

Dering telepon dan dentingan pesan yang beruntun masuk, terus menerus membuatnya tidak nyaman.
“Kamu jadi polisi saja ya, nanti saya yang biayai.”
“Kamu di mana? Jangan nakal.”
“Ikuti saja apa kata saya.”
Begitulah kira-kira isi pesan dari orang itu.
“Berhenti menggangguku! Aku benci itu!”
Teroran telepon dan pesan yang sungguh menghantuinya itu sangat membuatnya sedih, terusik, tertekan, rasanya muak dan selalu ingin mengabaikannya. Mengganggu sungguh mengganggu. Tapi apa daya perasaan ini selalu ingin ku cegah namun trauma sudah menguasai semuanya.
Di dalam ruangan bising penuh riuh, orang-orang yang berlarian, sebagian menabuh meja kayu. Ada yang menyantap sebungkus nasi, dan sisanya bergerombol sambil berbincang ria.
Di meja paling depan, semu sayup terdengar seorang remaja perempuan tengah mengeluh tentang keluarganya pada teman-temannya. Suara ribut, caci makian, bentak dan hentakan kasar yang ada dalam rumahnya sontak ia curahkan. Isakan tangis mengiringi setiap bagian dari kisah pilu yang dilontarkannya. Seragam lengan putih yang ia kenakan pun dibuat basah oleh tetesan air mata. Hingga teman-teman mendekap erat tubuh lemahnya seraya memberi dukungan dan energi positif baginya.
Sedang di bangku pojok kiri paling belakang di ruangan itu tengah duduk perempuan cantik nan jelita,. hidung mancung, bibir indah, kulit putih susu, alis tebal beriring rapih dan untaian rambut panjang lebat yang dikuncir satu.
Dalam kesendiriannya itu, ia tengah termenung, tak ada yang tau kemana arah pikirannya. Dengan tatapan mata yang kosong memerah. hingga tak tahan, ia sembunyikan dibalik dekap lipat tangan diatas bangku. Tak sadar ia pun menangis. Indra pendengarannya tak tuli. Dari jarak yang berjauhan itu ia mendengar semua cerita pilu dari seorang temannya yang sungguh menyentuh hati. Ia teringat akan kisahnya sendiri.
Aku, yang berada di bangku sebelahnya pun menyadari perubahan sikap dari dirinya. Kami baru berkenalan, tapi Dia sudah menjadi teman baikku. Ku peluk, kubiarkan dia menangis hingga lelah. Ia pun kuajak menjauh dari keramaian di dalam kelas itu. Hingga terasa nyaman, kupersilakan ia bercerita melepas usik isi kepalanya yang berkelana.
Tujuh belas tahun yang lalu tepat di penghujung bulan Januari bayi kecil lucu merengek menangis. Biarpun hanya melihat binaran cahaya, namun itu sesuatu baru yang ia rasakan, mungkin ia takut dan tak merasa aman. Hingga pelukan hangat diberikan oleh seorang wanita kuat dan hebat yang bertaruh nyawa melahirkan putri cantiknya itu. Kecupan, dan belaian bak hembusan angin paling lembut berhembus hangat di kulit polos peri kecilnya itu. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Dengan suka cita menyambut kelahiran Manda Lenora Zivara sikecil cantik jelita. Namun sukacita itu tak berlangsung lama.
Dua bulan setelah aku dilahirkan, ibu mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak tidak ia ketahui, hal yang seharusnya tidak ayah lakukan. Ayah berkencan dengan gadis lain. Ibu yang saat itu tengah senang-senangnya dan menikmati masa-masa merawat bayi lucunya, hatinya seketika berkecai bagai beling yang jatuh dihempaskan hingga hancur berkeping-keping. Sejak saat itu ibu murung dan tidak mempunyai minat dan energi bahkan untuk menjalani hidupnya.
Keesokkannya, tak ada ibu yang bersenandung menjaga lelapku, tak ada sosoknya yang selalu terjaga hingga fajar, tak ada ibu yang membangunkanku dengan guyonan andalannya, tak ada ibu yang menjadi obat lapar dan penenang tangisanku. Tak ada lagi kudengar lantunan bahana lembutnya. Kemana ibu.
Ibu berlari mencari ketenangan. Ibu pergi entah kemana. Ayah mencari. Lemari yang biasanya terisi baju-baju panjang yang membaluti tubuh ibu, kini terlihat hampa. Tak ada satu lembar pun yang tersisa.
Ayah, kenapa? Ada apa dengan ibu? Apa dia sudah tidak secantik dulu? Apa ia kurang memperhatikanmu? Apa yang ayah cari dari wanita lain? Silahkan mencari, namun tak akan kau temukan wanita seperti ibu. Kapanpun itu.
Hingga saat ini, saat aku beranjak dewasa, aku berfikir. Ibu, apakah kelahiranku adalah sebuah petaka bagimu? Kau menderita. Di mana ketika seorang anak lahir, Ia akan menciptakan bahagia dan warna baru di hidup ibu dan ayahnya. Namu, ternyata tak ada secercah cahaya yang menerangi keluarga ini, kelabu. Aku minta maaf, ibu. Aku menghancurkanmu.
“Lean, apakah aku sejahat itu menghancurkan kebahagiaan ibu dengan kehadiraku di dunia ini? Mungkin saat mengandungku, ayah mulai membenci ibu,” berlinanglah air mata di pipinya.
“Tidak sama sekali. Itu bukan salahmu, Manda.” Ucapku mencoba menenangkannya.
“Tapi yang orang katakan bahwa akulah pembawa sialnya.” Lirihnya sembari menghembuskan napas berat.
Ayah tak tahu harus berbuat apa. Apa yang akan Ia lakukan padaku. Ia tak tahu bagaimana merawatku sedangkan Ia dihadapkan dengan masalah yang Ia gubah sendiri. Begitupula kakak tertuaku, Lila. Saat itu ia masih kanak-kanak. Mengurus mainannya saja tidak becus apalagi jika harus mengurus bayi.
Hingga singkat pikir ayah untuk membawaku ke kampung halamannya. Ia menggendong anak berusia dua bulan sambil menyetir memegang kemudi dengan sebelah tangannya sejauh 83 km.
Sesampainya di sana, keluarga ayah yang tidak tahu-menahu tentang masalah dan perkara ia membawaku ke sini, menimbulkan sangat banyak pertanyaan yang terlontar dari mereka. Pada intinya, ayah menyerahkanku pada saudara perempuannya yang saat itu belum dikaruniai anak setelah umur pernikahannya yang cukup lama. Sempat adopsiku di perebutkan oleh saudara-saudara ayah. Namun, ayah sudah punya pilihan.
Saudara ayah yang secara biologis merupakan Bibiku, kini kusebut Mama. Ia bersama Suaminya membawaku pulang ke kampung halaman bapak. Ia, kini ia adalah bapakku. Aku dibesarkan dengan sepenuh-penuhnya kasih sayang yang mereka punya. Bak orang tua dan anak kandung. Rasanya lebih dari orangtua kandungku sendiri. Hingga pada akhirnya aku menyadari, bahwa rumah yang sebenarnya adalah saat aku bersama mereka. Aku mungkin gagal dengan keluarga kandungku. Tapi bersama mereka, aku merasakan apa yang selama ini hilang.
Tak lama setelah itu, ibu pulang. Hubungan dengan ayah pun mulai membaik. Karena ayah telah berjanji untuk mengakhiri hubungan terlarangnya. Ibu kembali mengandung adik laki-lakiku, Wira. Hingga Wira lahir sampai berusia balita, semuanya berjalan baik-baik saja.
Janji punya janji, ayah kembali menghianati. Ibu muak. Selanjutnya ibu kembali pergi, menghilang, dan merantau ke negara orang. Biar ia melepas jenuh di hatinya selama ini.
Adik dan kakakku pun dibawa ke kampung halaman ayah, (tempat dimana ibu menetap hingga saat ini) keduanya diurus oleh nenek. Dan ayahpun kembali ke kota dimana ia bekerja diperusahaan pertambangan disana.
Ayah kembali menggila. Tak berpikir perasaan anaknya, di usiaku yang menginjak lima tahun, aku pernah diajak jalan-jalan bersama selingkuhannya itu. Ada rasa sesak namun aku belum mengerti tentang perasaan apa itu. Batin dan pikirku saat itu hanya pada ibu. Siapa wanita ini? kenapa tidak jalan-jalan bersama ibu saja?. Namun, ayah selalu menyembunyikan hubungannya dibelakang Ibu.
Tiga tahun ibu di perantauan, ia pun pulang dengan membawa harapan besar bahwa suami yang ia cintai itu telah berubah. Namun, kenyataan begitu pahit. Ia mendapati suaminya tengah berada di tempat yang penuh lampu kelap-kelip bersama gadis kencannya itu. Hati ibu kembali hancur. Ia tidak tahan lagi. Ibu lelah. Ia mengambil langkah bahwa keputusan yang paling baik akan didapatkan di meja pengadilan. Sejak kejadian itu, ayah telah memutus hubungan dengan gadis simpanannya itu.
Kisah asmara terlarang ayah kembali terulang semenjak dipengadilan. Saat itu di saat ia tengah menyelesaikan masalah rumah tangganya, ia bertemu dengan perempuan yang juga tengah proses menyelesaikan masalah rumah tangganya, berpisah dengan suaminya. Namanya Tante Rita. Mereka saling bertegur sapa, bercerita, hingga ayah nyaman dan jatuh hati padanya secara diam-diam. Ayah, apa yang ada di hati dan pikiranmu. Kau menusuk hati ibu terlalu dalam secara terus-menerus.
Tak lama sejak itu ayah mulai menjalani hubungan pacaran dengan Tante Rita. Mereka sangat dimabuk rasa cinta. Bahkan saat mereka bertengkar, Tante Rita menjauhkan diri ke Singapura, namun ayah memperjuangkan cintanya itu hingga menyusul Tante Rita dan membawanya kembali. Masa-masa itu adalah masa keterpurukkanku, saudara-saudaraku, terutama ibu. Kami diterlantarkan olehnya, demi perempuan incaran hatinya itu.
Tiga tahun berlalu hubungan asmara mereka semakin dekat hingga membawa hubungan itu ke jenjang pernikahan. Ayah mengucapkan ikrar pernikahan secara sirih dengan Tante Rita. Istri dan anak mana yang tidak sakit hati mendengar kabar suami dan ayah mereka menikah lagi tanpa sepengetahuan siapapun. Aku kecewa. Hatiku dihancurkan olehnya. Cinta pertamaku telah direnggut, bahkan merasakannya pun tidak sempat. Direnggut oleh perempuan yang sama sekali tak kukenal. Tidak bisa kubayangkan bagaimana ibu di sana. Aku di sini yang terus dikuatkan oleh mama dan bapak.
Titik terhancur yang pernah kurasakan. Sedari kecil aku bergelut dengan masalah yang mengundang trauma. Mau bernegosiasi pun percuma. Karena ini konsekuensinya. Aku harus menanggung semua sakit yang diciptakan ayah yang menusuk hingga batin terdalamku. Aku introvert handal. Susah berinteraksi. Selalu menutup diri. Tidak pandai bersosialisasi, hingga bullyan selalu menghantui. Merajam batin dan mentalku yang masih belia dan mudah goyah.
“Itu sebabnya aku tidak banyak bicara, Lean. Aku susah bergaul. Aku takut. Takut dikecewakan. Takut menghancurkan ekspektasi orang yang terlalu tinggi terhadapku.” Air mata Manda yang tanpa permisi berlinang tetes demi tetes.
“Aku paham, aku mengerti keadaanmu sekarang.” Aku mencoba menguatkannya. Mengusap air matanya lalu memeluknya.
Setelah menikah, ayah resign dari pekerjaannya, dan mencari pekerjaan serabutan yang bisa ia kerjakan. Mereka menetap di kediaman sang istri muda. Di sana lahirlah dua anak perempuan mereka yang selisih umur 2 tahun, Ayana dan Ladia. Karena mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaannya, ayah menyerahkan Ayana dan Ladia pada Ibu dengan perjanjian bahwa ayah akan menafkahi mereka berdua setiap bulan dengan sejumlah uang yang nominalnya tidak terlalu besar. Entah perasaan apa yang ada dalam diri ibu, ia bersedia mengurus kedua anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Ibu mengurus dan memberi kasih sayang selayaknya ibu kandung bagi mereka.
Dua tahun setelahnya, kakakku, Lila saat itu telah dewasa. Ayah ingin dia mengikuti tes polisi. Ia mencoba namun gagal. Akhirnya ia melanjutkan pendidikan S1 sambil bekerja di Bali. Namun, keadaan pandemi menghalangi pekerjaan dan pendidikannya, ia pun kembali kerumah tempat ibu tinggal. Ayah menyuruhnya untuk bekerja di kota tempat Tante Rita tinggal.
Ia tidak mampu menolak perintah ayah ditambah ibu pun memintanya untuk bekerja daripada terus menerus keluar bersama teman-temannya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Berangkatlah ia ke rumah Tante Rita. Saat itu bertepatan, adik laki-laki Ladia lahir yaitu anak ketiga ayah dengan Tante Rita, Shaka namanya.
Kakak menetap di rumah itu bersama ayah, Tante Rita, dan Shaka. Karena kesibukan mereka semua dengan pekerjaan mereka masing-masing, Shaka pun merasakan hal yang sama seperti kedua kakak nya. Dia dibawa kerumah ibu, ayah meminta ibu mengurus Shaka. Jadi, ketiga darah daging Tante Rita ia urus dengan kasih sayang yang sama besarnya seperti kasih sayang ibu kepadaku, Kakak Lila dan Wira. Sedangkan ayah, hanya bisa pulang pergi mengambil cuti untuk bisa bertemu dengan anak-anaknya.
Setahun sejak Kakak Lila tinggal bersama Tante Rita, ayah mendapat panggilan pekerjaan di salah satu pertambangan di Kalimantan Timur. Aku rela ia pergi sejauh itu, Aku tidak mau melihatnya lagi. tapi aku juga merasakan sedih. Aku kecewa, namun aku tidak sebenci itu padanya, aku hanya kecewa atas tindakannya yang lalu. Entahlah, perasaan ini saling bertabrakan.
Selama ia di sana, ia selalu ingin mencoba menghubungiku. Aku malas meresponnya, karena ia selalu menanyakan hal yang tidak penting, tak pernah ingin tahu tentangku. Bahkan sekadar bertanya bagaimana kabarku pun, tidak pernah. Ia selalu memikirkan Tante Rita dan selalu Tante Rita.
Ayah andai ayah tau, buah dari tindakan Ayah membuat aku takut pada laki-laki. Aku tidak pernah mau menjalin hubungan karena aku tidak percaya pada semua laki-laki. Aku labil. Aku sering dibully hanya karena aku tidak pernah berbicara, tidak bersuara saat di sekolah. Aku takut keramaian. Aku takut bertemu dan mengenal orang baru Ayah.
Tapi kini, telah kutemukan obat dari segala obat semua keresahanku. Ada pada mama dan bapak. Mungkin tak mengalir ikatan darah kandung di antara kami. Tetapi kasih sayang mereka tak pernah surut. Terus mengalir tak ada hentinya. Menjadi anak tunggal mereka yang selalu dinomorsatukan dalam berbagai hal. Selalu menjadi putri kecilnya bapak, selalu menjadi sahabat berbincang terbaik untuk mama. Temani aku tumbuh. Menjadi dewasa itu menyeramkan. Aku takut.
Satu bagian terbaik lainnya aku bertemu manusia-manusia asing yang berhasil membawaku ke fase berani untuk mengenal dunia lebih luas, lebih bebas. Mereka, teman-teman yang kutemui saat titik terendahku menerkam. Ternyata dunia sangat indah, banyak tempat asik dan indah untuk dikunjungi sebelum pulang.
“Lean, aku ingin berteman dengan layak. Tak ada penindasan dan tekanan. Tetap ada ya, peluk aku jika aku menangis.” Mohonnya di ujung kisah.
“Aku akan selalu mendengar semua ceritamu, dan memelukmu setiap kamu merasa sedih. Ingat, kita harus menjadi arsitek handal. Kamu harus capai titik sukses yang sudah diatur tuhan. Jangan menyerah, tetap hidup dan bahagia.” Sahutku menyunggingkan senyum.
“Maaf Ayah, tak bermaksud mengabaikanmu. Aku trauma.”
Annisa Berliana. Lahir di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 4 Maret 2005. Aku mulai senang menulis sejak usiaku memasuki remaja. Kini aku tengah menempuh pendidikan di salah satu SMK teknik di Sumbawa, SMK Negeri 2 Sumbawa Besar.