Gerimis hujan membasahi bumi
Suara petir mengamuk diri
Langit menjadi saksi
Menyaksikan kisah yang mengenaskan menimpa diri
Kupandangi lukisan usang yang tergeletak di lantai
Wajahmu terbingkai dengan rapi
Merah merona dengan hidung mancung seperti bidadari
Tak lupa lesung pipi yang menghiasi
Ingin kurapikan dan memajangnya lagi
Mengingat hadirmu pernah jadi mimpi
Tapi, semua jadi ilusi
Saat dirimu pergi dan tak akan pernah kembali
Aku menyadari,
Datang begitu terlambat menyampaikan isi hati
Meyakini bahwa dirimu menjadi takdir yang pasti
Rupanya, aku hanya perindu yang tak bersemi
Air mata jatuh membasahi pipi
Menahan rindu yang semakin ganas menggerogoti
Aku tak lagi percaya diri
Sebab, orang lain telah memiliki dan akan menemanimu sampai mati
Sulteng, 22 April 2025
Firdayanti Husein, perempuan sederhana yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Hobinya membaca komik dan mulai menyukai dunia literasi pada tahun 2025. Saat ini aktif di kelas puisi Akademik Thata Sastra batch 17. Anda dapat menghubungi di IG @ibnat.husein FB @ibnat husein. WA: 085787319154