Kopiah | Puisi : Wina Armada Sukardi

130

KOPIAH

Kopiah tak hanya pemantas tutup kepala 

pertanda orang masyhur

tatkala mengucap sumpah pejabat

atau hendak sholat berjemaah di mesjid.

Kopiah merekam segala niatan yang ada pada otak kepala

menembus ke hati dan jantung.

Kopiah  menjadi saksi

perkara yang telah dilakukan para  petinggi

adakah sesuai dengan janji

membela kepentingan orang sahaya

serta menolak kenikmatan haram.

Kopiah berkisah kaum putih

menempuh jalan lurus.

Kopiah nubuat  melayang-yang

tak dapat diburu

langsung tersemat di kepala

siapapun yang mewarisinya.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Jabatan sulit nian dikejar dengan nafsu

tapi mudah menghampiri tanpa diminta.

Kopiah yang dipakai

sejatinya mirat diri

Kopiah warna hitam membalut hati kelam.

Kopiah hitam mengubah maruah menjadi cahaya putih.

Di tepi jalan di depan pertokoan

penjual kopiah berseru-seru menjajakan dagangannya:

“Ayo, ayo beli kopiah Bagus dan murah

Menambah pamor pejabat

atau yang mau berkuasa.

Ini kopiah istimewa.”

Beberapa orang menawar.

Beberapa orang membayar.

Beberapa mata

menatap dari langit.

Jakarta, 3 Mei 2023

Wina Armada Sukardi, lahir di Jakarta 17 Oktober 1959. Profesi utamanya sebagai  wartawan, penulis dan advokat. Telah menghasilkan beberapa buku puisi tunggal, antara lain, Nyanyian Sukma Manusia Teknologi, Mata Burung Gagak Gitaris, dan buku kumpulan cerita pendek tunggal seperti Tak Selamanya Bola Bulat, Sogok! Buku “Memetik Bulan” merupakan kumpulan puisi khusus untuk anak-anak.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan