Ling-ling gadis Tionghoa itu sudah menawan hatiku. Di kampung Meranti Belah semua orang mengenalnya. Sejak kecil, Ling-ling sudah bergaul dengan orang Melayu. Ling-ling sangat pandai menari Zapin dan dapat membawakan langgam Melayu dengan baik. Aku benar-benar mencintainya. Gayung bersambut, ketika perasaan ini aku sampaikan, dia menyungging senyum, sebagai jawaban bahwa dia juga memiliki kesamaan perasaan.
Ketika usiaku sudah dewasa, aku mengutarakan hasratku untuk menikahi Ling-ling kepada mak. Mak sangat bijak. Mak tak langsung menyanggah. Kalau soal berkawan terserah mau berkawan dengan siapa saja tapi kalau mau berkawin( Menikah), haruslah sepaham seagama. Mak bercakap dengan senyuman. Aku tersentak. Meski tak ada perbedaan antara Ling-ling dengan gadis melayu lainnya namun perbedaan keyakinan tak mungkin terelakkan. Ling-ling pun tak kuasa memaksa, Koh Aliong, bapaknya, untuk menuruti keinginan Ling ling memeluk Islam. Tunggu saja apak mati dulu, kalau kau mau masuk Melayu. Ucap bapaknya. Sejak itu Ling-ling pergi ke tempat saudaranya di Pekanbaru.
Akhirnya aku menikah dengan Ziana, anak Makcik Rokiah, masih saudara jauhku. Selama tiga hari tiga malam helat pernikahan kami diadakan dengan sangat meriah. Seluruh sanak keluarga berkumpul. Tamu-tamu datang bersalaman. Di antara yang datang, Seorang perempuan membuatku terkejut. Ia datang memakai tudong berwarna kuning, sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum”, dan Selamat pengantin baru kepadaku. Ling-ling sangat cantik. Aku menangkap wajah kecewa di rautnya.
*Tudong: Kerudung
Rumah Cinta, 02 Oktober 2020
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com