

Roland Barthes termasuk tokoh semiotika paling terkenal setelah Ferdinan de Saussure. Kalau Saussure membahas bahasa, Barthes membawa semiotika kebudayaan pop, iklan, fashion, gulat, dan lain-lain..Pokok pikiran Roland Barthes tentang Semiotika mengembangkan ide Saussure soal penanda dan petanda.
Ada dua tingkat pemaknaan: 1. Denotasi = Makna Tingkat Pertama Makna “kamus”, apa adanya,literal,yang langsung kelihatan semua orang. Hal ini masih netral dan polos.
2. Konotasi Makna yang disebut Tingkat Kedua. Makna tambahan yang muncul karena budaya, emosi, ideologi. Ketiga kategori ini yang sering “menyelundupkan pesan.”
Penanda dan Petanda
Penanda (Signifier) dan Petanda (Signified) dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam tanda, pemahamannya ada pada siapa yang melihat, bukan siapa yang dilihat. Makna itu tidak ditemukan pada bendanya, tapi pada siapa yang menggunakan benda itu. Contohnya adalah puisi. Maknanya terletak pada pembaca, bukan pada penulis.
Dalam semiotik, ada sejumlah hal yang perlu dipahami, seperti teks, koteks, dan konteks Maka, terdapat istilah konotasi dan denotasi. Contoh kasus ceramah dosen adalah contoh yang dapat diterapkan dalam teori Barthes.
Setiap penulis dan penceramah bebas menyampaikan, namun pembacadan pendengar menjadi masalah bila dikaitkan pada hukum dan politik. Dalam sastra, tidak ada hukum dan politik. Yang ada kebebasan (freedom of speech).
Roland Barthers
Roland Barthes (1915–1980) adalah seorang pemikir asal Prancis yang terkenal dalam bidang kritik sastra, budaya, dan semiotika. Ia banyak menganalisis bagaimana makna dibentuk, bukan hanya dalam teks sastra, tetapi juga dalam iklan, mode, dan kehidupan sehari-hari.
“The Death of the Author”. Makna teks tidak ditentukan oleh penulis. Tapi Pembaca memiliki peran utama dalam menciptakan makna. Dalam situasi ini pengarang (sudah selesai-nihil) yang ada pembaca menghidupkan makna yang ditulis pengarang .
Teori Barthes membantu kita memahami bahwa makna tidak selalu jelas tapi sering tersembunyi. Maka media dan budaya membentuk cara kita berpikir. Apa yang tampak “alam takambang manjadi guru”. (Peribahasa Minang).
Proses konotasi + Mitos = Mitos menurut Barthes. Mitos di sini bukan dewa-dewi, tapi “ideologi yang dianggap wajar” oleh masyarakat. Sebagai contoh mitos ’ibu tiri’ menyebabkan masyarakat antipati terhadap ibu tiri. Padahal banyak ibu tiri yang baik.
Ketiga, mitos cerita adalah cara berpikir dominan yang membuat kita “merasa “ya, memang begitu dari sananya”. Padahal itu hasil konstruksi budaya. Tugas semiotika Barthes: membongkar mitos agar kita menjadi sadar.
Jadi rumusnya: Tanda Denotatif → jadi Penanda dan di tingkat Konotatif → menghasilkan Mitos.
Mari kita mengambil contoh yang dipakai Barthes sendiri: Sampul majalah Paris Match 1955. Gambar denotasinya: Seorang anak laki-laki kulit hitam pakai seragam militer Prancis, lagi hormat ke bendera Prancis.
Makna konotasinya: kesetiaan, nasionalisme, bahwa semua ras mendukung Prancis. Kesannya “Prancis itu hebat, sampai anak koloni pun bangga jadi tentaranya”.
Dalam kasus ini mitos yang dibongkar Barthes adalah mitos “Imperialisme Prancis itu baik dan diterima”. Gambar itu dipakai buat menutupi fakta kalau Prancis lagi berperang secara brutal di Aljazair. Seolah-olah penjajahan adalah pengabdian, bukan penindasan.
Contoh lain yang dekat dengan kita: tanda mitos : Iklan sabun. Seorang cewek berkulit putih mandi. Perempuan mandi pakai sabun. Putih = bersih, cantik, sukses. Mitos “Cantik” itu harus putih”. Pantolan Jas + dasi ialah pakaian pria yang bisa membedakan atasan-bawahan. Profesional, berkuasa, penting.
Mitos “Pria sukses = berdasi ”Mawar merah 14 Februari. Penanda Bunga berwarna merah bermakna cinta, romantik. Mitos “Bukti cinta = kasih mawar” Intinya menurut Barthes: ada tanda yang polos. Iklan, berita, film, semua mengomong dua kali.
Pertama memberi info, kedua menyisipkan ideologi. Tugas kita sebagai pembaca: jangan cuma jadi konsumen tanda, tapi jadi “pembongkar mitos”.
Di bawah ini kita bedah contoh iklan atau film dengan memakai kacamata Barthes. Misalnya iklan susu bendera di TV yang sering muncul, biar menyambung penjelasan ini. Contoh: Iklan Susu Kemasan Anak.
1. Denotasi = Apa yang kelihatan. Anak umur 7 tahun, seragam SD, lari-lari pagi sambil minum susu kotak. Ibunya senyum di dapur menunggu sang anak. .Lalu muncul tulisan “Tinggi, Kuat, Cerdas”. Latar belakang {Background} musik ceria.
2. Konotasi = Makna tambahan dari budaya Seragam SD + lari pagi → rajin, disiplin, “anak baik”Ibu di dapur senyum → ibu yang perhatian, mengurus gizi anak.
Kata “Tinggi, Kuat, Cerdas” → susu = syarat jadi anak sukses. Warna cerah + musik ceria → masa depan cerah, Bahagia.
3. Mitos yang mau ditanam Barthes-style“. Anak hebat = anak yang minum susu X” dan “Ibu yang baik = ibu yang memberi susu kemasan”.
Padahal realitanya: tinggi badan itu genetik + gizi seimbang, bukan cuma susu. Seorang ibu yang baik kepada anak tidak diukur dari merk susu. Namun, iklan membuat kita “merasa “. Kalau tidak membeli, saya. selaku ibu dan anak menjadi manusia yang yang gagal”. Itu mitosnya.
Cara menerapkan teori Barthes pada hidup sehari-hari:Lihat iklan/berita → Tanya: “Apa yang mau saya percaya kalau melihat ini?”Pisahkan: mana fakta gambarnya, mana “bumbu” emosi/budaya. Silakan bongkar: siapa yang untung kalau saya percaya mitos ini?
Pada hakikatnya Barthes mengajarkan kita jadi “detektif makna”. Agar tidak mudah diperdayakan oleh sebentuk gambar. Agar kita tidak gampang disesatkan gambar Tenggelamnya Kapal Van Derwiyc.
Film Tenggelamnya Kapal Van Derwiyc sebuah film yang diangkat dari Roman Balai Pustaka karya Hamka menampilkan cinta yang kalah oleh gengsi lelaki.
Zainuddin menolak cinta Hayati karena dia sudah “bekas” istri orang lain yakni Azis./suami Hayati yang telah meninggal.
Roman karya Hamka ini bukan hanya drama cinta-cintaan, tapi kritik tajam soal adat, gengsi, dan harga diri laki-laki Minang yang akhirnya membunuh cinta.
Analisis Konflik Zainuddin vs Hayati: “Gengsi Lelaki”
1. Posisi Zainuddin = Lelaki “terbuang adat” Zainuddin dari awal sudah “kalah start”. Dia anak campuran Makasar-Minang, bukan bersuku di Minang, miskin, yatim piatu. Pada adat Minang matrilineal, garis keturunan ibu itu ‘segalanya’. Karena itu harga diri Zainuddin tipis sekali. Satu-satunya modal dia ialah kesucian nama.
2. Hayati = “Bekas Istri Orang” dalam kaca mata adat. Waktu Hayati janda dari Aziz, statusnya jatuh di mata adat kolot. Bukan salah Hayati, tapi masyarakat saat itu memberi label “janda = “barang bekas”. Apalagi Aziz meninggalkan utang dan aib.
3. Gengsi Zainuddin meledak,Tatkala Hayati balik ke Zainuddin setelah Aziz meninggal, Zainuddin sebenarnya masih cinta sepenuh hati. Namun, logika Hamka begini:“Kalau aku terima Hayati, apa kata orang? Aku sudah hina karena tidak bersuku, miskin, sekarang tambah hina karena menikahi anda.”
Di sini cinta kalah dengan “mitós harga diri laki-laki”. Dengan memakai kaca mata Barthes sekalian: Tanda Denotasi Konotasi Mitos yang dipercayai Zainuddin, ia melihat status “janda” Hayati. Perempuan yang suaminya wafat. “Bekas”, tidak suci, aib. Mitos: “Lelaki terhormat hanya menikahi gadis.
Posisi Zainuddin tegas, menjaga marwah. Mitos: “Harga diri lelaki tapi muaranya ia masih mencintai Hayati. Meskipun Zainuddin kaya punya harta, dan jabatan.
4. Posisi dan gengsi Zainuddin menang ,Selama ini ia trauma karena kekuatan adat Zainuddin dihina karena “tidak bersuku”.
Maka ketika ia dapat momentum kesempatan “bersih”, dia tidak mau mengotori lagi dengan menikahi janda. Harga dirinya rapuh, jadi defensifnya tinggi. Cinta menjadi alat balas dendam. Ini tragisnya.
Kritik Hamka kepada Laki-laki Minang
Hamka sengaja membuat Zainuddin menyesal di akhir cerita. Waktu Hayati sekarat di kapal Van der Wijck, baru Zainuddin sadar: gengsi tidak bisa menghidupkan orang mati. “lebih baik mati daripada malu” kalau malunya hanya pe konstruksi sosial.
Penutup
Kesimpulannya bahwa “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” mencerminkan tenggelamnya semua gengsi. Kapal Van der Wijck yang tenggelam itu adalah simbol. Tenggelam bukan hanya Hayati, tapi tenggelam juga semua adat yang kaku, gengsi lelaki, dendam, dan ego.
Hamka mengatakan: kalau cinta dikalahkan gengsi, ujung-ujungnya semua orang kalah. Jadi menurut Barthes: “Janda = hina” itu mitos. Zainuddin jadi korban sekaligus pelaku mitos itu. Dia percaya mitos, lalu mitos itu membunuh cintanya sendiri.
Pesan utamanya tetap sama: kalau cinta dikalahkan ego, yang tenggelam bukan cuma kapal, tapi dua manusia. Keren!
Medan, 21 April 2026
Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara