Membaca judul buku ini “Eufoni”, membuat kita penasaran untuk berselancar mencari makna kata tersebut. Ternyata eufoni diartikan kombinasi bunyi yang dianggap enak didengar. Penyair dalam pengantarnya ada menggarisbawahi “walaupun ada penyair dan sastrawan mengatakan, “ini belum begitu puisi” namun penyair terus membunyikan kata-kata yang menurutnya enak dinikmati dan lahirlah Eufoni: Kumpulan Puisi karya Mas Sitti Sya. Penegasan dari penyair dalam sebaris puisinya tentang judul:
“Dan kutau kau sangat menikmati eufoni dalam simponi yang kumainkan”
Sejumlah 73 puisi sebenarnya adalah bunyi suara-suara batin penyair karena dalam tubuh penyair adalah sebenar puisi. Sejumlah puisi yang berbicara tentang itu tergambar dari larik-larik pilihan berikut:
Aku adalah laut puisi yang riaknya tenang kala senja tiba di waktumu
Aku adalah laut puisi yang ombaknya ingin menggulung samudera pikirmu
Aku adalah laut puisi yang ingin menikam nadimu dengan syair-syairku
Penyair mampu meramu kata dalam repetisi yang kuat serta menjaga bunyi dan rima dalam setiap puisinya. Ciri khas dari warisan kemelayuan benar-benar telah merasuki diri penyair sebagai jati diri orang Melayu. Lihatlah puisinya:
amukku telah dibungkam oleh kecipak riaknya
amukku telah lunglai dijinak belainya
amukku telah punah dijambak harunya
Beragam tema yang diangkat memberi warna bunyi dalam eufoni ini. Bunyi reliji, bunyi asap, bunyi corona, serta bunyi-bunyi rasa lainnya. Salah satu kekuatan puisi ini hadirnya kembali kata-kata lama yang dimunculkan lagi: “menyanggal”, “pelanta”, “sadai”, “nunam”, “lampus”, “masai”, “seligat”, “telap”, “cungap”, “desau”, “lampus”, dan sederet kata arkaik yang lainnya. Kata-kata tersebut menjadikan kedahsyatan dalam puisi yang dibunyikan.
asap berseligat
pekat
entah bila lesap
kami sudah tak telap
mengisap asap
terperangkap gelap
nafas mencungap
api masih melalap
lahap!
Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan