
Pengalaman Dramatik Mewawancarai Datin Dr. Wan Azizah Wan Ismail, Istri Datuk Anwar Ibrahim (Bagian Kesatu dari 2 Tulisan)
Pengalaman Dramatik Mewawancarai Datin Dr. Wan Azizah Wan Ismail, Istri Datuk Anwar Ibrahim (Bagian Kesatu dari 2 Tulisan)
SESAMPAI di Kuala Lumpur petang hari tahun 1999, Pak Haji Mulyadi -saya akrab memanggilnya Pak Haji- langsung bilang: “Nas, nanti habis Maghrib kita ke kediaman Datuk Anwar Ibrahim di Taman Damansara.”
“Tapi kita belum ada janji untuk datang, Pak Haji,” respon saya.
“Kita langsung saja ke sana…, tak ada masalah,” kata Pak Haji lagi.
Pak Mulyadi adalah wartawan senior Suara Pembaruan. Beda usia kami terpaut jauh tapi kami sudah akrab sejak lama dan pergi meliput berbagai iven bersama baik di dalam maupun luar negeri.
Keberangkatan kami ke Malaysia selain kemauan sendiri ditambah penugasan oleh Gubernur Riau, H. Soeripto. Keseriusan Pak Haji dalam setiap perjalanan di luar kota, selalu membawa mesin tik portabel ukuran kecil. Era itu belum lazim adanya komputer apalagi laptop.
“Nak kemane, Ncik?, tanya supir setelah kami di dalam taksi.
“Antar kami rumah Datuk Anwar ke Taman Damansara,” sahut Pak Mul.
“Iyekah? Itu tempat orang-orang besar kerajaan, Ncik.”
“Ya, antar kami ke sana,” suara Pak Mul lebih tegas.
Sejenak supir terdiam kemudian berucap:
“Terus terang, Ncik, sudah lebih 25 tahun saye bawa teksi ini, belum pernah saya mengantar tamu ke sane…Baru inilah pertama kali,”
Setelah hampir setengah jam kemudian, taksi memasuki kawasan Taman Damansara. Ada sebuah rumah yang dikelilingi 30-an orang berpakaian biasa. Tak ada yang memakai baju dinas polis atau satpam. Di depan rumah ada tiga taksi berjajar seolah standbye.
“Nas, nanti kita ucapkan salam saja. Jangan ragu-ragu. Mereka petugas keamanan, bisa polisi atau tentara,” bisik Pak Mul sambil memasuki halaman rumah yang tanpa pagar itu.
Sekeliling halaman berupa rumput hijau yang terawat rapi dan ada tanaman bunga yang cukup berjarak. Di atas rumput itulah sebagian orang menyebar berjelompok. Ada yang berbaring santai, duduk ngobrol atau berdiri.
Kami terus melangkah dari halaman depan menuju teras belakang yang berjarak sekitar seratus meter.
“Assalamualaikum…,” ucap kami sambil mengangkat tangan tanda tabik.
“Waakaikum salam, sile, Ncik” jawab sejumlah orang yang kami lewati.
Mungkin ada tujuh kali kami mengucap salam dan akhirnya sampai di teras belakang. Rasa percaya diri Pak Mul memang luar biasa. Seolah-olah sudah hapal situasi. Selama kami melewati para petugas itu, tak seorang yang mencegat atau menanyai kami Boleh jadi karena Pak Mul memperlihatkan seolah-olah kami keluarga Datuk Anwar Ibrahim atau keluarga istrinya.***