proyek pembangunan dan renovasi vihara dilanjutkan dengan 2 tahap, tahap 1 membangun bagian belakang vihara, dengan peletakan batu pertama dilaksanakan pada 14 Mei 2002 sebagai tanda dimulainya proyek pembangunan vihara.

Dengan kegigihan yang panjang, akhirnya Klenteng tersebut akhirnya diresmikan secara resmi oleh Pemerintahan Daerah pada tahun 2008 yang saat itu masih berstatus Kabupaten Bengkalis oleh Bupati saat itu Syamsurizal yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Riau.

Walaupun demikian menjelang perayaan Imlek tahun 2021, kondisi klenteng ini nampak sepi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya tanggal segini sudah ramai di sekitar, karena ini menjadi lokasi yang ramai dan tempat yang selalu didatangi orang-orang dari berbagai daerah.

Penurunan orang yang datang itu mecapai 70 persen tahun ini,” ujarnya.

Klenteng ini juga menjadi pusat atau awal arak-arakan sembahyang dan pawai Dewa Co She Kong dimana pawai ini biasanya dilakukan sebagai tradisi saat Imlek.

“Perayaan Co She Kong juga awalnya berangkat dari sini, namun sesuai kesepakatan di tengah pandemi, hal itu ditiadakan tahun ini,” ucapnya.

Ditambahkannya tahun ini adalah tahun shio Kerbau, yang diketahuinya tahun ini mengandung makna kerja keras untuk mencapai impian.

“Seperti kehidupan kerbau yang selalu bekerja kita diharapkan dapat lebih bekerja keras tahun ini,” Pungkasnya. (hs/tpc)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan