Belenggu | Puisi : Novita Arief Hidayati

87

Belenggu

Langit menangis

Sedu sedan berarak awan

Matahari tercecer di rimbun dedaunan

Mata tertawan gigil kabut

Geliat raga balut selimut

Lanjutkan mimpi,

Mentari belum tinggi

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

Berita Lainnya

Prolog: Puisi Gino Gumara

Berisik

Cuitan bersahutan

Burung burung tak pernah hiraukan

Riuh rinai hujan

Bangun,

Masihkah terpasung belenggu setan?

Lumajang , 5 April 2023

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan