51 Negara Penghancur Gaza: Catatan Cak AT

3

Ketika sebuah gedung runtuh akibat bom, mata kita biasanya tertuju pada ledakan itu. Kita melihat api, asap, dan puing-puing. Kita melihat korban berlarian. Kita melihat ambulans datang dan pergi.

Tetapi ledakan hanyalah bab terakhir dari sebuah cerita yang jauh lebih panjang. Sebelum sebuah bom meledak di Gaza, ada orang yang merancangnya. Ada pabrik yang membuat komponennya. Ada perusahaan yang mengirimkannya. Ada negara yang mengizinkan ekspornya. Ada kapal yang mengangkutnya. Ada pelabuhan yang menerimanya.

Dengan kata lain, setiap ledakan memiliki riwayat hidup. Itulah yang dicoba ditelusuri oleh investigasi panjang Al-Jazeera.

Setelah membongkar jutaan data impor militer Israel, mereka tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak senjata yang masuk. Mereka melangkah lebih jauh. Mereka mencoba melihat dari mana senjata itu berasal, siapa yang memasoknya, dan bagaimana rantai pasokan itu tetap bekerja ketika dunia sedang menyaksikan kehancuran Gaza.

Hasilnya mencengangkan. Perang ternyata tidak hanya berlangsung di Gaza. Perang juga berlangsung di ruang rapat perusahaan, di kawasan industri, di kantor bea cukai, dan di jalur perdagangan internasional.

Data yang dianalisis Al-Jazeera menunjukkan bahwa Amerika Serikat merupakan pemasok terbesar barang terkait militer ke Israel selama perang Gaza. Nilainya mencapai lebih dari 42 persen dari seluruh impor militer yang tercatat.

Di posisi kedua terdapat India dengan sekitar 26 persen. Setelah itu menyusul Romania sekitar 8 persen, Taiwan sekitar 4 persen, dan Republik Ceko sekitar 3 persen. Lima negara ini saja menyumbang lebih dari dua pertiga seluruh nilai impor militer yang masuk ke Israel.

Namun kisahnya tidak berhenti pada lima negara itu. Investigasi Al-Jazeera menemukan sedikitnya 51 negara dan wilayah otonom yang terhubung dengan rantai pasokan militer ke Israel selama perang berlangsung.

Besarannya memang berbeda-beda. Ada yang menyumbang dalam jumlah sangat besar. Ada pula yang nilainya relatif kecil. Namun semuanya tercatat sebagai bagian dari jaringan yang sama.

Amerika Serikat, India, Romania, Taiwan, dan Republik Ceko hanyalah nama-nama teratas dalam daftar itu. Di bawah mereka muncul nama-nama lain yang mungkin mengejutkan banyak orang.

Ada China yang selama perang tercatat memiliki impor terkait militer ke Israel senilai sekitar 71,1 juta shekel atau lebih dari Rp320 miliar.

Yang menarik, sekitar 83 persen dari nilai tersebut terjadi setelah Mahkamah Internasional (ICJ) pada 26 Januari 2024 memperingatkan adanya risiko genosida di Gaza.

Ada Singapura dengan nilai sekitar 20,2 juta shekel atau sekitar Rp91 miliar. Sekitar 88 persen dari jumlah itu juga tercatat setelah putusan ICJ.

Ada Swiss dengan nilai sekitar 9 juta shekel atau sekitar Rp40 miliar. Hampir seluruhnya, sekitar 98 persen, terjadi setelah putusan ICJ.

Ada Turki, yang dikenal rakyatnya sering berdemo anti-Israel. Namun data impor Israel menunjukkan barang terkait militer yang berasal dari Turki tetap tercatat senilai sekitar 7,5 juta shekel atau sekitar Rp34 miliar.

Sekitar 79 persen impor terjadi setelah putusan ICJ. Tapi, Presiden Recep Tayyip Erdogan yang dikenal sebagai pemimpin paling keras mengkritik Israel mengakui sudah dihentikan total segala impor senjata ke Israel setelah tahun 2023.

Ada pula Brasil dengan nilai sekitar 8,7 juta shekel atau hampir Rp40 miliar. Sekitar 80 persen juga terjadi setelah peringatan dari Mahkamah Internasional.

Selain itu terdapat Belanda, Bulgaria, Korea Selatan, Vietnam, Kanada, Prancis, Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Azerbaijan, dan puluhan negara lainnya yang namanya muncul dalam data impor Israel yang dianalisis Al-Jazeera.

Daftar ini tidak otomatis berarti bahwa semua negara tersebut memiliki tingkat keterlibatan yang sama.

Ada yang memasok dalam jumlah sangat besar. Ada yang sangat kecil. Ada yang mengaku tidak memberikan izin baru. Ada yang menjelaskan bahwa sebagian pengiriman berasal dari kontrak lama. Ada pula yang menyatakan bahwa barang-barang tertentu tidak termasuk kategori yang mereka larang.

Namun satu hal sulit dibantah. Nama mereka ada dalam data.

Angka-angka itu penting karena menunjukkan bahwa perang modern bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia lebih mirip pohon besar yang akarnya menjalar ke banyak tempat. Ketika sebuah cabang patah di Gaza, akarnya bisa berada ribuan kilometer jauhnya.

Salah satu temuan yang paling menarik datang dari India. Al-Jazeera memperoleh dokumen kepabeanan yang memperlihatkan hubungan perdagangan antara sejumlah perusahaan India dan perusahaan pertahanan Israel. Dokumen itu membuka sesuatu yang jarang terlihat oleh publik, yaitu perjalanan berbagai komponen militer sebelum berubah menjadi bagian dari sistem persenjataan.

Perusahaan Kalyani Rafael Advanced Systems, misalnya, tercatat mengirim 554.120 unit komponen fragmentasi kepada Rafael Advanced Defense Systems di Israel. Menurut para ahli yang diwawancarai Al-Jazeera, komponen ini lazim digunakan dalam munisi yang menyebarkan pecahan logam saat meledak.

Lima ratus lima puluh empat ribu seratus dua puluh unit. Angka itu terdengar seperti laporan stok gudang. Namun setiap unit pada akhirnya merupakan bagian dari sebuah sistem yang dirancang untuk menghasilkan daya rusak.

Perusahaan lain, Kalyani Strategic Systems, tercatat mengirim 50 badan proyektil artileri kaliber 155 milimeter kepada IMI Systems di Israel. Para ahli menjelaskan bahwa bagian ini merupakan cangkang utama proyektil yang nantinya diisi bahan peledak.

Kemudian ada Economic Explosives Limited yang mengirim 99.400 unit booster pellet. Fungsinya sederhana tetapi penting. Komponen ini membantu memicu ledakan yang lebih besar.

Ada pula Ashoka Manufacturing yang mengirim ratusan komponen logam untuk munisi.

Semua transaksi itu tercatat secara resmi. Tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tidak dilakukan di lorong gelap. Tidak dilakukan oleh jaringan kriminal.

Justru di situlah letak pelajarannya. Perang modern tidak selalu bergerak dalam bayang-bayang. Banyak bagiannya berjalan melalui prosedur yang sah, dokumen yang lengkap, dan sistem perdagangan yang resmi.

Karena itu, ketika kita melihat reruntuhan di Gaza, sebenarnya kita sedang melihat ujung dari rantai yang sangat panjang. Rantai itu menghubungkan pabrik, perusahaan, pelabuhan, kapal, kontrak, dan negara-negara yang mungkin tidak pernah muncul dalam gambar-gambar dari medan perang.

Bagi sebagian orang, perang adalah peristiwa militer. Bagi sebagian yang lain, perang adalah urusan logistik.

Selama pabrik tetap berproduksi, selama kontrak tetap berjalan, dan selama jalur pasokan tetap terbuka, maka perang akan selalu menemukan cara untuk bertahan hidup.

Di situlah ironi besar abad modern. Manusia berhasil membangun jaringan perdagangan global yang luar biasa efisien.

Barang dapat berpindah dari satu benua ke benua lain dengan cepat dan tepat. Namun jaringan yang sama ternyata juga dapat digunakan untuk memindahkan komponen-komponen yang pada akhirnya berkontribusi pada kehancuran sebuah kota.

Selama ini kita bertanya siapa yang menjatuhkan bom di Gaza. Investigasi Al-Jazeera mengajukan pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman: siapa yang membuat bom itu, siapa yang mengirimkannya, siapa yang mengizinkan perjalanannya, dan siapa yang memilih untuk tetap menutup mata ketika semua itu berlangsung.

Karena pada akhirnya, sebuah ledakan tidak pernah lahir sendirian. Ia adalah hasil kerja banyak tangan yang saling tidak mengenal, tetapi bertemu dalam satu tujuan: memastikan rantai pasokan tidak pernah terputus.

(Bersambung)

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 11/6/2026

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan