Perjalanan Wisata Puisi Turki (bagian 8): Catatan Hening Wicara

192

Perjalanan Hari ke-8 (Pentas Puisi di Selat Bosphorus)

Pagi itu adalah pagi istimewa bagi kami para peserta Wisata Puisi Turki. Karena kami akan tampil di negeri orang dengan pakaian khas daerah masing-masing. Ada yang memakai baju teluk belanga, baju kurung, kebaya, baju adat Nusa Tenggara, baju dayak, dan ada juga yang memakai baju batik khas Indonesia.

Ya, kami melakukannya untuk acara puncak Wisata Puisi Turki, yaitu: Pentas Puisi di atas kapal pesiar yang berlayar di selat Bosphorus.

Acara puncak tersebut, diawali dengan kata sambutan, baik dari pihak PERRUAS sebagai penyelenggara (Asrizal Nur), maupun dari pihak TURKI sebagai tuan rumah.

Tantri Subekti penyair asal Riau bertugas sebagai MC, dan bergiliran puisi-puisi dibacakan oleh para penyair ternama tanah air, sbb: Asrizal Nur, Sam Mukhtar Chaniago, Danny Susanto, Tuti Tarwiyah Adi, Galang Asmara, Tantri Subekti, Lily Multatuliana, dan Husnu Abadi membawakan puisinya yang berjudul:

Menetes Air Mataku di Selat Bosphorus

Menetes air mataku di selat ini
Setengah abad yang lalu
Ketika aku anak-anak
Mengaji juz Amma di sebuah surau
Guru ngaji itu berkisah
Tentang seorang anak muda
Seorang sultan muda
Yang membaca sebuah hadist suci
Bahwa suatu masa barat akan hormat pada negeri timur

Menetes air mataku di selat ini
Berdiri di samping tembok benteng berlapis tiga
Setelah para sultan gagal berkali-kali
Untuk menyapa benteng Konstantinnopel
Namun
Akhirnya sampai juga
Sultan muda itu berjalan tawadhu di jantung kota
Dengan strategi dan doa
Dengan taktik dan ikhtiar
Dengan persenjataan dan sholat malam

Menetes air mataku di selat ini
Mengingat engkau penuh seluruh
Sang sultan muda
Al Fatih namanya
Tahun 1453 kejadiannya
Kuremas makammu sebagai penanda kerinduan
Kerinduan akan masa silam
Sekaligus kerinduan akan lahirnya
Al Fatih di abad ini
Menetes air mataku di selat ini

Selat Bosphorus, April 2019 – 2020

Puncak pentas puisi Turki adalah Launching Buku Antologi Puisi “Doa untuk Turki”, yang ditulis bersama oleh para peserta Wisata Puisi sebelum berangkat ke Turki. Masing-masing peserta mengirimkan minimal dua puisi

Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi bersama oleh kelompok satu dan dua secara bergantian. Puisi penutup adalah puisi kelompok dua yang pembacaannya diawali dengan syair oleh Winda Harniati penyair asal Siak Sri Indrapura (Riau) yang suaranya begitu merdu. Ia pernah mendapatkan penghargaan Pelaku Maestro Syair dari Kemdikbud RI sebagai warisan budaya tak benda tahun 2018 lalu.
Berikut bunyi syairnya:

Dengan bismillah
Bermula madah
Muhibbah budaya syair berkisah
Indonesia – Turki jalin muhibbah
Semoga menjadi amal ibadah

Sebagai penutup keseluruhan agenda di atas kapal pesiar tersebut adalah Lomba Putri Indonesia ala PERRUAS
Yang menjadi peserta adalah seluruh perempuan rombongan Wisata Puisi yang sudah berbusana daerah. Sedangkan yang menjadi juri adalah pihak tuan rumah (Turki), 3 orang dan semuanya laki-laki.

Di ujung acara, juri mengumumkan pemenangnya, yaitu:
Juara 1: Suhaemi pakaian adat Lampung
Juara 2: Rosidah pakaian adat Nusa Tenggara Barat
Juara 3: Fatimah Wafaa pakaian adat Jambi

Saat hendak meninggalkan kapal, kami kembali dikejutkan oleh berita tentang ponsel salahsatu peserta Wisata Puisi. Kali ini bukan hilang, melainkan jatuh ke dalam perairan selat Bosphorus saat pemiliknya (Yenny Satriani) hendak turun melewati tangga kapal.

Dengan sigap, awak kapal memanggil team penyelam Turki untuk turun ke perairan selat Bosphorus itu guna menyelamatkan ponsel kak Yenny.
Dan alhamdulillah, ponsel mahal tersebut dapat kembali ke tangan pemiliknya.
Meski sedih, karena ponselnya tak bisa digunakan lagi, namun kak Yenny punya trik yang unik dalam menyikapi kondisi tersebut.

Ia mengistilahkan ponselnya yang jatuh itu sebagai ‘kekasih yang sedang sakit’. Dan dua hari sekali di-upadate-nya info terkini terkait kondisi kekasihnya itu di grup WA kami. Juga diagnosa-diagnosa apa saja yang hendak dilakukan oleh dokter dalam menangani kesembuhan kekasihnya itu. Termasuk berapa perkiraan biaya yang harus dikeluarkan.
Tak hanya pengobatan saat masih berada di Turki, tapi juga setelah ia kembali ke Duri (Riau), kota asalnya.

Kata-kata yang digunakan kak Yenny dalam mengungkapkan penanganan ponselnya itu sungguh bikin hati kami campur-aduk, antara sedih, lucu, haru, dan tentunya kami turut bahagia saat akhirnya ponsel tersebut dapat beroperasi kembali dengan sempurna. Alhamdulillah.

Bahkan, Yenny Satriani telah mengabadikan kejadian ini dalam sebuah puisi yang berjudul:

Setitik Duka di Selat Bosphorus

Tak semestinya tetes airmata ini kujatuhkan
Saat kecantikan alam menyelimuti hati
Harusnya ada tawa panjang
karena wewangian bahagia mengharumi perjalanan impian
Ada dua benua menyambut ramah kedatangan; Eropa dan Asia
Yang menyulut decak kagum negri indah kota Istanbul.

Akan tetapi di balik itu,
tetes airmata disulut duka.
Riak selat bosphorus mengejutkanku, menyentak kekasih di genggaman erat tangan
Dia terjatuh dalam kepasrahan
di kedalaman selat Bosphorus
Tangisku pun memecah di terik siang

Di tepian selat itu,
Jeritku menghamba meminta tolong
Selamatkan kekasihku…
Selamatkan kekasihku.
Dia nyawaku
Dia hidupku
Kenangan indah selama perjalanan di Turki ada padanya.

Selamatlah jua sang kekasih.
Harapku meninggi semoga kekasih tiada tergores luka
Tetes airmata berubah makna
Yakni bahagia.
Selat Bosphorus turut membentang senyum
Sembari ditingkah hangatnya mentari
Padahal semula selat itu mencoba merenggut kekasihku
Ini sejarah pertama kali di dunia, bisikku.

(Istanbul,Turki Juli 2023)

Usai agenda pentas puisi, kami makan siang di sebuah restoran nusantara. Sungguh, lidah kami yang sejak keberangkatan harus bersilat dengan makanan bercitarasa Turki, siang itu dimanja oleh selera leluhur.
Sungguh kami begitu terhibur dan mengucap banyak syukur.

(bersambung)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan