

Sudah terlalu lama komunitas Muslim di Amerika hidup dalam keraguan, bahkan rasa malu untuk menampilkan identitasnya sebagai seorang Muslim.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Ini adalah luka panjang akibat tekanan Islamofobia yang sistematis, terutama pasca tragedi 9/11. Selama lebih dari dua dekade, Muslim Amerika dibingkai sebagai ancaman, diawasi, dicurigai, dan disudutkan. Akibatnya, banyak di antara kita yang memilih jalan aman: menyembunyikan keislaman. Dengan dalih menjaga hubungan baik, demi toleransi, demi diterima, kita melipat simbol-simbol keislaman kita serapat mungkin.
Kita berpikir, jika kita tidak terlalu terlihat sebagai Muslim, maka tekanan itu akan berhenti.
Ternyata kita keliru.
Sikap defensif, malu, dan takut itu tidak membuat Islamofobia berakhir. Justru hari ini, ia semakin meninggi dan bahkan keluar secara terang-terangan dari Gedung Putih. Ia tidak lagi sekadar sentimen di jalanan, melainkan telah menjadi kebijakan yang bersifat sistemik.
Karena itu, saya kira masanya telah tiba untuk mengubah sikap ini secara total. Saatnya untuk tidak lagi bersembunyi.
Dalam hal ini, kita patut menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang tulus kepada saudara-saudara kita yang telah dengan gagah berani mendobrak dinding ketakutan itu. Kepada saudara kita Zohran Mamdani di New York City, Abdul El-Sayed di Michigan, dan puluhan pemimpin Muslim lainnya di berbagai penjuru Amerika, yang dengan penuh percaya diri tampil dengan identitas keislamannya di ruang publik, sambil memperjuangkan hak-hak politik kita di negara ini.
Mereka mengajarkan kita satu hal: Anda bisa menjadi 100% Muslim dan 100% Amerika pada saat yang sama.
Bukan Sekadar Simbol, Tapi Nilai
Tentu, ketika saya mengatakan “tampil dengan Islam”, yang saya maksud bukanlah sekadar aspek ritualistik yang simbolik, apalagi hal-hal yang remeh-temeh seperti pakaian, janggut, sorban, dan sebagainya. Walaupun semua itu adalah bagian dari syiar yang mulia.
Yang saya maksud jauh lebih dalam dari itu: Yaitu menampilkan Islam dengan nilai-nilainya yang paling mendasar dan universal, yang menyentuh inti kemanusiaan kita.
Dunia kita hari ini sedang tidak baik-baik saja. Dunia kita semrawut. Krisis ekonomi yang mencekik, polarisasi politik yang memecah belah, krisis keamanan, krisis iklim, krisis moral, hingga runtuhnya rasa kemanusiaan di depan genosida yang disiarkan secara langsung.
Semua krisis ini membutuhkan jawaban. Dan membutuhkan komitmen moral untuk menyelesaikannya.
Di sinilah urgensi kehadiran umat Islam. Kita dengan jumlah besar, hampir 2 miliar jiwa, seperempat penduduk dunia. Seharusnya kita tidak absen. Kita harus hadir dengan sikap, dengan respon, dan dengan solusi.
Di sinilah poin utama saya: Islam harus ditampilkan tanpa ragu, tanpa malu, tanpa takut. Bukan dengan label-label kaku yang eksklusif dan sektarian, melainkan dengan nilai-nilai universalnya yang memang menjadi dambaan dan kebutuhan seluruh umat manusia.
Apa nilai-nilai itu? Keadilan, kasih sayang, kejujuran, keberpihakan kepada yang lemah.
Islam adalah Keberpihakan
Ketika kita membela mereka yang terzalimi di berbagai belahan dunia: di Kashmir, di India, saudara-saudara kita Uyghur di Turkestan Timur, Rohingya, Sudan, dan yang paling berdarah hari ini, Gaza, Palestina, itu bukan sekadar aktivisme politik.
Itu adalah bagian dari keislaman kita yang paling inti.
Karena membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan membela kemanusiaan adalah ajaran Islam yang paling fundamental. Rasulullah SAW bersabda, tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.
Maka sudah masanya umat ini bangkit dan mendeklarasikan dengan lantang, sebagaimana yang diperintahkan Al-Quran:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ*
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim.” (Fussilat: 33)
Innanii Minal Muslimin: Sesungguhnya Aku Seorang Muslim.
Kita membela Gaza bukan karena kita orang Arab. Kita membela Uyghur bukan karena kita orang Cina. Kita membela mereka karena kita Muslim. Dan pembelaan kepada yang terzalimi adalah amanah keimanan kita.
Hal yang sama berlaku di dalam negeri Amerika.
Ketidakadilan ekonomi di mana 1% menguasai segalanya sementara jutaan orang tidak bisa membayar sewa. Rasisme yang sistemik. Krisis perumahan yang terjangkau. Upah minimum yang tidak manusiawi. Akses kesehatan yang mahal. Inilah kezaliman domestik yang harus dilawan.
Dan inilah yang sedang diperjuangkan oleh saudara-saudara kita yang terjun ke politik.
Ketika Walikota New York hari ini, Zohran Mamdani, memperjuangkan bus gratis, pembekuan kenaikan sewa, dan penitipan anak gratis, banyak orang melihatnya sebagai kebijakan sosialis. Tapi bagi kita yang memahami, sesungguhnya itu adalah cara Zohran untuk mengatakan: “Innanii Minal Muslimin”
Itu adalah implementasi dari nilai Islam tentang keadilan sosial. Bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat. Bahwa dalam harta kita ada hak orang miskin. Bahwa keadilan harus dirasakan oleh mereka yang paling lama termarjinalkan.
Saudara-saudara kita yang diberi amanah kepemimpinan melakukan kebijakan yang memihak kepada rakyat jelata juga karena mereka Muslim. Keberpihakan itu adalah amanah keimanan.
Dunia Merindukan Islam
Maka, wahai saudara-saudaraku Muslim Amerika,
Jangan lagi ragu. Jangan lagi malu. Apalagi takut untuk tampil dengan Islam.
Jangan sembunyikan cahaya Anda di bawah meja. Dunia hari ini berada dalam kegelapan yang pekat. Dunia merindukan cahaya itu.
Dunia tidak merindukan perdebatan fikih kita yang khilafiyah. Dunia merindukan keadilan Islam, kasih sayang Islam, dan keberanian Islam untuk berdiri bersama yang tertindas.
Saatnya kita tampil dan berkata kepada dunia: Kami Muslim, dan Kami hadir menjadi bagian dari solusi.
Washington DC, 31 Oktober 2026