Sekrup Seni: Puisi Wahyu Mualli Bone

157

Seni, sekarangmu tidak bisa dibiarkan sampai beralasan dahulumu.
Simpul simpai yang mengikat erat lidi-lidi palma, berujung kemasan cantik mengungkap keberlakuan guna dalam sifat fungsional.
Begitupun kursi yang didisain gagah para tukang, berbuah manja dengan laris pujian, tukang perabot runut bibit bobot.
Seni, siapa yang memberi nam mu, ada yang aneh dengan sifatmu.
Seni, dahulumu apa rupamu. Apa yang mengantarmu dengan musabab imitasi dimensi fisik sebelumnya yang mendasari legalitas akuan kemurnian rupa.
Bibit bobot simpai lidi-lidi dan kursi tumbuh buah, hasil petik terawang ke rupa, rasa dan guna.
Mungkinkah wibawamu selalu bertambah mengikuti arus bebas yang kerap bablas dari satu, dua, tiga W menjadi jutaan W dalam rangkuman Wirasa, Wiraga, Wirama ke Wiguna dan Wisata paksa.
Seni, peran mu jadi jatah preman pendayagunaan kursi yang menyutradarai halamanmu, disapu dengan lidi-lidi palmamu yang telah lama terbuang dari sudut siku rumah.
Sekrup seni akan berkarat bila tidak harus fungsional dan cermat memilih bahan tahan indoor dan outdoor.
Seni, dari hari Senin sampai ke Sabtu siapa yang mendahuluimu. Mohon berkabar lengkap dengan rupanya. Beri alasan, murni dan tidakmu.

Berita Lainnya

Pekanbaru, 27 Desember 2023

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan