

Budaya Melayu kaya akan ilmu tentang tanda (dalam istilah disiplin ilmu disebut semiotika). Sebagai penghuni alam, orang Melayu akrab dengan tanda yang menandai sifat-sifat dalam ekolinguistik merujuk ke alam lingkungan. Berikut ini diturunkan beberapa tanda-tanda yang melekat pada lingkungan kehidupan orang Melayu Sebagaimana diuraikan Tenas Effendy (1989) khususnya kampung halaman orang Melayu.
1. Rumah
Rumah tegak atur-beratur
Rumah besar berlaman luas
Rumah kecil berpagar puding
2. Bunga
Memutih bunga buah keras
Jalin-menjalin batang pinang
3. Buah-buahan
Tunggal-menunggal pohon nyiur
Mempelam bersabung buah
Macang bersabung bunga
Pucuk pauh bertindih tangkai
Buah rambai ayun-berayun
Buah durian bergantungan
Limau manis luyut-meluyut
Jambu mencerah-serah tanah
4. Daun
Daun tebu desau-desauan
Daun pisang lintuh-lintuhan
5. Hewan
Kokok ayam berdencang-dencang
Kotek ayam berdengkang-sengkang
Mengukur balam di sangkar
Membebek kambing di kandang
Menguak kerbau di padang
Burung murai kicau-kicauan
6. Rumah
Rumah besar halaman luas
Gelanggang tempat bermain
Tempat bermain sama sebaya
Tempat memukul-mukul gendang
Tempat mengadu lentik jari
Tempat bermain teman sebaya
7. Pemandian
Bertepian berkalang air
Tepian ramai dek senda gurau
Derai berderai suara gelak
Orang mandi bunyi berkecipak
Berkecimpung orang berenang
Suara gerenek orang berlagu
Hutan dan Pagar
Orang Melayu tradisional melihat alam lingkungan sebagai sesuatu yang penuh makna. memiliki simbol yang penuh makna, sebagaimana yang terdapat pada gurndam, pantun, dan syair. Pandangan orang Melayu tidak terbatas pada manifestasi alam kebendaan, bahkan bagi mereka dimensi fisikal yang amat penting bagi sains dan teknologi hanyalah suatu manifestasi kecil dari alam ini. Ciri penanda orang Melayu dahulu hidup berprinsipkan harmoni dengan alam.Mereka menghormati rasa kebersamaan, keakuran dan bukan keakuan. Sifat keakuran dan keteraturan hidup dalam kebersamaan itu telah disepakati mereka dalam ungkapan yang sangat indah dalam peribahasa;
Laut berpagar pasir
Darat berpagar adat
Langit berpagar hukum
Manusia berpagar iman
Pada peristiwa lain orang Melayu aebagai penghui alam sangat akrab dengan hutan. Dunia kehutanan dipandang sebagai sumber pembelajaran bagi manusia. Pada dunia hutan (flora) tersimpan sejumlah pertentangan (paradoks) sebagai pencerminan sifat dan watak manusia.
Perhatikan ungkapan Melayu di bawah ini:
Kalau hendak tahu sifat manusia
Tengoklah kayu di rimba
Ada lurus ada bengkoknya
Ada baik dan buruknya
Ada tinggi dan rendahnya
Ada tegak dan ada yang tumbang
Ada yang membelit ada yang melilit
Ada yang beracun dan ada yang santun
Demikian serba sedikit penjelasan tentang semiotika alam Melayu dalam dunia lingkungan tempat tinggal masyarakat yang beradat-istaiadat Melayu dan hidup turun-temurun dan dikenal pandai bersyair dan berpantun .
Medan, 9 September 2026
Penulis dosen dan sastrawan