
Adham, adalah seorang sosok tua yang tinggal pada suatu pondok di sebuah desa. Setiap anak-anak pasti takut dan tunduk malu padanya. Selain itu tak sedikit orang disekitarnya ramai bercerita akannya.
Ya, Adham Pria kelahiran Tasik Malaya alumni UI Depok Jakarta adalah sesosok pria pintar dan bijaksana. namun dibalik itu semua tersimpan suatu sosok yang menyeramkan dan menakutkan, sampai-sampai dia harus hidup seorang diri dan menguruskan sesuatunya serba sendiri.
Saat masih menuntut ilmu pengetahun di perguruan tinggi, Adham adalah seorang mahasiswa yang tekun belajar memperdalam ilmu eksak yakni ilmu matematika. Ia dengan tekun dan bekerja keras untuk menyelesaikan studinya sehingga ia diangkat oleh pemerintah sebagai seorang guru dengan status ASN yang harus bekerja mencerdaskan anak bangsa agar tidak lagi menjadi seorang anak yang bodoh atau dungu serta tidak mudah diperbodoh-bodohi oleh orang lain.
Di desa Karang Anyer (Bukan Nama Sebenar). Adham ditugaskan mendidik anak-anak dari penduduk desa itu agar mampu berpikir kritis dan dapat memahami masalah serta menyelesaikannya dengan terlebih dahulu mengetahui bagaimana proses masalah itu bisa jadi.
“Anak-anak hari ini kita akan mulai belajar ilmu matematika, maka yang terpenting menurut saya untuk memahami lebih dalam suatu ilmu, kita harus lebih dahulu mengetahui dan mendalami akan prosesnya mulai dari awal hingga akhir secara komferhensif”. Ungkap Adham memulai proses belajar.
“Selama ini kita ketahui bahwa 1 + 1 adalah 2, maka saat ini yang terpenting bukan hasilnya, yang saya inginkan dari 1 + 1 adalah sama dengan 3 – 1 atau 4-2 atau 2 x 1 dan sebagainya. Maka apabila proses dari hasil ini bisa kita ketahui, maka seluruh hitungan yang hasilnya serupa dapat kita selesaikan”. Adham lanjut menjelaskan.
Budi murid yang duduk di kelas 6 SD dan juga merupakan siswa terbaik di desa itu merasa bingung dan sedikit gagal paham, karena selama ia menuntut ilmu belum pernah ada seorang guru pun yang mengajarkan seperti yang diungkapkan oleh Adham sang Alumni UI Depok Kota Jakarta itu.
Budi memiliki 6 teman akrab. Sehari-hari ia bermain dan hidup bersama di Desa Karang Anyer.
Ton.. apakah kamu paham dan mengerti apa yang dikatakan oleh Pak Adham tadi di sekolah, selama kita belajar belum pernah saya menjumpai ilmu matematika yang pembahasannya 1 + 1 adalah sama dengan 2 – 1, 4 – 2 atau 3 – 1, biasanya pasti 1+1 adalah sama dengan 2 bahkan √4 sekalipun hasilnya adalah 2.
Iya Bud aku pun tak paham apa yang diajarkannya, yang saya takutkan Pak Adham itu nantinya akan menjadi orang yang sering marah-marah dan akan ditakuti oleh setiap murid hanya karena gagal paham dari apa yang ia ajarkan. Pening kepalo aku bud.
*******
Suatu hari pak Adham mengajari muridnya dengan caranya tadi di atas, hasilnya banyak anak-anak yang cuma kebingungan dan al hasil ribut di kelas dan lari-lari sambil bermain-main di kelas.
Pak Adham: anak-anak berapakah hasil dari perkalian 12X12 ???..
Anak-anak: 144 Pak …
Pak Adham: “Goblok” saya bukan minta hasilnya, yang saya maukan prosesnya.
Anak-anak pun akhirnya merasa bingung dan bermain sambil membuat keributan di kelas.
Akhirnya lonceng sekolah pun berbunyi menandakan jam pelajaran habis dan anak-anak harus pulang ke rumah masing-masing.
Toni: Bud paham dak dikau apa yang dicakapkan pak Adham tadi….. 12 X 12 jawabannya berapa ???
Iya Ton (Toni) dijawab 144 pun dikatanya bukan itu padahal aku dah pakai kalkulator sekalipun pasti hasilnya 144.
Budi: Entahlah apakah sekarang 12 x 12 hasilnya sudah tidak 144 lagi…. atau kalkulator sekarang sudah salah penciptaannya.
Toni dan Budi : hahahahahahaha.
**********
Teknik dan tata cara pengajaran oleh pak Adham pun kini tersebar luas sampai ke Kepala Dinas Pendidikan Kota Karang Anyer. Imron adalah Kepala Dinas yang ilmunya melebihi dari pak adham. Mendengar teknik mengajar pak Adham, Imron hanya geleng-geleng kepala tapi ia tak pula menyalahkan, karena apa yang disampaikan oleh Ahdam itu juga ada benarnya. Selaku Kepala Dinas Imron Akhirnya memutasikan Pak adham ke Sekolah Tinggi Ilmu Eksakta Kota lain karena di desa itu pada umumnya masyarakat belum mampu menerima ilmu dari yang diajarkan oleh pak Adham dengan pola pikirnya yang telah jauh melampaui kemana-mana. Wallahu’alam
Bengkalis, 22 November 2024
Hendrizon Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024 -2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 6561 9584