Perahu Kata : Puisi-puisi Sultan Musa – Lelaki dan Pesan Laut

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

LELAKI  DAN PESAN LAUT

Menyapu  pandangan  permukaan  laut
rasakan  cerah  cuaca  menyengat
dibibir  laut  matahari  berbisik
datang dan tapakilah
Sengaja  lelaki  ini
Berada disini,  selepas gulana yang  melanda
Merentas  pundaknya,  tersampir  resah  mendalam
Seakan  pengorbanannya dipecundangi
……..pecah  tak  terawat
Sebuah  jejak  perjalanannya  diperlintasan
…….membisu  kesepian
Dalam  perenungan  seluas  lautan,
menyisakan  janji  ditautkan
jangan  membenci  dirimu  terlalu  dalam’
Lelaki  ini, miliki jiwa  seluas  lautan
tanpa  disadari,  disematkannya  kenangan  kelam
yang  belum dilarung….
menyimpan  resah  melengking
dan  sedih  mengumandang
Kini, telah  usai
sadar  resah gulana  itu
tidak  sebanding  dengan  luas  lautannya
Jiwa luka,  menguras  impian
…..menutupi  luas  lautannya
Jiwa sunyi, mengebiri  tanya
…..merampas  luas  lautannya
Setelah  mampu  memeluk  kembali  lautannya
lelaki ini menyulam  ria dalam  kebahagiaan
Dibawah  pohon  Santigi,  menjawab  semua  kesedihan  dan  airmata
Dan  pesisir  laut  itu berkata
hadapi  dan  tersenyumlah’

#2021

KATA  YANG  SEDANG  DIRANGKAI

senampan  harum  kamboja
ranum  pesan  melanda
yang  bertaut  ranting  makna
getaran  putik  tercipta
dengarlah,  relungan  asa
beradu  penuh  mekar  bahagia
taburlah,  lukisan  kata
bersemai  hatur  alu  pesona
rauplah,  tuturan  aksara
berkelana  candu  ladang  cahaya

#2021

NONA DAN SEIKAT BUNGA MERAH

Jendela  cerah  berbicara  baik
mengantarkan  simpul  hari  seribu  tujuan
dan  hari  ini Nona  masih  ingat cara  untuk  tersenyum
bersama  pemandangan  merinai  apik
Meja  sederhana  berteman  retak
tersaji  secangkir  teh  bersama  pujian  manis
dan  Nona  masih  rela  menyesap  aromanya
meski  takkan  kembali  berkabar  utuh
Seikat  bunga  merah,
ditempatkan  Nona  di antara  peraduan  ruang
tersimpan  baik,  meski  telah  layu  sebagian
memantaskan  diri,  walau  merahnya  perlahan  pudar
Sesekali  Nona  menatap  seikat  bunga  merah  ini
dari  pantulan  cermin  berbingkai kayu,  mengatakan :
Ada  penantian  pasti  berakhir  di  titian  temu
meski  malamnya  buka  ruang  rindu,
terus  menikmati  sendiri  di sisi  sepi
…..sembari menunggu  kabar  dari  hati
yang  tak  kunjung  bertamu
……selalu menembangkan  aksara  dari  puisi
yang  tak  terangkai  menyatu
Syahdu  Nona  berlayar  dalam  asa,
yang  ditimpakan  pada  seikat  bunga  merah
alunan  saka  hati  yang  tak  berujung
bahkan  bergelut  “belum  selesai”  dari  masa  lalunya.

#2021

SEDAYA  DATANG  DAN  PERGI

Sebuah  sinar memancar
dari  sebuah  cerita  pada  apa  yang  datang
sinar  ini  hadir  bukan  tanpa  alasan
karena  bersamanya  ada  lantunan  harapan
Sebuah  cahaya  memantul
sejak  kesunyian  pada  apa  yang  pergi
cahaya  ini  ada  bukan  tanpa  jawaban
mungkin  dengannya  jiwa  bebas  yang  tak  terlupakan
Sedaya  memaknai  lebih  dalam….
upaya “berkawan” pada yang  datang
dan “menerima”  pada  yang  pergi
mana  yang  menemanimu  pulang
…..datang  atau  pergi  ?
mana  yang  merajut  niscayamu
….pergi  atau  datang ?

#2021

SORAI BERHEMBUS  PADA LAUT
; catatan  kecil  seorang  lelaki  pelaut

Tersimpan banyak sabda
Menyapa erat di sukma
Menyatu tanpa suara
Merangkul kabut rasa
Seakan mengajak bicara
Terlihat ruang lega
Menyelipkan sayup damba
Walau menahan lelah curiga
Bersimbah angan tak berdaya
Derap gelap menyisakan hampa
Hangatnya  kadangkala  mengunyah  nelangsa
Menyusuri  berapi – api  terbuai  warna
Setidaknya  ada  yang  terbaca
Walau  semu  membeku  di raba
Menggerutu  tak  kunjung  jumpa
Tak  pernahkah ada
Ternyanyikan  perapian  nada
Bahwa, di laut  banyak  tersimpan doa
Bertalian  pada  satu  nama
Kepada  Ilahi  Sang  Maha  Penguasa

#2021

Biodata : SULTAN MUSA berasal dari Samarinda Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar diberbagai platform media daring & luring. Serta karya – karyanya masuk dalam beberapa Antologi bersama penyair Nasional & Internasional. Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Merupakan 10 Penulis Terbaik versi Negeri Kertas Awards Indonesia 2020. Karya tunggalnya “Candramawa“(2017), “Petrikor“(2019), “Sedjiwa Membuncah“(2020) & versi e-book “Mendjamu Langit Rekah” (2020), terbaru di  2021 “Titik  Koma“. Dan dia masih terus belajar menulis. Untuk berkomunikasi dapat melalui IG : @sultanmusa97

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan