Perjalanan Hari ke-7 (Ankara): Catatan Hening Wicara

259

Pagi itu setelah sarapan, sebagian dari peserta mengeksplorasi kawasan hotel di Cappadocia tempat kami menginap dua malam. Terutama di halaman belakangnya, lokasi latihan baca puisi tadi malam.

Ternyata pemandangannya sungguh memesona. Di belakang hotel itu mengalir sungai Kizilimak (sungai merah) yang dikenal sebagai sungai terpanjang di Turki.
Dan pada langit lembayung di hilirnya melengkung dua busur pelangi, yang bias warnanya begitu jelas.

Sementara di pagar taman, tergantung tiga pot petunia warna-warni juga: merah, pink, dan ungu.
Kuntum-kuntum petunia yang mekar sempurna dalam ketiga pot itu, telah menjadi saksi indahnya pagi, di tepi sungai Kizilimak Turki.

Menyaksikan sungai Kizilimak yang tenang, penulis jadi teringat sebuah puisi tentang sungai, yang ditulis saat perjalanan di Perth (Australia) tahun 2018 lalu, berjudul:
Sungai Swan

memandang sungai swan
rinduku mengalir
dari hulu ke hilir
tak seperti sungai di kampung halaman
arusnya deras membawa apa saja
yang dijumpai di sepanjang aliran

dibawanya gelisah daun kering
yang baru saja berpisah dari ranting
dibawanya ketakutan wadah plastik
yang tak lagi menyimpan pernak-pernik
dibawanya kepanikan karung bekas
yang tadinya memuat butir-butir beras
dibawanya keceriaan kaleng-kaleng
yang tak peduli pada karat dan rombeng

sungai Swan beda
ia begitu tenang dan bersahaja
bentuknya seperti angsa
warnanya biru mega
di kedalamannya yang entah
tersimpan banyak kisah

seperti sungai,
kadang, apa yang dengan sengaja kau simpan
lebih menggambarkan dirimu
ketimbang apa yang dengan sadar kau tampilkan

Perth, 2018

Sungai Kizilimak pun sama, ketenangannya menyimpan banyak cerita, bahkan cerita dengan beberapa peserta Wisata Puisi pun telah tersimpan di sana. Ya, beberapa dari kami mengalami hal-hal di luar nalar selama menginap 2 malam di hotel tepi sungai itu.
Sungguh, di kedalamannya yang entah, tersimpan banyak kisah.

Di halaman belakang hotel wilayah Cappadocia itu, dilakukan pembuatan 3 video puisi, yaitu: puisi Kami Datang Untukmu Turki karya Yenni Satriani, puisi Jika Turki Adalah Impian karya Nani Prihatini, dan puisi Assalammualaikum Turki karya Siti Anisa Nurlimawati.

Tepat jam 08.00 kami berangkat menuju ibukota Turki, Ankara.
Dan menjelang waktu makan siang, kami melewati danau garam yang begitu luas, bernama: Tuz Golu.
Konon, Tuz Golu merupakan danau garam terbesar di Turki. Lokasinya terletak di wilayah Anatolia Tengah, sebelah timur Konya.

Selain menjaga keindahan dan kebersihan danau garam, penduduk setempat juga mengelola garam-garam tersebut menjadi sabun dan bahan-bahan kecantikan dalam bentuk krim. Ada krim untuk penghalus kulit, pemutih wajah, penghilang kantung mata, pembasmi bruntusan, pelenyap jerawat, dll.
Sungguh, kreatif sekali!

Di Tuz Golu ini, dilakukan pembuatan sebuah video puisi karya Aning Sabariah, yang isinya mengingatkan kita betapa Turki pernah berjasa membantu Aceh pasca tsunami belasan tahun lalu. Puisi itu berjudul: Jejak Derai Lara

kutemui jejak derai lara
di tapak air mata negerimu
jejak itu, tapak air mataku jua

serpihan wajah cerah yang terhimpit duka
telah membuka rengkuhan rinduku
untuk segera mengusap dahi negerimu
yang berpeluh debu

langkahku menyisir tepi luka
pada wajah Turki
kubawa embun kasih
sesejuk yang kau hibah
akan kuusap pada nafas negerimu
yang tersengal

seperti embun kasih yang pernah kautetes
pada luka Acehku dulu
kan kuisi kasih
di celah retak riangmu

Turki,
dukamu duka kami juga

Banda Aceh, 28 April 2023

Setelah makan siang, kami tiba di Ibu Kota Turki, Ankara. Kami mengunjungi Ataturk Orman Ciftligi yang merupakan monumen makam Mustafa Kemal Ataturk (Presiden pertama Turki).
Bangunan makam tersebut begitu megah dan sangat luas, dijaga ketat oleh para tentara, namun tetap terbuka untuk umum.

Di lokasi ini, dilakukan pembuatan 3 video puisi, yaitu: puisi Pada Lembaran Doa dari Tanah Bulaeng karya Ule Ceny, puisi Mustafa Kemal Atarturk karya Lily Siti Multatuliana, dan puisi Turki Negara Idaman karya Winda Harniati.

Menyaksikan kemegahan makam Mustafa Kamal, kami jadi tergugah menulis puisi untuk Rumi:

duhai Rumi sang sufi
sungguh kami setuju denganmu
bahwa mempercantik kuburan itu
bukan dengan keramik, kayu, atau batu
melainkan dengan menggali kemurnian rohani
lalu mengubur keakuan diri
dalam kehendak Illahi

Sorenya kami bertemu perwakilan Kedubes RI untuk Turki di tengah semaraknya kota Ankara.
Di sana kami berfoto bersama sebagai dokumentasi dan bukti cinta pada negeri.

Dari kota Ankara, kami meneruskan perjalanan dengan bus ke kota Istanbul.
Di sepanjang perjalanan kami saksikan kemolekan alam Turki sambil ngemil buah Cherry yang manis dan segar.
Di Indonesia buah Cherry seringkali dijumpai dalam bentuk manisan sebagai penghias kue tart. Sedangkan di Turki, kami menikmati buah Cherry yang baru dipetik dari pohonnya. Karena memang saat itu di Turki lagi musim buah Cherry.
Sungguh, Cherry sangat cocok sebagai cemilan di perjalanan musim panas, sekaligus pengusir kantuk.

Kami kembali melewati salahsatu jembatan megah pemersatu benua. Yaitu jembatan di atas selat Bosphorus. Ya, kami telah menyebrang dari benua Asia ke benua Eropa. Gemerlap cahaya di sepanjang jembatan dan kilau lampu-lampu di kedua benua sungguh menyajikan pesona tersediri saat kami melintasi jembatan gagah ini.

Membahas jembatan, penulis jadi teringat kata-kata Rumi sang pujangga yang terpampang di salahsatu tiang di mevlana museum:
Love is the bridge between you and everyting.
(“Cinta adalah jembatan antara anda dan segalanya”).

Akhirnya kami tiba di Istanbul pada pukul 21.00, untuk makan malam dan menginap di hotel Park Inn.
Usai makan malam, peserta Wisata Puisi Turki (Kelompok 1) yang di koordinir oleh Aning Sabariah melakukan latihan bersama, dipandu langsung oleh ketua rombongan Wisata Puisi, bang Asnur.
Dengan puisi berjudul: Pukulan dari Langit

ketika sebuah pukulan dari langit menghantam dirimu
bersiap-siaplah
karena setelah itu,
akan kau terima hadiah penghormatan

sebab,
tak mungkin Sang Raja menamparmu
tanpa memberimu sebuah mahkota
dan sebuah tahta untuk diduduki

seluruh alam dunia
hanya senilai sebelah sayap kutu
tapi satu tamparan dapat memberimu ganjaran tak terperi

cepatlah,
lepaskan lehermu dari rantai emas
yaitu dunia ini
dan terimalah tamparan dari Rabb

para nabi telah menerima pukulan seperti itu
di leher mereka
karenanya kepala mereka tegak

maka, wahai para pencari
siapkan dirimu
selalu penuh perhatian
hadirkan dirimu,
agar DIA temukan engkau di tempatmu

jika tidak,
DIA akan ambil kembali hadiah penghormatan itu
seraya berkata
“tak Ku-temukan seorangpun di sini”

Jalaluddin Rumi, abad 13

(bersambung)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan