Ramadan dan Pintu-Pintu Ibadah Pilihan: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

32

Ramadan di hari ke-11, semoga kita telah memiliki pintu amal unggulan yang bisa tunjukkan sebagai jawaban di hadapan Allah swt kelak.

Syaikh Prof. Dr. Su’ud Asy-Syuraim (Imam dan Khatib Masjidil Haram) mengatakan sesungguhnya tidak layak menjadikan bulan Ramadan sebagaimana bulan-bulan biasanya. Salat di bulan Ramadan harus lebih baik dari salat di luar Ramadan, tilawah di bulan Ramadan harus lebih dibandingkan luar Ramadan, kedermawanan di bulan Ramadan harus lebih baik lagi dibandingkan bulan biasanya. Jika seseorang tidak bisa memilih pintu kebaikan melalui salat, maka ia bisa memilih tilawah, jika tidak bisa maka bisa melalui sedekah, jika tidak bisa maka boleh melalui zikir atau ibaah yang lainnya, dan selemah-lemahnya ibadah seseorang adalah bagaimana ia menjaga tubuh dan lisannya dari hal-hal yang merusak ibadah. Barangsiapa yang tidak bisa memanfaatkan hal itu, maka sesungguhnya demi Allah betapa ia mengalami kerugian yang nyata.

Sementara Syaikh Prof. Dr. Abdurrahman As-Sudais mengatakan, sungguh kebanyakan hal yang merugikan bagi manusia yang berpuasa adalah tidur di siang hari dan begadang di malam hari untuk melakukan hal-hal yang tidak bernilai ibadah.

Bahkan melakukan hal-hal yang bisa dilakukan di luar bulan Ramadan pun termasuk kondisi yang membuat kita akhirnya lalai memanfaatkan waktu untuk ibadah.

Ibadah yang Indah di Bulan Ramadan

Nikmat Ramadan adalah ketika kita merasakan beribadah lebih indah dibandingkan bulan-bulan yang lainnya.

Seseorang yang mampu menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam satu hari, dua hari, tiga hari, adalah mereka yang merasakan indahnya membaca Al-Qur’an.

Saya bisa pastikan mereka yang bisa duduk berjam-jam membaca Al-Qur’an adalah mereka yang bisa menikmati bacaan yang ia baca. Ia tidak sedang membaca, tetapi ia sedang menikmati Al-Qur’an sebagai al-maidah (hidangan) di bulan Ramadan.

Tulisan Terkait

Allah Maha Besar yang memberikan kekuatan kepada hamba-hambaNya untuk beribadah lebih baik di bulan Ramadan. Maka yang harus kita lakukan adalah berdoa agar Allah memudahkan dalam ibadah, agar Allah memberikan kenikmatan dalam melaksanakan ibadah itu.

Bahkan meski kita tidak merasakan nikmatnya ibadah itu, kita tetap harus memaksa diri kita untuk mencari titik nikmatnya ibadah.

Sebagai contoh, saya membaca Al-Qur’an di halaman-halaman pertama terasa malas, mengantuk, lelah, dan seterusnya. Jika saya berhenti, maka saya hanya akan mendapatkan semua itu.

Namun, saya memaksanya. Ternyata di halaman kesepuluh saya menemukan indahnya membaca ayat-ayat Al-Qur’an tersebut. Sampai akhirnya saya tidak sadar sudah membaca lebih dari 2 juz.

Maka, titik kenikmatan ibadah itulah yang harus kita temukan. Caranya ya harus dipaksa jika kita belum menemukannya. Hal ini juga berlaku di ibadah-ibadah yang lain.

Salat malam misalnya, kenapa orang bisa tahajjud lebih dari satu jam untuk beberapa rakaat saja. Ternyata memang karena mereka menemukan indahnya mengadu kepada Allah dalam bacaan salatnya, indahnya berdoa dalam tangisan usai sujud. Sungguh Allah Maha Besar yang memberikan kesempatan kita untuk beribadah di bulan.

Allah Maha Besar, semoga Allah memberi kita kekuatan beribadah yang lebih baik di Ramadan ini. Karena kita tahu setiap detik kita bisa saja melakukan kemaksiatan, maka semoga Allah mengampuni kemaksiatan itu dan memberikan nikmat indahnya ibadah di hati kita.

Ya Rabb, ampuni kami.

Lubuk Batu Jaya, 11 Maret 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan