

Cerpen ini memiliki daya estetik yang kuat, juga memiliki isu yang pelik untuk diangkat.
Saya beranggapan bahwa simbol-simbol dalam cerita ini mewakili pertarungan antara dua pemikiran yang berbeda mengenai bagaimana seseorang memandang kesucian.
Sekilas cerpen ini tampak bercerita tentang seorang penyair yang ingin tubuhnya abadi beraroma nilam. Namun menurut saya, konflik besar cerita ini mengenai pertarungan antara agama normatif dan imajinasi estetik.
Mahzan meyakini bahwa puisi dan aroma dapat menjadi jalan menuju Tuhan. Ustaz Mahdi memegang hukum lahiriah. Secara konseptual, ini menarik karena tidak menjadikan ustaz sebagai tokoh jahat maupun Mahzan sebagai tokoh suci. Keduanya sama-sama yakin sedang membela kebenaran.
Sayangnya, setelah konflik itu dibangun dengan baik, cerpen tidak mempertahankan ketegangan tersebut.
________________________________________
Titik lemahnya ada pada babak akhir
Ketika Mahzan meninggal, narasi mulai berpindah dari wilayah simbol menuju wilayah mukjizat.
Orang-orang mendengar suara dari aroma.
Mantan tentara kembali salat.
Puisi keluar dari guci.
Rumah terbakar tanpa api.
Nilam tumbuh sendiri.
Angin membawa suara Mahzan.
Semua keajaiban itu terus bertambah.
Akibatnya, pembaca tidak lagi diajak menafsirkan, tetapi diarahkan untuk mempercayai bahwa Mahzan memang benar.
Padahal sebelumnya cerpen berhasil menjaga ambiguitas.
Dalam sastra, ambiguitas jauh lebih kuat daripada kepastian.
Misalnya jika pembaca dibiarkan bertanya,
“Apakah benar aroma itu berbicara, atau hanya rasa bersalah orang-orang?”
pertanyaan itu membuat saya sebagai pembaca lebih lama merenung daripada jawaban bahwa aroma memang memiliki kekuatan gaib.
________________________________________
Simbol nilam sangat berhasil
Nilam tidak saja dipakai sebagai dekorasi Aceh di dalam cerita.
Ia menjadi metafora yang konsisten.
Nilam dalam cerita ini bisa menjadi
• ingatan
• tubuh
• puisi
• doa
• sejarah
• identitas
Simbol ini muncul sejak awal hingga akhir tanpa kehilangan maknanya.
Ini kekuatan terbesar cerpen.
Jarang ada simbol yang mampu bertahan sepanjang cerita seperti itu.
________________________________________
Tokoh Mahzan sangat hidup
Mahzan bukan orang gila.
Bukan pula wali.
Ia seorang penyair yang meyakini estetika sampai batas ekstrem.
Dialognya dengan ustaz terasa meyakinkan.
Bahkan kalimat:
“Aku ingin dikenang bukan karena nama, tapi karena makna.”
cukup kuat menggambarkan seluruh karakternya.
Namun ada sedikit kelemahan.
Mahzan hampir tidak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya ketika ia benar-benar tiada selain mimpi di padang pasir.
Padahal bila ia lebih sering ragu, pembaca akan semakin dekat dengannya.
Tokoh yang besar biasanya mempunyai retakan, dan hal itu hanya disinggung sedikit saja di awal, tentang orang-orang yang terbunuh karena konflik Aceh, juga tentang ibunya sendiri disebut secara sekilas saja.
Mahzan terlalu utuh.
________________________________________
Tokoh Ustaz Mahdi kurang berkembang
Ia hadir hanya sebagai representasi hukum agama.
Sesudah Mahzan meninggal, ia menghilang.
Seharusnya, menurut saya, cerita bisa dibuat lebih dramatis.
Bayangkan bila di akhir cerita Ustaz Mahdi diam-diam datang menghirup aroma itu.
Lalu ia tidak mengatakan apa pun.
Adegan itu akan jauh lebih mengguncang.
________________________________________
Cerpen ini terlalu sering menjelaskan simbol
Contohnya:
“Kata-kata dibaca. Tapi aroma langsung ke jantung.”
Kalimat itu mungkin langsung menancap di dada. Namun sesungguhnya pembaca sudah memahami maksud simbol aroma.
Ketika simbol dijelaskan, kekuatannya sedikit berkurang.
Sastra sering kali lebih kuat ketika membiarkan simbol bekerja sendiri.
________________________________________
Ending sangat puitis tetapi terlalu lengkap
Kalimat terakhir:
“Tadi angin datang. Membawa suara. Membawa aroma Mahzan.”
cantik.
Tetapi sebelumnya sudah ada:
• guci pecah
• nilam tumbuh
• aroma tinggal
• masyarakat menulis puisi
Semua itu sudah cukup.
Tambahan penjelasan membuat akhir terasa terlalu “rapi”.
Cerpen besar biasanya berakhir satu langkah sebelum pembaca memperoleh jawaban.
________________________________________
Ada persoalan keberanian tema
Yang paling menarik buat saya bukan bagaimana cerpen ini bercerita.
Melainkan pertanyaan yang diajukan cerpen:
Apakah keindahan bisa menjadi bentuk ibadah?
Pertanyaan ini sangat berani.
Tetapi sayangnya cerita kemudian seperti menjawab,
“Ya.”
Padahal bila pertanyaan itu dibiarkan menggantung, cerpen akan jauh lebih filosofis.
________________________________________
Kesimpulan
Saya menilai cerpen ini memiliki gagasan yang orisinal, simbol yang konsisten, dan bahasa yang puitis. Nilam tidak sekadar menjadi latar, melainkan pusat metafora yang menyatukan memori, tubuh, puisi, dan sejarah. Tokoh Mahzan juga berhasil tampil sebagai sosok yang memiliki keyakinan estetik yang kuat.
Namun, kelemahan utamanya adalah kehilangan ambiguitas pada paruh akhir. Keajaiban-keajaiban yang terus bertambah membuat cerita bergeser dari ruang tafsir menuju penegasan bahwa Mahzan memang memiliki kebenaran istimewa. Akibatnya, pembaca tidak lagi bergulat dengan pertanyaan, melainkan menerima jawaban yang telah disediakan narator. Dalam karya sastra yang kuat, sering kali pertanyaan yang tetap terbuka justru lebih membekas daripada jawaban yang tuntas.