Terakhir Bersama Mak Karimah: Puisi Mulyati Umar

119

Lantunan ayat suci sayup-sayup berkumandang dari corong toa surau tua Syeh Marzuki. Angin dingin mulai berembus, hawa dingin lereng Gunung Sago mulai merasuki tubuh. Apalagi sekarang musim penghujan. Mak Karimah mulai menyiapkan diri untuk segera berangkat ke surau. Mukena kiriman dari cucunya beberapa hari yang lalu ia ambil dari lemari, matanya berbinar ketika membuka dari bungkus plastik. Diciumnya mukena baru itu, seakan mencium wajah cucu perempuannya anak Suman. Sudut matanya mengalir buliran air membasahi pipinya. Wajah tuanya terlihat makin keriput, seiring usianya makin senja. Rona kerinduan yang begitu terpancar dari matanya yang tinggal seorang diri sejak suaminya meninggal setahun lalu.
“Wo, Meti kalau sudah besar nanti akan membelikan Uwo mukena cantik,” ujar Meti kala itu. Terngiang-ngiang celetuk gadis kecilnya dulu.
Senyum Mak Karimah terlihat lagi di bibirnya. Pintu lemari kayu berlapis triplek mika berwarna biru muda itu segera ditutupnya. Mak Karimah beranjak dari kamarnya dan menuju ruang tengah. Diambilnya suluh, lalu Mak Karimah menuju pintu rumah sambil menuruni anak tangga rumah gadang, tak lupa Mak Karimah menutup pintu dan menguncinya. Sepanjang jalan Mak Karimah membawa angannya ke masa lalu. Saat gadis kecilnya pergi mengaji ke surau, saat tangan kecil itu dibimbingnya.
“Meti, uwo sangat bahagia sekarang kau sudah mulai pandai membaca Al-Qur’an. Angku Karim kemaren bilang sama ayah kau di depan uwo, Tak lama lagi kau akan khatam Al-Qur’an, uwo bangga sekali,” kata Mak Karimah.
“Iya, Wo. Nanti Meti akan memakai baju khatam ya, Wo. Meti mau warnanya putih, Mak.”
“Boleh, nanti uwo bilang sama ayah kau dulu,” sahut Mak Karimah.
Angan masa lalu menyinap dalam diri Mak Karimah sampai tak sadar Mak Karimah telah sampai di halaman surau. Sudah seminggu Mak karimah tak datang ke surau. Kondisi badannya tidak sehat. Demam yang menderanya membuat Mak Karimah tak bisa kemana-mana. Azan Magrib sudah mulai berkumndang, Mak Karimah bergegas mengambil wudhu, setelah selesai kakinya melangkah masuk ke dalam surau. Setelah salat Magrib Mak Karimah bersama jamaah lain mengaji bersama sampai waktu salat Isya datang menjelang.
Malam makin larut, Mak Karimah menyusuri anak tangan surau. Beberapa wanita tua sebayanya juga mulai terlihat turun bersama, mengambil sandal dan mulai beranjak ke rumah masing-masing sambil memegang suluh di tangannya. Hawa pergunungan mulai terasa menusuk, dinginnya terasa sampai ke kulitnya yang makin keriput dimakan usia. Mak Karimah mendekap tangannya sambil terus menyusuri jalanan tanah. Pikirannya berkelana jauh.
Di masa tuanya seorang diri. Anak-anaknya sudah pergi merantau. Hanya Sahar yang masih ada di kampung. Istri Sahar orang kampung sebelah. Hembusan napasnya terdengar lirih. Suman, anak tertua mak Karimah ikut merantau sejak Meti anak sulungnya yang tamat SMA pergi mencari kerja ke kota. Tak berapa lama Suman pun menyusul Meti anaknya. Biasanya ada Suman yang selalu datang menjenguknya, tetapi sekarang Mak Karimah sendiri.
Suaminya sudah setahun meninggal dunia, serasa separuh jiwa Mak Karimah hilang. Hidupnya terasa hampa, puluhan tahun bersama dengan Pak Saleh, membuat hidupnya penuh warna, punya suami yang menyayang. Setia sampai ajal menjemput. Pak Saleh seorang ketua adat di kampungnya, sosok yang dihormati warga. Gelar yang tak bisa sembarang orang mendapatkannya. Datuak Paduko Alam itulah gelar yang disandangnya. Sosok bijaksana dan sayang keluarga. Mak Karimah mengarungi hidup rumah tangganya dengan suaminya dengan damai dan bahagia. Saat para suami yang mendapat gelar di kampungnya lebih beristri satu, Datuak Paduko Alam tetap setia dengan Mak Karimah.
Mak Karimah sedang duduk di dalam rumah. Dari jendela pandangannya jauh keburitan. Jalan di sana terlihat sepi. Dia berharap akan ada yang datang mengunjunginya. Sudah beberapa hari ini Mak Karimah sakit akibat jatuh terpeleset di jalan sepulang dari surau. Pinggangnya sakit, Mak Karimah tak bisa berjalan untuk sementara. Untuk kegiatan dalam rumah ia lakukan dengan menggeser tubuhnya. Sahar anak laki keduanya belum juga menampakkan batang hidungnya. Biasanya habis salat Subuh sudah datang menghampirinya. Memasak air dan menyiapkan makanan untuk dirinya.
Dari kejauhan pandangan Mak Karimah melihat sosok bayangan yang menuju ke rumahnya, semakin dekat ternyata Meti, anak Suman yang merantau ke kota. Hatinya berbunga-bunga. Cucu yang dirindukan datang. Cucu pertama. Segera Mak Karimah beranjak ke pintu masuk.
Dulu Meti selalu menemaninya, kemanapun Mak Karimah pergi Meti ikut bersamanya. Sayangnya Mak Karimah pada Meti tidak terkira yang bersamanya sejak bayi. Meti sudah tinggal di rumah Mak Karimah. Ayahnya Meti, Suman selalu membawa Meti ke rumah ibunya – Mak Karimah.
Langkah kaki Meti semakin mendekat. Dia menghampiri Mak Karimah dan mencium tangannya, dipeluknya wanita tua itu. Seketika tangisnya buncah saat melihat keadaan Mak Karimah. Setelah tiga tahun merantau baru kali ini ia pulang. Mak Karimah duduk di depan pintu sambil bersandar. Hati Meti terguguh pilu dalam diam. Mak Karimah mulai bercerita, sudah dua hari belum mandi. Sesak mengerogoti dada Meti.
Meti tak tinggal diam, bersegera dia ke dapur menghidupkan perapian memanaskan air untuk mandi. Untung ada kayu bakar di sana. Air mulai dipanaskan. Setelah siap Meti memasukkan ke dalam baskom dan mengangkatnya ke kamar mandi. Meti memapah Mak Karimah yang kesulitan berjalan. Pinggangnya sakit akibat jatuh terpeleset.
Mak Karimah dimandikan Meti dengan telaten. Sekujur badan Mak Karimah disabuni hingga bersih. Mak Karimah mandi sambil bercerita. Mak Karimah menceritakan masa kecil Meti di rumah ini. Dulu baru menikah, ibunya Meti tinggal dengan dengan mertuanya sampai Meti berusia satu tahun. Selepas itu ayah Meti membuat gubuk kecil di tengah sawah di kampung ibunya. Namun, Meti sudah terikat hatinya dengan Mak Karimah. Masa itu hidup ayah Meti susah, ia bekerja di sawah orang mengambil upah harian. Mak Karimah sangat sayang dengan Suman anak tertuanya. Mak Karimah selalu membantu Suman. Kalau sudah panen, Mak Karimah tak lupa menyuruh Meti datang untuk mengambil beras. Lamunan Meti buyar seketika.
“Meti, kalau suatu saat nanti ajal menjemputku, kau tak perlu lagi memandikan aku. Karena kau sudah mandikan uwo sekarang ini,” ujar Mak Karimah sambil tersenyum.
Meti mendengar itu hanya diam, terpaku tak mengeluarkan suara. Tak punya anak perempuan menjadi dilema bagi wanita di Minangkabau. Anak perempuan menjadi kebanggaan yang akan menjadi penerus keturunan nantinya. Merawat di masa tua.
Di bibir tuanya yang sudah keriput terselip senyum bahagia. Mak Karimah senang Meti datang pagi ini. Di masa tuanya Mak Karimah hidup sendiri. Mak Karimah hanya dijaga oleh Sahar, tapi hanya melihat dan mengantarkan makanan. Malam hari Kak Karimah sendiri.
Mak Karimah akhirnya selesai mandi. Tak lupa Meti membantu mengeringkan tubuh Mak karimah yang makin ringkih di makan usia. Meti menyiapkan air untuk berwudhu. Setelah selesai Mak Karimah dibawa ke kamarnya. Meti dengan telaten memasangkan baju. Rambut Mak Karimah yang sudah memutih tak lupa Meti sisir, dijalinnya dengan rapi. Setelah Mak Karimah bersih dan rapi, tubuhnya dipapah Meti untuk duduk di ruang tengah. Tak berapa lama Sahar datang mengantar makan untuk Mak Karimah. Meti sedang membersihkan rumah, datang menghampiri pamannya, menyapa dan mmemberi salam.
Mak Karimah sangat senang. Meti ada bersamanya saat ini, harapannya Meti bisa lebih lama bersamanya, namun harapannya tak sesuai kenyataan. Meti besok harus kembali lagi ke kota, Meti kuliah sambil bekerja sebagai guru mengaji. Kuliahnya tak bisa ditinggalkan dalam waktu yang lama. Mak Karimah duduk terpaku di beranda depan. Meti terpaku dia dilema. Mak Karimah sedang sakit, tapi Meti harus kembali.
Beberapa hari sejak kepulangan Meti, keadaan Mak Karimah makin membaik. Dia sudah bisa jalan sendiri walau masih dibantu dengan tongkat. Kedatangan Meti menjadi pemicu semangat Mak Karimah. Cucunya selalu datang kala sakit sedang menderanya. Walau jauh, Meti berusaha untuk pulang melihat neneknya. Mesti ada yang dikorbankannya. Meti sangat senang, melihat Mak Karimah sudah membaik, secepatnya Meti kembali ke kota. Kuliah dan tugasnya sebagai guru mengaji sudah dia tinggalkan selama seminggu. Mak Karimah berharap semoga Meti wisuda nanti dia bisa hadir. Impian Suman anaknya bisa menjadi kenyataan melihat Meti berhasil dalam pendidikan. Senyum terbit di bibir keriputnya. Meti, cucu yang sangat menyayanginya.
Kabut dari lereng gunung masih setia menyelimuti kampung pagi ini. Hujan yang turun semalam membuat cuaca terasa lebih dingin dari biasanya. Sejak Meti balik ke rantau. Mak Karimah menjalani hari-harinya seperti biasa. Mak Karimah sejak subuh tadi sudah bangun. Rasa dingin menusuk tulang, sudah berapa hari ini kondisinya kurang sehat. Sahar menemani Mak Karimah sejak dua hari yang lalu. Sahar setia di samping Mak Karimah.
Ingatan Mak Karimah ke masa lalu mengingat Meti. Sekarang tak ada lagi yang menyisirkan rambutnya yang sudah memutih. Kebiasaan Meti dari dulu, setiap dekat dengan Mak Karimah, Meti selalu menyisir rambutnya dengan rapi. Kalau siang hari lagi santai, Meti sibuk di kepala Mak Karimah, mencari kutu. Hati Mak Karimah bahagia. Duduk bedua ditemani cucunya Meti, menjadi kebahagiaan yang tak terkira bagi Mak Karimah.
Senyum terukir di bibirnya yang keriput, bibirnya kalimah tauhid tak henti diucapnya. Sinar mata tuanya mulai redup lalu perlahan terpejam hingga tubuhnya kaku dan mulai terasa dingin. Sedingin cuaca pagi ini.

Berita Lainnya

Mulyati Umar, saat ini diamanahi sebagai kepala sekolah SD Negeri 144 Pekanbaru, dan aktif menulis di komunitas FLP Wilayah Riau. Tergabung dalam ISC (Indonesian Scriptwriter Community) dan Komunitas MSI (Mata Sinema Indonesia) – Pendukung Sinema Indonesia perwakilan Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan