Menyikapi Kehadiran Chat GPT di Sekolah: Esai Bambang Kariyawan Ys.

153

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kita semua tidak akan mempu membendungnya. Perubahan setiap hari hadir dengan segala inovasinya. Meninggalkan inovasi tersebut berarti tertinggal. Dalam lingkungan pendidikan, inovasi-inovasi berdatangan seperti gempuran yang tidak habis. Hari ini yang sedang ramai diperbincangkan adalah pro kontra akan kehadiran Chat GPT di sekolah. Kehadirannya sangat memanjakan kita dalam mencari berbagai jawaban permasalahan terkait materi pembelajaran.
Chat GPT (Generative Pre-training Transformer) adalah sistem kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence) yang dirancang untuk berinteraksi dalam percakapan berbasis teks. Untuk menggunakannya, pengguna diminta memasukkan pertanyaan, dan AI akan memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan tersebut.
Kita dapat tinggal memasukkan kalimat kunci maka akan terjawab dengan cepat. Dapat berupa definisi dari sebuah konsep, materi-materi yang kita inginkan, data kuantitatif atau statistik, bahkan puisi dan cerpen dapat dijawabnya, serta hal-hal lain yang kita butuhkan.
Sebagai guru, teknologi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan. Tinggal kita menyikapinya. Peluang untuk mendapatkan bahan ajar dengan cepat namun tantangan pula ketika siswa kita teramat mengandalkan aplikasi Chat GPT dalam mengerjakan banyak hal yang diberikan guru. Untuk mengantisipasi ketergantungan dan kehilangan daya juang dan sikap analisis perlu melakukan beberapa hal:
1. Lakukan uji verbal terhadap hal-hal berupa tugas yang dikumpulkan. Melalui uji verbal maka akan terukur tingkat kevalidan tugas yang telah
dikumpulkan.
2. Cek plagiarisme secara manual dan sistem. Secara manual lihat kemiripan tugas antar siswa. Sedangkan secara sistem perlu batas maksimal
tingkat plagiasi.
3. Lakukan pembiasaan konvensional dengan menyediakan referensi standar yang tersedia di perpustakaan atau dalam kelas untuk mereka membuka
lembaran-lembaran halaman referensi yang tersedia. Uji secara bergiliran terhadap bacaan konvensional pada setiap lembaran yang berbeda.
4. Sesering mungkin melakukan uji praktikum di labor atau project based learning. Dengan basis kinerja tersebut akan meminimalisir penggunaan
yang tidak tepat dalam proses pembelajaran.
Cara-cara lain tentunya tergantung kreatifitas guru dalam mengikuti, menyaring, dan menyikapi gempuran teknologi itu. Namun yakinlah ada hal yang tidak akan tergantikan oleh kecerdasan buatan yang canggih sekalipun untuk seorang guru yaitu keteladanan. Sudahkah kita menjadi guru teladan?

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan