Takjil itu Bernama Kelempang Panggang: Cerpen Syabaharza

29

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Mega merah di langit sudah mulai menampakkan diri. Angin petang bergegas kembali ke peraduannya. Udara terik siang hari sudah berganti shift dengan dinginnya kabut malam.
Orang-orang masih ramai hilir mudik di persimpangan kota itu. Sebuah persimpangan yang selalu ramai dihadiri pengunjung. Apalagi saat itu suasana bulan ramadan. Bermacam agenda orang yang datang ke persimpangan itu. Tapi agenda utamanya adalah mencari menu berbuka puasa atau takjil. Sebelum bulan puasa persimpangan itu memang sudah ramai oleh para pedagang, namun dengan hadirnya bulan ramadan para pedagang semakin membludak, bak jamur di musim hujan, mereka tumbuh tanpa bisa dicegah.

Biasanya pasar “dadakan” menjelang berbuka dimulai pukul 14.00 sampai menjelang magrib. Makanan khas berpuasa yang dulunya tidak dijual, seketika muncul pada saat itu, sehingga makanan itu terkadang disebut makanan khusus bulan ramadan. Makanan itu ibarat iklan sirup yang selalu hadir ketika bulan ramadan tiba dan akan menghilang kembali ketika bulan ramadan berpamitan.

Bagi yang mempunyai uang dan malas membuat makanan berbuka, pasar dadakan itu sangat membantu. Mereka tinggal datang dan memesan, maka semua akan terpenuhi. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat tersedia. Minuman hangat sampai minuman dingin juga tidak sukar untuk ditemui. Harga yang ditawarkan pun terjangkau, tentunya bagi yang berduit tadi. Bagi mereka yang berduit harga-harga makanan itu tidak menjadi masalah. Sehingga ketika pulang, berkantong-kantong makanan berhasil mereka amankan. Mungkin juga pengaruh dari berpuasa, sehingga mereka memborong semua makanan yang ada. Alhasil terkadang belanjaan mereka keluar dari rencana awal. Apa yang dibawa berbeda jauh dengan apa yang ada dalam catatan belanja. Dan anehnya itu sudah sering terjadi.

Sebenarnya mereka juga tidak bisa disalahkan, karena di pasar dadakan itu semua makanan dan minuman memang menggoda. Di persimpangan itu sudah berbaris dengan rapi berbagai macam obat lapar dan obat haus, mulai dari aneka pempek, risol, dan kue-kue yang mulai tersenyum manis dari balik kotak kaca di atas sepeda motor dan meja khusus untuk merayu para pembelinya, mi instan tidak mau kalah menari dengan lincahnya di dalam kuali atau panci yang ada airnya, tekwan dan model pun lebih agresif lagi, mereka berenang dalam air mendidih sambil sesekali menampakkan wajahnya dan mengirim bau khasnya untuk menggoda orang yang lewat di depanya sampai kepada siomay yang terus menjerit sambil sesekali mengeluarkan asapnya.

Aneka minuman pun tidak kalah eksotisnya. Dengan berbagai warna yang mereka miliki terus menebarkan pesonanya. Kemasan mereka juga sangat menggoda jiwa. Dengan kemajuan teknologi, beberapa minuman dikemas dengan cantik dan menawan serta aman untuk dibawa.

*****

Di antara deretan penjual takjil di persimpangan itu, tampak ada satu pedagang yang sangat kontras dengan pedagang lainnya. Mulai dari orang yang berdagang sampai kepada barang dagangan yang dibawanya. Seorang nenek dengan tubuh yang sudah renta, punggungnya sudah tidak bisa berdiri dengan tegak. Kebaya lusuh khas orang Jawa terpasang rapi di tubuhnya. Tutup kepala yang hampir sama dengan kain lap menempel dengan ajeg menutupi rambutnya yang sudah didominasi warna putih. Di tangannya beberapa bungkus kelempang panggang, makanan khas sebuah daerah. Jika diamati dagangan nenek itu sangat “tidak dibutuhkan” untuk dijadikan takjil. Tapi sang nenek bersikeras bahwa dagangannya itu bisa juga dijadikan takjil untuk berbuka puasa. Dan mungkin karena hal itulah, sampai menjelang magrib tak satupun dagangannya terjual.

Walau keadaan belum berpihak kepadanya, nenek itu tetap setia menunggu “pembeli nyasar” atau “pembeli aneh” menghampirinya. Dua istilah itu sering diharapkan oleh sang nenek. Nenek itu menyebut pembeli nyasar adalah orang yang tidak sengaja parkir di depan dagangannya karena parkir penuh dan kasihan melihatnya sehingga mau membeli barang kelempang panggangnya, kemudian pembeli aneh adalah orang yang memang sengaja membeli dagangannya karena kehabisan takjil yang lain, sehingga dengan terpaksa ia membeli kelempang panggang sang nenek. Sehingga pembeli aneh ini lebih tepatnya dinamakan pembeli terpaksa.

Hari mulai gelap, jika ditaksir waktu berbuka puasa tinggal lima menit lagi. Sang nenek masih terpaku di tempat yang sama dan dengan jumlah dagangan yang sama pula. Ia masih berharap ada pembeli nyasar dan pembeli aneh yang mampir untuk sekedar membeli satu kantong saja kelempang panggangnya. Jika laku setidaknya ia bisa membeli bahan untuk sahurnya nanti. Sementara itu lapak pedagang yang lain sudah disusun rapi karena dagangan mereka sudah ludes beberapa menit yang lalu. Lampu-lampu jalan di persimpangan itu mulai menyala, tapi tidak semua hidup. Sesekali ada beberapa sepeda motor melintas menuju masjid. Harapan nenek itu mulai menipis, ia sudah pasrah tidak menemukan lagi pembeli nyasar dan pembeli aneh sore itu. Dan ia pun harus rela makan sahur dengan beberapa buah kelempang panggang miliknya.

*****

Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat di depan sang nenek. Sang nenek yang tadinya sudah berkemas untuk pulang, menunda dahulu keinginannya. Bibir sang nenek sedikit terbuka, senyumnya masih tampak manis, walau kerutan sudah menguasai seluruh wajahnya, mungkin jika masih muda sang nenek akan menjadi rebutan para lelaki karena kecantikannya. Jantung nenek itu berdebar-debar menanti penumpang mobil itu keluar. Dalam hatinya bertanya apakah ini pembeli nyasar atau pembeli aneh sore itu. Tapi ia tidak memperdulikan kedua istilah itu lagi, yang penting baginya penumpang mobil itu mau membeli barang dagangannya.

“Berapa satu kantongnya, nek?”

Seorang pria berbadan besar bertanya setelah ia keluar dari mobilnya. Mobil tertutup rapat. Kacanya dibaluti riben warna hitam pekat sehingga orang yang berada di dalam mobil tidak akan terlihat. Mobil mewah warna putih keluaran terbaru itu sangat gagah dan sesuai dengan pria yang sedang bertanya itu.

“Sepuluh ribu, pak?”

Sang nenek menjawab dengan sedikit senang. Bagi nenek itu ada harapan yang dibawa oleh pria itu. Sesaat kemudian pria itu kembali ke mobilnya dan mengetok pintu jendela. Dalam hitungan detik kaca jendela mobil itu turun dan terlihatlah seorang perempuan cantik berambut hitam panjang. Pria itu berdiskusi sejenak dengan perempuan dalam mobil.

“Bagaimana kalau lima ribu saja, nek?”

Tulisan Terkait

Pria itu berusaha menawar dagangan nenek itu, setelah tadi selesai berdiskusi dengan perempuan dalam mobil yang ternyata adalah istrinya.

“Kalau boleh nanti kami borong.”

Sang nenek tampak berpikir keras, hendak memberikan dengan harga yang ditawar tadi jelas ia tidak mendapatkan untung atau bahkan malah rugi. Mengingat barang dagangannya juga hasil mengambil dari tempat lain dengan harga 6.000, artinya jika ia melepas dengan harga yang ditawar ia akan rugi.

“Tujuh ribu, ya pak!”

Sang nenek masih berusaha berjuang, walau hanya mengambil keuntungan 1.000 dari tiap kantong kelempang panggangnya. Jika pria itu setuju, setidaknya ia akan membawa keuntungan 5.000 dari dagangannya hari itu, dan itu sudah cukup baginya untuk persiapan membeli lauk sahurnya.

Pria itu menoleh ke arah mobilnya dan memberikan isyarat tangan dengan jari telunjuk dan jempol terangkat. Dari dalam mobil sang istri hanya mengacungkan jari jempol tangannya. Kemudian ia menutup kembali jendela mobilnya dan kembali sosoknya tidak terlihat.

*****

“Apa yang mamah bilang benarkan pah!”

“Tentang apa mah?”

“Kalau mau mendapatkan harga yang murah, cari pedagang yang belum laku dan waktunya sudah mendekati malam”

“Kenapa bisa begitu mah”

“Karena mereka sangat butuh dan pasti menjual dagangannya”

“O….begitu ya mah?”

“Iya pah”

Obrolan suami istri itu terus berlanjut bersamaan dengan laju mobil yang mulai cepat. Kedua pasangan itu kembali ke rumah dengan senyum penuh kemenangan. Di bagasi mobil mereka banyak makanan dan snack dengan aneka merk. Daftar harga pun masih melekat di makanan dan snack yang mereka beli dari supermarket itu. Tampak struk belanja dengan daftar harga dan pembayaran yang sama persis. Bahkan di struk itu tertulis kelebihan pembayaran karena adanya pajak. Dan anehnya hal itu tidak dipersoalkan oleh pasangan suami istri itu.

Azan magrib berkumandang dari masjid dekat persimpangan mengiringi langkah kaki nenek penjual kelempang panggang. Kebahagian juga tampak terpancar di raut mukanya. Nenek itu bahagia karena dagangannya ludes dibeli. Kali ini nenek itu menyebut pembeli itu adalah pembeli gila. Berbeda dengan dua sebutan sebelumnya. Sebab pembeli yang barusan berani memborong barang dagangannya.*****


Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com

 

 

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan