Monyet-Monyet: Cerpen Mohd. Nasir

134

Ini adalah kampung monyet. Kampung yang dihuni oleh sekumpulan monyet-monyet. Tak ada binatang lain di kampung itu. Kusebut monyet-monyet karena bentuk monyet yang hidup di kampung monyet itu beraneka rupa dan bentuknya. Tapi yang namanya monyet tetap juga monyet.
Monyet di kampung monyet ini punya aturan-aturan yang sudah diciptakan sejak dulu kala. Oleh karena aturan itu sifatnya turun-temurun, para monyet itu patuh dan taat. Mereka jalankan sebaik-baiknya. Sepenuh hati. Bila ada yang melanggarnya, langsung diberikan sanksi.
Zaman terus berubah. Lingkungan tempat tinggal monyet itu tidak lagi mendukung monyet-monyet itu untuk bertahan dengan aturan-aturannya. Oleh sebab itu, beberapa ekor monyet mengajukan usul kepada tengkuangnya. Tengkuang itu ada raja monyet.
“Kita revisilah lagi aturan-aturan kita,” kata seekor monyet betina yang paling tua di kampung itu.
“Aturan yang mana dan pasal mana?” tanya tengkuang.
“Pasal tentang tempat tinggal. Masa kita diwajibkan hidup dalam hutan. Sedangkan hutan kita sudah habis.’
“Lagi?”
“Pasal tentang makanan. Masa kita harus mencari makan dalam hutan.”
“Ada lagi?”
“Tu, pasal tentang perkawinan.”
“Habis?”
“Itu saja dulu.”
“Kapan kita bersidang?” tanya tengkuang.
“Tiga hari lagi. Kita siapkan materinya secara matang agar dalam sidang nanti kita tidak becekau macam dulu.”
Tibalah masa sidang yang sudah sepakati tiga hari yang lalu. Semua monyet di kampung monyet itu sudah berkumpul satu jam sebelum sidang dimulai. Tak ada yang terlambat atau sengaja datang lambat. Cuma mereka bebas memilih mau duduk di mana. Boleh di atas pohon. Boleh duduk di tanah. Atau di mana maunya. Yang penting waktu sidang tak boleh macam-macam. Jika ada yang macam-macam, dia akan dikeluarkan dari peserta sidang.
Sidang perdana para monyet itu pun dimulai. Diawali dengan pidato para ketua monyet. Waktu yang diberikan paling lama 1 menit. Lewat dari 1 menit, langsung dihentikan oleh pemimpin sidang.
“Saudara-saudata yang terhormat. Dipersilakan kepada Sang Ketua dari kelompok lutung,” kata pimpinan sidang.
Ketua lutong berdiri. Dia saat itu berada di dahan kayu marpoyan. ” Saya cakap tak banyak. Satu ja usul dari kelompok kami. Ubah pasal yang mengatur tentang perkawinan. Bolehkan kami kawin dengan monyet lain.”
Begitu ketua lutung itu selesai menyampaikan usulannya, para monyet yang selain lutung berdiri. Mereka monolak pasal tentang perkawinan itu diubah.
“Kami tak setuju.”
“Kami juga.”
“Pasal itu tak boleh diubah.”
“Kalau diubah, kami keluar dari sidang.”
“Ingat, Ketua Sidang. Jangan diterima.”
Sidang jadi kacau. Beberapa ekor monyet melompat-lompat ke sana-sini dari pohon ke pohon. Ada yang turun naik. Ada yang mencibir.
Ada pula yang menggoyang-goyang pohon. Ribut. Benar-benar ribut.
“Perhatian, perhatian. Tenang! Tenang.” Pempinan sidang berteriak-teriak kuat-kuat. Berulangkali. Tidak ada yang mempedulikan, kecuali lutung.
“Coba beri alasan, kenapa pasal itu tak boleh diubah?” terdengar pimpinan sidang bertanya lantang.
“Kami tak mau keturunan kami hitam seperti lutung.”
Tiba-tiba ketua lutung angkat tangan. Dia mau mengajukan usulan.
“Silakan!” kata pimpinan sidang.
Ketua sidang, kami ada usul.”
“Lanjut.”
“Kami mau kawin sebentar. Jadi, sidang ini kita skor 10 menit.”
“Usulan diterima.”
Usulan lutung minta waktu 10 menit adalah salah satu strategi untuk memuluskan usulannya. Lutung maklum sekali, sesama monyet dia tahu kesukaan para monyet. Karena itu pula, ia menyuruh semua monyet jantan mendekati monyet-monyet betina. Sekedar mendekati saja. Lutung betina jauh lebih banyak dari lutung jantan, maka ketua lutung itu memerintahkan yang didekati lutung yang sudah nenek-nenek. Yang muda-muda tak boleh didekati.
Para monyet yang tadi ribut tidak setuju usulan ketua lutung, mondar-mandir mencari monyet betina yang sama jenisnya. Rupanya jumlah yang betina tak sebanding dengan yang jantan. Para monyet itu meradang, tapi matanya melirik ke lutung-lutung betina yang muda-muda. Setelah sering melirik, monyet itu memberanikan diri, “dikijoknya” lutung yang muda-muda itu.
Lutung-lutung muda membalas dengan mengeluarkan sedikit ujung lidahnya. Monyet-monyet jantan yang sudah kasmaran pada lutung-lutung muda menghentak-hentakkan kakinya. Melenggang lenggok seperti orang berjoget. Ada yang berlari-lari tak keruan seperti orang mabuk.
“Sidang kita lanjutkan,” kata pimpinan sidang setelah hampir 20 menit diskor.
“Tambah 5 menit lagi.”
“Tak bisa.”
“Tiga menit.”
“Tidak bisa.”
“Satu menit.”
“Tidak bisa.”
“Setengah menit.”
“Tapi jawab dulu pertanyaan saya. Apakah usulan tadi bisa diterima?”
Lutung-lutung muda “mengijok-ngijok” monyet-monyet jantan yang sudah mabuk melihatnya. Sementara sidang sedang berlangsung. Sedang menunggu persetujuan usulan ketua lutung.
“Bagaimana? Bisa disetujui? Kalau bisa, sidang saya skor 25 menit.” Demikian ucapan pimpinan sidang lantang.
“Setuju..” jawab para monyet jantan gembira sekali. Kemudian monyet-monyet jantan itu mengejar lutung-lutung muda. Lutung-lutung muda secepatnya memanjat pohon. Mencari suaka pada lutung-lutung jantan dan perkasa.
Suasana jadi heboh. Lutung dan monyet berkelahi. Berkejar-kejaran dari pohon ke pohon. Mereka saling cakar. Saling gigit. Saling menjatuhkan.
“Saudara-saudara, mohon bersabar!” Pimpinan sidang berteriak-teriak. Tapi tak dipedulikan. Sudah beberapa ekor monyet dan lutung terjatuh dari pohon-pohon yang tinggi. Ada yang patah kakinya. Ada terkilir tangannya. Beberapa ekor koyak-koyak perutnya tertusuk kayu-kayu runcing.
Suasana semakin gawat. Sepuluh harimau lapar tiba. Dengan mudah ia menerkam monyet dan lutung yang terjatuh. Diterkamnya dan langsung dikoyak-koyaknya dengan gigi dan taringnya yang tajam.
Lutung dan monyet itu tak lagi berkelahi. Perasaannya telah hanncur, luluh. Semuanya meraung-raung. Memekik-mekik minta tolong. Namun tak ada yang bisa menolongnya. Harimau-harimau lapar melahap semua monyet dan lutung yang jatuh berguguran. Darah berserakan di mana-mana.
Tempat sidang itu berubah jadi daerah duka.

Berita Lainnya

Bersinar : Puisi Kang Thohir

Bengkalis, 2020

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan