Menengguk Pahitnya Bercerita: Puisi Kang Thohir

Menengguk Pahitnya Bercerita: Puisi Kang Thohir

87

Menengguk Pahitnya Bercerita

Kang Thohir

Berita Lainnya

Terkadang aku ingin meraup semua cita-cita, tapi tak ada hingga kusambut dengan cinta. Hanya mengangguk pada sebuah sandiwara, namun menengguk pahitnya bercerita. Aku hanya seorang pendosa di balik tubuhku yang penuh noda, tapi tak ada yang sudi membersihkan jiwa. Hangus semua asa, aku ingin menuntaskannya, meski aku tak mengerti cara untuk mengatasi semua realita. Biarkan aku menyapa sunyi, meski terkadang dibilang congkak dan pecicilan, itu mengapa aku menikmati kesendirian. Pahit dan manis telah menjadi kopi, aku menyeduh dan diaduk oleh aroma menggiurkan lidah, namun tak bisa menutupi keburukan api. Panas di lidah manis mengecap air cinta, aku mendamba menatap semua duka dan bahagia. Ah, sudahlah. Aku tak pantas berbicara seperti itu, ‘kan aku penipu. Diam saja, dan berlalu. Akan tetapi, aku harus menjadi angin yang menghembuskan masa lalu, dan air kesunyian yang menjadikan keabadian. Teruslah bercerita dan jangan menjadi pilu.

Brebes, 20 Desember 2024

Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat ‘tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan