Sepeda Onthel | Puisi : F. MahKanza

212

SEPEDA ONTHEL

            Kota ini masih riuh untuk kita tinggali, sementara matamu akan menggantung mendung, jika segenap ragaku kau letakkan dalam etalase yang telah lusuh. Lalu dalam gubuk ini, akan aku ceritakan perihal keriuhan dadaku, saat pembacaan ikrar itu, kau jadikan bahan bacaan rindu. Sedang diluar pak polisi masih dengan nyenyaknya tertidur, hingga suara klakson, mesin bajak, serta tipak sepatu menjadi santapan bagi gedung-gedung tinggi, tembakau kering, juga selendang putri kayang – tapi aku tetap terjaring operasi.

            Ditengah undang-undang lalu lintas, kau berani menerobos isyarat lampu, tanpa menghiraukan apa yang akan diterangkan kendaraan lain kepada dirimu. Tak lepas dari rambu-rambu yang setia menunggu pengendara menyatu, bukan lain, aku yang masih disekap, diintrogasi, serta segenap pertanyaan tentang surat-surat pengendara tertinggal disaku bajumu tadi malam, namun engkau tak berkenan mengantarnya meski rumah kita telah satu rumah dengan kantor polisi sunyi itu.

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

Berita Lainnya

            Kini otakku sibuk mencari beberapa data, hanya demi sebilah alasan tajam untuk kita dapat lebih lama bertatap, dan kita tetap berboncengan dipinggiran kota dengan sepeda onthel saja. Agar tetap selamat !

Sumenep, 2022.

F. MahKanza nama lain dari Fiki Mahmud Rahadi. Tercatat sebagai mahasiswa Institut Teknologi (IST) Annuqayah, serta bergelut dalam Majelis Sastra Mata Pena (MSMP), Sanggar AIDS, dan alumnus Sanggar Kotemang.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan