Tentu saja aku gulana.
Kubunuh segala ragu untuk menyapa.
Menghangatkan “kita” nan dingin nirselimut.
Namun, kamu melibasnya dengan detik-detik sunyi tanpa sambut.
Senja kelam, harap cahaya musnah.
Malam panjang, penantian fajar patah.
Setiap potong kata yang kujumput dari sudut jiwa tercercer, lalu memudar hilang.
Bayang haru yang kulukis dengan tinta darah pada hati seketika usang.
Rasanya begitu memalukan.
Bagai mengajak bicara seorang yang enggan.
Seolah mencandai ulat dalam kepompongnya.
Merayu candra pada pongahnya.
Rasanya teramat menyedihkan.
Ditikam luka, tapi terus menghamba.
Sakit hati, aku ingin mengumpatmu.
Namun, cintaku tidak mengizinkan apa pun menyakitimu.
Rasanya begitu melelahkan.
Andam karam, remuk redam.
Aku terkapar, terpapar derai-derai kerinduan.
Menggelepar memimpikan pertemuan.
Billah, demi Allah, manikku bahkan menyusun puzzle-nya sendiri membentuk akara.
Entah bayang atau halusinasi, agar aku menemukanmu: sang pemilik tahta
Namun, pada setiap luka aku justru menumbuhkan cinta-cinta yang membara.
Jambi, 24 Februari 23
Qinn adalah nama pena dari Wulan Ndari. Kelahiran Lampung Tengah, 31 Agustus 1997. Mulai menulis sejak Desember 2022. Kegiatan sehari-hari sebagai ART atau Anak Rumah Tangga yang membantu orang tuanya berkebun.
IG: @qinn.budakbelian FB: Qinn