

Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria
Terlepas dari perbedaan perhitungan kapan bulan syawal berawal, kini umat Islam telah memasuki perayaan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Berbagai permintaan maaf pun terus mengalir mulai dari kaum kerabat, teman dekat sehingga para sahabat dimanapun mereka berada baik secara langsung ataupun melalui media massa seperti media cetak, media elektornik, media sosial dan lain sebagainya.
Pada umumnya, kalimat permintaan mohon maaf itu bila dirangkum akan tersusun sebagai berikut:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H / 2026 M
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Taqabbalallāhu minnā wa minkum shiyāmanā wa shiyāmakum. Kullu ‘āmin wa antum bikhair. Allāhummaj’alnā wa iyyākum minal ‘āidīn wal fāizīn wal maqbūlīn.
Artinya: “Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Semoga setiap tahun Anda (selalu) dalam keadaan baik/sejahtera. Ya Allah, jadikanlah kami dan kalian termasuk golongan orang-orang yang kembali (ke fitrah), orang-orang yang meraih kemenangan, dan orang-orang yang diterima (amal ibadahnya).”
Penggalan ucapan kalimat “Minal Aidin Wal Faizin” yang berarti “Semoga kita termasuk golongan yang kembali (kepada fitrah) dan golongan yang meraih kemenangan”, bukanlah sekadar retorika, melainkan sebuah gelar spiritual.
Kemenangan disini selaras dengan janji Allah SWT dalam Al-Qur’an (QS. Al-A’la: 14)
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
Qad aflaha man tazakkā
Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)”.
Kemenangan yang dimaksud adalah keberhasilan menundukkan hawa nafsu melalui rangkaian ibadah Ramadan seperti berpuasa, shalat tarawih, tadarus, sedekah, iktikaf, hingga puncaknya pembersihan diri melalui zakat fitrah.
Rasulullah SAW pula menjanjikan penghapusan dosa secara total berdasarkan (HR. Bukhari & Muslim).
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man shooma romadhoona iimaanan wahtisaaban, ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih.
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
Lebih lanjut, dalam (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah) dituliskan
مَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Man shoomahu wa qoomahu iimaanan wahtisaaban, khoroja min dzunuubihi kayaumi waladat’hu ummuh.
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa dan menghidupkan malamnya (salat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari saat ibunya melahirkannya”.
Maka sesungguhnya yang berhak menyandang gelar Minal Aidin Wal Faizin itu adalah mereka yang dosanya diampuni hingga bersih layaknya bayi yang baru lahir, sekaligus merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.
Sedangkan mereka yang melewati Ramadhan tanpa perubahan perilaku dan tanpa ibadah yang berarti, sejatinya hanyalah “berlebaran” secara seremonial tanpa meraih esensi kemenangan. Sungguh merugi orang yang bertemu Ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan, sebagaimana sabda Nabi: (HR. Tirmidzi).
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Roghima anfu rojulin dakhola ‘alaihi romadhoonu tsumma-nsalakho qobla ay-yughfaro lah.
Artinya: “Celakalah seseorang yang bulan Ramadhan menemuinya kemudian berakhir sebelum ia mendapatkan ampunan”.
Pada kesempatan ini, diucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Minal Aidin Wal Faizin, Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Semoga kita benar-benar kembali ke fitrah dan menjadi pemenang yang sesungguhnya, dan Allah menerima amal kami dan amal kalian. Mohon maaf lahir dan batin.
Bengkalis, 23 Maret 2026