Menengguk Pahitnya Bercerita: Puisi Kang Thohir
Menengguk Pahitnya Bercerita: Puisi Kang Thohir
Kang Thohir
Terkadang aku ingin meraup semua cita-cita, tapi tak ada hingga kusambut dengan cinta. Hanya mengangguk pada sebuah sandiwara, namun menengguk pahitnya bercerita. Aku hanya seorang pendosa di balik tubuhku yang penuh noda, tapi tak ada yang sudi membersihkan jiwa. Hangus semua asa, aku ingin menuntaskannya, meski aku tak mengerti cara untuk mengatasi semua realita. Biarkan aku menyapa sunyi, meski terkadang dibilang congkak dan pecicilan, itu mengapa aku menikmati kesendirian. Pahit dan manis telah menjadi kopi, aku menyeduh dan diaduk oleh aroma menggiurkan lidah, namun tak bisa menutupi keburukan api. Panas di lidah manis mengecap air cinta, aku mendamba menatap semua duka dan bahagia. Ah, sudahlah. Aku tak pantas berbicara seperti itu, ‘kan aku penipu. Diam saja, dan berlalu. Akan tetapi, aku harus menjadi angin yang menghembuskan masa lalu, dan air kesunyian yang menjadikan keabadian. Teruslah bercerita dan jangan menjadi pilu.
Brebes, 20 Desember 2024