Membaca Taklimat Goenawan Mohamad: Catatan Shafwan Hadi Umry

9

Nama Goenawan Mohamad tidak bisa terlepas dari konteks sejarah kesusastraan dan kebudayaan di Indonesia. Tulisannya banyak menjadi telaah dan perdebatan pada masa yang mungkin tak terbatas, meskipun pemikirannya ditulis pada momen kekinian. Ketakterbatasan wilayah pemikirannya pada ruang terbatas manusia, barangkali karena beliau memadukan peusude intelektual dan riwayat psikologi manusia yang bergerak dan bernyawa. Sampai pada riwayat ketidakberartian manusia, dia masih mencoba memberi nilai keberartian itu. Misalnya ia berseru pada puisi “Riwayat sebuah poci” sesuatu yang bakal retak dan kita membikinnya abadi.

Barangkali jenjang posisinya bukan lagi sebagai pakar, akan tetapi di atas pakar. Dia bisa disetarakan dengan Nurcholis Madjid. Perdebatan pakar dengan di atas pakar ialah kalau pakar, dia masih membicarakan pikiran-pikiran ahli, sedangkan di atas pakar, justru pikirannyalah yang dibicarakan dan ditelaah. Pendapat ini dikutip dari ucapan Dr. Sulastomo ketika mengantarkan diskusi Nurcholis Madjid dengan peserta Forum Membangun Karakter Bangsa (2003) .

Sikap Budaya

Sebuah buku yang bercorak taklimat (pengarahan) Goenawan Moahamad yang berjudul Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001) memang banyak menegaskan sikap Goenawan Mohamad tentang keberartian di tengah ketidakberartian hidup manusia.

Pada buku yang diantarkan oleh Hamid Basyaid, kita dibantu untuk memahami dan menelusuri sikap budaya seorang penyair Si Malin Kundang ini. “Sebab“, demikian kata Goenawan, “Malin Kundang telah dikutuk menjadi batu, dan kita tidak pernah mau memahami perasaan-perasaannya.”.

Hamid Basyaid dengan cerdas mampu memahami “perasaan-perasaan Goenawan Mohamad” dan mencoba menampilkannya kehadapan pembaca. “Goenawan Mohamad adalah orang Barat yang lahir di Batang.” Demikian kisah awal pengantar tulisannya. “Dengan Goenawan adalah orang Barat yang lahir di Batang, saya mengartikannya dalam dua hal. Pertama, ia mengenal dan menginternalisasi nilai-nilai, cara berpikir dan cara memandang ala Barat, berkat bacaannya yang tulus atas “ruh” khazanah Barat lewat para pemikir kebuda yaannya yang paling menonjol.

Kedua, ketika ia terdorong atau “diharuskan” menengok kembali khazanah budaya yang melingkupinya di masa kecil, juga terhadap bacaan-bacaan tambahannya atas budaya tersebut.” Dengan kata lain, ia sedang mengungkapkan renungan dan kegelisahan-kegelisahannya sendiri dengan cara berdiskusi dengan mereka, terlepas dari apakah pembacanya memahami seluk beluk diskusi itu atau tidak. Tampaknya bagi dia yang penting buat pembaca adalah “hasil akhirnya“, yaitu sinergi pikirannya sendiri dengan gagasan orang-orang itu, atau malah sanggahan-sanggahannya terhadap mereka.”

Ia membahas ide-ide dan filosofi Brecht, Derrida, Nietche, Foucault, dan Albert Camus. Ia memanfaatkan mereka sebagai mikrofon untuk bertanya, bukan menjawab. Ia menjadikan mereka kenderaan untuk mencari, bukan menemukan. Ia merasa lebih penting mencari dengan bertanya, daripada menemukan dengan menjawab. Ia bukan seperti menghadapi rekan runding yang menuntut penuntasan pengertian sebuah terminologi atau kejelasan dan konsistensi suatu alur pikiran.

Segenap ikhtiar gaya bertutur Goenawan Mohamad dilakukannya dengan kelonggaran dan kelincahan ungkapan seorang yang tumbuh dalam tradisi kritik sastra. Mungkin karena meja kerjanya adalah kesusastraan, Goenawan tampak lebih sering menampilkan tokoh fiksi dalam esai-esainya yang membahas masalah-masalah faktual. Maka ketika Goenawan ingin mengukur ongkos kemanusiaan suatu revolusi, mungkin saja patokannya adalah ungkapan perih dr. Zhivago dalam novel Boris Pasternak.

Ada dua puluh sembilan tulisan yang terhimpun dalam buku tersebut. Masing-masing tulisan dikelompokkan pada wilayah tertentu. Misalnya bagian satu “Ketib Anom dan Pintu Menuju Tuhan“, bagian dua “Camus dan Kemajuan Indonesia“, bagian tiga “Penyair dan Mata Mereka“, dan terakhir “Tentang Seni dan Pasar“.

Pada tulisannya “Pintu-Pintu Menuju Tuhan”, Goenawan memulai kalimat dengan sebait sajak Amir Hamzah: Engkau ganas/Engkau cemburu/mangsa aku dalam cakarMu/Bertukartangkap dengan lepas.

Layak Disimak

Dalam situasi ancaman desintegrasi di negeri ini, suara Goenawan Mohamad layak didengar dan disimak. Dia menulis “Kita hidup di dunia yang kian tampak beranekaragam dan sekaligusmenyempit. Dengan kata lain, kita hidup di tengah pelbagai ketegangan. Kita bersua dengan “yang lain” pada tiap kesempatan, dan kita tak selamanya siap.

Dalam keadaan seperti itu, demikian tulis Goenawan, “Apa yang bisa disebut sebagai politik identitas dan politik kategorisasi jadi sangat dominan. Orang terdorong untuk membagi orang lain dan dirinya dalam golongan “kami” dan “bukan kami” dan berusaha memperebutkan ruang hidup dengan mengibarkan panji “kami” dan “bukan kami“.

Ketika satu orang atau satu kelompok bersua dengan orang dan kelompok yang di luarnya, seringkali begitu intens, maka kekacauan yang terjadi mendorongnya menuntut koherensi dan kesamaan. “Yang lain” menjadi suatu yang pada dasarnya ditampik. “Yang lain” diletakkan sebagai yang akhirnya cepat atau lambat, harus dilebur ke dalam kesamaan dengan diri kita. Atau sebaliknya: kita cemas kalau-kalau diri kita luluh ke dalam kesamaan dengan “yang lain“. (hal. 93)

Dalam buku ini ia menghimpunkan tulisannya dalam rentang waktu 33 tahun. Ia juga membicarakan Pramoedya, Khayam, Soejatmoko, S. Takdir Ali-syahbana, Sapardi Djoko Damono, Syahrir, Amir Hamzah dan Saini KM.

Buku ini patut dibaca oleh peminat dan pemerhati budaya terutama para pencinta sastra. Setiap kata dan kalimat yang ditampilkan esias terkemuka ini tak dapat dibaca sepintas mata. Hal ini disebabkan setiap kata ibarat puisi memiliki arti dan makna yang membuat pembaca digugat ke dalam pemikiran dan tafsir hati.

Maka sebagaimana Goenawan Mohamad yang mengibaratkan dirinya penyair Malin Kundang, kita juga secara terhormat perlu memahami perasaan-perasaannya.***

Penulis Sastrawan tinggal di Medan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan