Puisi : Jembatan Bahagia , Cerpen : Pesan Dalam Angin

Puisi Karya : M. Qushairi Asshiddiqie Jembatan Bahagia

berzikir selalu berjaga bukan hanya berkatamengharapkan menerjang dosasujud melangkah gagahdoa ibarat daun-daun menyemai damai
sajadah dari utara singgasana tahtamenepis ketidakbenarantanah air tak lagi menangis   dalam sajak irama simfoni hidupberbisik bersimpuh timbunan mimpidari utara jembatan bahagia
  
air bukit bukit tersenyumangin berisik membangun jiwatangkai langit mengolah otakair laut membangun ragabatang pohon bukan hanya berkatapalung tanah melangkah gagahIndonesia baja tersenyum berkreasiHidup tersenyum jembatan bahagia

M. Qushairi Asshiddiqie  adalah siswa kelas X IPA 3,  MAN 1 Bengkalis.

CERPEN : PESAN DALAM ANGINM. Hasbi Ar-Raihan

Aku menghirup napas dalam-dalam. Angin pertama musimpanas menyibak rambutku, molekul udaranya mengisi paru-paruku, membawa aroma rumput, tanah,dan peppermint yang memberi kenangan. Sinar matahari menembus pepohonan, surai-surainya membentuk garis lurus terang yang membentuk bayangan di sekitarnya.Spektrumnya membuat benda-benda yang disinarinya menjadi semakin berwarna. Musim panas selalu menyenangkan.

Musim panas adalah saatnya pohon-pohon beristirahat, hewan-hewan memanjakan dirinya, dan saat ayah menceritakan rahasia kepada anaknya. Ya, dan yang terakhir adalah saat yang paling kutunggu. Tak ada yang bisa menggantikan waktu untuk menghabiskan waktu bersama ayah, walaupun hanya sedetik.

Dan itulah yang kulakukan sekarang, duduk di dahan pohon setinggi yang ku bisa kupanjat, bersama ayahku yang duduk disampingku, menikmati angin semilir yang datang menembus dedaunan. Dibawah, hamparan bebukitan meliuk-liuk, menyisakan celah di antaranya yang membentuk jalan setapak yang ujungnya tidak terlihat. Ayah, yang sedang memain-mainkan daun di tangannya, mulai bercerita.

Dulu, ayah dan ibu selalu pergi kesini. Bisa dibilang ini adalah tempat favorit kami. Mata ayah menerawang, senyumnya terkembang. Aku tidak pernah mengenal ibuku. Bahkan hanya untuk sekedar mengetahui wajahnya, aku pun tidak ingat. Ibu meninggal ketika umurku hanya beberapa bulan. Mungkin itulah saat-saat terberat ayah, namun dia sanggup membesarkanku dengan penuh kasih sayang, walaupun dengan membawa luka. Cerita mengenai ibuku adalah hal yang paling kutunggu.
“Ibumu selalu menyukai ketinggian. Katanya, hanya berada di ketinggianlah jiwanya merasa bebas, ketenangan menghampirinya, dan pikirannya menjadi jernih. Meskipun senyumnya masih terkembang, ada nada sedih dalam suaranya.

Aku juga menyukai ketinggian. ujarku. Aku tahu sayang, ayah kini menatapku, Kau memiliki banyak persamaan dengan ibumu. Ayah terkadang iri dengan kemiripan yang kalian punya kata ayah sambil terkekeh.

Dan kemiripan itulah yang membuatku makin penasaran dengan ibuku. Melihat teman-temanku berada dalam dekapan ibunya kadang-kadang membuatku iri. Kadang sebagian dari mereka menyia-nyiakan waktu terhadap ibunya, waktu yang seharusnya aku dapatkan. Waktu yang tak pernah aku dapatkan. Ingin sekali rasanya aku meneriaki mereka, bagaimana rasanya berada dalam posisiku, karena siapapun takkan pernah mengerti. Saat aku tenggelam dalam pikiranku, ayah menghembuskan nafas lalu melanjutkan ceritanya.

Hidup adalah anugrah, kau harus tahu itu. Setiap nafas yang kita hirup, setiap waktu yang kita miliki, setiap energi yang kita dapat hanyalah untuk semakin menyadari bahwa semua itu harus kita syukuri.

Burung merpati hinggap di dahanku, seakan ingin iku tmendengarkan apa yang ayah katakan. Angin melembut, suara pemotong rumput terdengar dari kejauhan.

Jadilah seperti garam. Meskipun nampak remeh, tapi dia adalah pelengkap dan tidak lengkap jika dia tidak ada.Begitu juga hidup, jadilah pelengkap, orang yang ditunggu-tunggu kehadirannya, orang yang selalu menjadi pelengkap.Seperti ibumu.

Inilah yang aku suka dari ayahku. Ayah selalu menganalogikan sesuatu kepada hal-hal yang dianggap sepele, namun itulah yang membuatnya unik. Mata ayah menerawang. Membicarakan ibu membuat lukanya membuka kembali. Tapi dengan luka itulah dia hidup selama ini. Dan luka itu tidak pernah membuatnya patah. Pikiranku tergelitik dengan satu pertanyaan. “Bagaimana jika ayah diberi satu kesempatan lagi untuk bertemu ibu? Apa yang akan ayah lakukan? Ayah menggeser posisi duduknya, mungkin pertanyaan tadi membuatnya kurang nyaman. Dia tersenyum lalu menjawab pertanyaanku.

“Hal terpenting dari sebuah perpisahan adalah belajar untuk merelakan. Ayah tau kau tidak pernah bertemu dengan ibumu, dan kau akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kesempatan itu, tapi ingatlah anakku, hiduplah untuk belajar merelakan, sepahit apapun kenyataan itu. Karena hidup terus berjalan. Bermimpilah untuk hidup, jangan hidup untuk bermimpi!

Kini giliran mataku yang menerawang jauh. Rasanya dahan yang kududuki makin tinggi saja. Aku tahu apa yang ayah katakan adalah benar, namun tetap saja hati kecilku memberontak. Aku tidak pernah melihat ibu. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu. Aku tidak pernah merasakan dekapannya.Salahkah aku untuk menginginkan hal itu?

Ayah tersenyum padaku, seolah-olah dia tau apa yang aku pikirkan. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam pikiran-pikiranku. Senyumnya masih saja tepatri dalam otakku, dan tak pernah kusangka bahwa senyum itulah senyum ayah terakhir yang aku lihat.

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Udara musim panas yang membawa aroma rumput, tanah, dan peppermint menyesakkan dadaku. Angin semilir menampar-nampar rambutku, yang seolah tidak peduli dirinya dilempar kesana kemari. Sama seperti diriku yang tidak peduli pada cahaya matahari yang menembus pepohonan, membuat surai-surai terang yang membentuk bayangan di sekitarnya. Seolah cahaya matahari tidak cukup untuk menerangi hatiku yang sekelam badai. Aku duduk di pohon yang sama. Di dahan yang sama. Namun yang ada hanya keheningan. Bukan jenis keheningan yang membuat pikiran tenang dan membuat jiwa  serasa bebas, namun keheningan yang menekan, seperti setiap detik yang dilalui semakin menegaskan ketidakhadiran akan seseorang. Aku kembali menghirup nafas dalam-dalam. Suara ayah kembali terdengar dalam kepalaku. Hidup adalah belajar untuk merelakan. Tak pernah kuduga aku harus belajar merelakan secepat dan sesering ini. Seolah tidak tersisa ruang di dalam hidupku untuk sesuatu yang membahagiakan.  Aku memandang bukit yang berkelok-kelok dengan tatapan kosong.  Sebuah pikiran terlintas dalam kepalaku, tapi segera aku enyahkan. Tidak, tidak seperti itu akhirnya. Aku tak mau hidupku berakhir dengan sia-sia. Hidup adalah anugerah, setiap detik yang kita miliki adalah hal yang harus kita syukuri. Hiduplah untuk belajar merelakan, sepahit apapun kenyataan itu. Karena hidup terus berjalan. Ayah benar. Sepahit apapun itu kenyataan hidup, yang bisa kita lakukan adalah menerima dan menjalaninya dengan kerelaan. Karena hidup terus berjalan.  Secercah cahaya memasuki hatiku. Bermimpilah untuk hidup, bukan hidup untuk bermimpi. Meskipun aku tau aku tidak akan pernah merasakan kehangatan orangtu aku lagi, tapi masih ada yang tertinggal dari mereka. Dan aku baru menyadari, mimpilah yang selama ini membuat ayahku bertahan. Dan mimpi yang mereka tinggalkan, adalah mimpi yang harus aku teruskan dan aku wujudkan. Kini hidupku memiliki tujuan. Dibawah naungan dedaunan di dahan tertinggi, di bawah sinar matahari musim panas, pesan telah tersampaikan. Pesan yang dibawa oleh angi


M. Hasbi Ar-Raihan adalah SMA Negeri Plus Provinsi Riau 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan