Perjalanan Wisata Puisi Turki (bagian 6): Catatan Hening Wicara

297

Perjalanan Hari ke-6 (Cappadocia)

Pagi itu, usai sholat subuh, kami sudah ditunggu oleh mobil-mobil jeep yang akan membawa kami ke arena balon udara. Agenda ini tak bisa dilakukan setiap hari, karena penerbangan balon udara sangat tergantung pada cuaca. Balon udara hanya bisa terbang jika angin bergerak normal dan tidak sedang hujan.
Alhamdulillah pagi itu cuaca cerah dan angin bersahabat.

Betapa megah dan menawannya langit Cappadocia pagi itu, dengan balon-balon besar mengambang di udara, sungguh indahnya luar biasa, masya Allah!
Kami menyaksikannya tak hanya dengan kedua bola mata, tapi juga dengan perasaan yang belum pernah disentuh kata-kata.

Dan tentu saja panorama tersebut telah menjadi sebuah kenang, yang tak mungkin hilang tak sudi lekang dari ingatan kami para peserta Wisata Puisi Turki.

Jeep yang kami tumpangi pun tak kalah seru. Driver-drivernya sengaja melakukan atraksi uji adrenalin. Mereka kendarai jeep-jeep tsb dengan memilih jalan-jalan yang terjal. Sepertinya sengaja agar kami histeris, hingga tak hanya balon-balon, jeep-jeep mereka pun turut jadi kenangan yang tak kan terlupakan.

Di arena balon udara Cappadocia, dilakukan pembuatan 5 video puisi, yaitu: puisi Si Jelita Haia Sohia karya Nofirza Ganefittria, puisi Rindu Cappadocia karya Sri Hartati, puisi Cahaya Turki karya Nina, puisi Empati Hati karya Fathimah Wafaa, dan puisi Romantika Cappadocia karya Suhaemi.

Kami kembali ke hotel sekitar jam 07.30 pagi, bersiap untuk sarapan dan melanjutkan kunjungan.
Tepat jam 09.00, kami naik bus untuk City Tour di Cappadocia. Hari itu, tempat kedua yang kami kunjungi adalah: Goreme Panorama (Pigeon Valley / Lembah Merpati).

Dari tempat kami berdiri, tampak hamparan lembah begitu indah. Terdiri dari perbukitan batu, dengan tebing-tebingnya berbentuk kerucut, mirip kue kering meringue.
Tempat ini sebenarnya adalah kompleks gereja dan biara yang berasal dari abad ke 11. Dibangun dari bebatuan lunak khas Cappadocia. Kini kawasan tersebut tidak lagi berfungsi sebagai gereja, melainkan sebagai museum saja.

Di Lembah Merpati, dilakukan pembuatan 4 video puisi, yaitu: puisi Selamatkan Turki karya Tuti Tarwiyah Adi, puisi Edorgan, Meniti Jalan Sepi karya Sam Mukhtar Chaniago, puisi Doaku Untukmu karya Sri Tresnowati, dan puisi Kuterka Turki karya Hening Wicara.

Dari Lembah Merpati, kami menuju Lembah Fantasi. Hampir sama dengan tebing dan bebatuan di Lembah Merpati, hanya saja bebatuan di Lembah Fantasi ini lebih unik. Bentuknya beragam, ada yang seperti unta, seperti burung, seperti jamur, dan ada pula yang seperti ibu dan anak sedang berpelukan. Sungguh, luar biasa indahnya.

Di Lembah Fantasi ini, rombongan Wisata Puisi melakukan test pembacaan puisi bersama per kelompok, sebagai latihan untuk agenda puncak pentas puisi Turki. Ada dua kelompok. Dan keduanya membawakan puisi karya Jalaluddin Rumi. Puisi kelompok satu berjudul: Pukulan dari Langit, dan puisi kelompok dua berjudul: Hanya Engkau

Sungguh, kami tak menyangka, turis-turis yang juga sedang mengunjungi Lembah Fantasi turut menonton latihan perdana kami.
Mereka memperhatikan, menyimak, bahkan ada yang merekam dari awal hingga akhir kami latihan.
Barangkali mereka mengira kami sedang perform atau sedang ngamen.
Sayang sekali tidak ada dari kami yang berinisiatif menjalankan kencleng. Padahal kan lumayan ya buat nambah lira, hahahaa.

Dari Lembah Fantasi, kami menuju sebuah bangunan prasejarah bawah tanah, dimana awalnya tempat ini adalah gua batu yang dipahat sendiri oleh para pelarian ketika dulu perang masih berkecamuk.

Di dalam bangunan bawah tanah itu udara terasa sejuk, berbeda dengan hawa di luar karena Turki saat itu sedang musim panas.
Kami melihat ada ruangan yang berfungsi sebagai dapur, juga ada yang berfungsi sebagai gereja, bahkan konon mereka juga menyimpan ternak di jalur lorong pelarian itu.
Kami merinding membayangkan bagaimana para pelarian itu bisa hidup di bawah tanah bertahun-tahun. Salut!

Selanjutnya, kami dibawa ke Galery Permata (Turqouise Stone Handicraft). Di tempat ini, mata kami disajikan aneka perhiasan yang terbuat dari emas dan bebatuan khas Turki. Sungguh indah, namun terhadap dompet harganya kurang ramah.
Melihat harga aneka batu permata yang terpajang rapi di etalasenya, penulis jadi teringat kata-kata Rumi:

“Mari kita buat permata dari hati yang membatu, dan biarkan ia membawa kita melesat cepat laksana kilat, menuju Cinta”.

Selanjutnya, kami mengunjungi Turkish Carpet Factory. Kami tak menyangka kalau karpet-karpet Turki yang paling top sedunia itu ternyata bukan pabrikan, melainkan asli buatan tangan.
Sebuah karpet menghabiskan waktu sekitar 3 bulan pengerjaan hingga selesai.

Berita Lainnya

Dan menyaksikan tangan wanita-wanita Turki pembuat karpet itu memainkan aneka benang di hadapannya, sungguh kagum kami berdecak bagi Sang Maha, yang telah mengijinkan karpet-karpet indah tercipta melalui tangan-tangan lemah yang tabah. Masya Allah!

Hari itu, kami sampai di hotel jauh lebih awal dari biasanya. Ini sengaja direncanakan panitia mengingat di hari tersebut aktivitas kami juga dimulai lebih cepat, sebelum matahari bangun kami sudah berangkat.

Malamnya, peserta pentas puisi kelompok dua yang dikoordinir oleh Hening Wicara, melakukan latihan pembacaan puisi bersama, dibimbing langsung oleh ketua rombongan Wisata Puisi Turki, Asrizal Nur (bang Asnur).
Latihan malam itu dimulai sekitar pukul 21.30, usai sholat magrib.

Ohya, saat kami berada di Turki, jadwal sholat memang jauh berbeda dengan di Indonesia, terutama Magrib dan Isya.
Karena di Turki saat itu, waktu siang lebih panjang daripada waktu malam. Magrib di Turki jam 20.45 waktu setempat. Sedangkan waktu Isya jam 22.30. Sementara waktu Subuh nya lebih cepat dibanding di Indonesia, yaitu jam 03.45.

Bayangkan, jarak antara sholat Isya ke sholat subuh di keesokan harinya hanya 5 jam. Sedangkan kita di Indonesia, rata-rata selisih Isya ke Subuh adalah sekitar 9 jam.
Sungguh, saat membahas ini, penulis jadi teringat sebuah kalimat Rumi: “Keluar dari lingkaran waktu, masuk ke lingkaran Cinta”.

Berikut puisi yang dibawakan oleh Kelompok Dua dalam latihan bersama di belakang hotel malam itu, berjudul: Hanya Engkau

Dari seluruh semesta
Hanya Engkau saja yang kupilih
Apakah Engkau akan membiarkanku duduk bersedih?

Hatiku bagaikan pena
Dalam genggaman tanganMu
Engkaulah sebab gembiraku, atau sedihku

Kecuali yang Engkau kehendaki, apakah yang kumiliki?
Kecuali yang Engkau perlihatkan, apakah yang kulihat?

Engkaulah yang menumbuhkanku:
ketika aku sebatang duri
ketika aku sekuntum mawar
ketika duri-duriku dicabut

Jika Engkau tetapkan aku demikian,
maka demikianlah aku
Jika Engkau kehendaki aku seperti ini,
maka seperti inilah aku

Di dalam wahana, tempat Engkau mewarnai jiwaku:
siapakah aku?
apakah yang kusukai?
apakah yang kubenci?

Engkaulah yang awal
Dan kiranya Engkau akan menjadi yang akhir
Jadikanlah akhirku lebih baik daripada awalku

Ketika Engkau tersembunyi,
aku seorang yang kufur
Ketika Engkau tampak,
aku seorang yang beriman

Tak ada sesuatupun yang kumiliki
Kecuali yang Engkau anugerahkan
Apakah yang Engkau cari, dari hati dan wadahku?

Jalaluddin Rumi, abad 13

(bersambung)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan