Wahai orang Melayu semesta
Bersatu padu harmoni tercipta
Sesuai tindak berucap kata
Barulah jaya hidup tertata
(Syair Melayu Semesta)
Dalam sebuah perhelatan Seminar Internasional bertema Alam Melayu: Sejarah, Warisan, dan Perjuangan di Pekanbaru, Datok Seri Lela Budaya Rida K Liamsi (Budayawan) mengingatkan kita semua tentang lima cara merawat teras budaya Melayu. Cara tersebut telah tersimpul dalam butir-butir Tunjuk Ajar Melayu karya Tenas Effendy. Kelima teras budaya Melayu itu adalah kecerdasan, keterbukaan dan budaya lentur, kearifan lokal sebagai sikap hidup, kesetiaan terhadap konsep hidup, dan tidak serakah.
Buku Kumpulan Syair Melayu Semesta yang ditulis Muhammad Rizal Ical adalah salah satu cara nyata merawat teras budaya Melayu itu. Dengan literasi diyakini kekokohan teras Melayu akan abadi. Upaya yang dilakukan penulis bukanlah upaya yang biasa, namun upaya yang memerlukan berbagai kecerdasan menemukan, merangkai, dan memberikan sentuhan hikmah dari setiap syair yang ditulisnya.
Syair dikenal sebagai salah satu cara memberikan kisah dan hikmah. Menulis syair termasuk pantun, gurindam, dan karya-karya sastra lama lainnya merupakan anugerah Allah pada orang Melayu. Anugerah itu bernama kecerdasan linguistik. Tidak semua suku bangsa diberi anugerah itu. Melayu dipilih Allah untuk merawat peradaban melalui literasi yang telah terpelihara dari zaman berzaman. Merangkai kata dengan struktur syair yang berakhiran a-a-a-a memerlukan kecepatan berpikir dan memilih kata dan pesan yang tepat.
Kumpulan 51 syair dalam buku ini berisikan nasihat dan petuah hidup yang tumbuh kembang di tengah-tengah kita. Saat membacanya kita dibawa larut dalam perenungan terdalam tentang hakikat hidup. Berbincang tentang keheranan akan perilaku kontradiksi di tengah masyarakat, pengingatan akan kiamat yang semakin dekat, merawat ragam tradisi Melayu, kerinduan, identitas perempuan Melayu, dan lain-lain rangkaian syair yang penuh hikmah.
Sepandai-pandai tupai melompat
Tanah kembali kaki mendarat
Kalau hidup prilaku jahat
Merana dunia apalagi akhirat
(Syair Kemaruk)
Syair diharapkan bukan sekedar seni, namun tumbuh, terawat, dan berperan sebagai norma dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini ada hal yang lebih penting bagaimana cara merasuki syair dan ragam warisan literasi Melayu lainnya ke dalam hati, pikir, dan laku generasi muda. Pada merekalah titipan masa depan dunia Melayu akan berkelanjutan. Buku ini dapat dipanjangkan usianya dengan dibincangkan dalam forum diskusi dan dialihwahanakan dalam bentuk syair berbasis digital. Takkan Melayu Hilang di Bumi.
Begitulah Melayu dalam bersifat
Berbatas larangan sekat menyekat
Setinggi tegak menjunjung adat
Pantang larang tersimpul erat
(Syair Merajuk)
Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan