
“Ahh sudahlah hantarkan saja si Aisyah itu belajar ke sekolah agama di kota Cerenti. Di sana banyak pondok dan sekolah agama yang kalibernya sudah di tingkat elit bahkan sudah diakui oleh dunia”. ujar H. Sodhikin kepada isterinya Hj. Siti. Rukoyah.
Hj. Siti Rukoyah juga sempat membantah dan menawarkan ke tempat lain untuk pendidikan putri mereka Aisyah yang kini sudah menamatkan pendidikannya di tingkat Sekolah Dasar.
H. Sodhikin dan Hj. Siti. Rukoyah merupakan kedua orang tua dari Aisyah seorang Perempuan yang berasal dari suatu kampung (Desa) yang letaknya jauh di pinggiran kota yakni di Desa Dorola). Aisyah adalah sebuah sosok tubuh yang sangat Ayu, cantik, ramah, sopan dan santun dalam bertutur kata. Bila ada seorang pria yang melihatnya pastilah tergagum-gagum dan bisa secepatnya jatuh cinta.
Di sisi lain seorang perjaka bernama Ruslan dari Desa Kaula pun mempunyai maksud yang sama dengan kedua orang tua Aisyah yang ingin melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren di Kota Cerenti yang diceritakan diatas.
Ruslan adalah seorang putra dari pasangan H. Kasman dan Hj. Maisarah. Hj. Maisarah meninggal dunia lebih dahulu dari suaminya saat Ruslan berumur 3 tahun. Hj. Maisarah meninggal dunia karena penyakit jantung yang di deritanya. Sementara H. Kasman adalah seorang ustadz dan tokoh agama di tempat mereka tinggal yakni di desa Kaula.
“Ruslan….. sini nak….kau akan ku masukan ke sekolah agama (Pondok Pesantren) setelah kau tamat dari Sekolah Dasar (SD) nanti,” ucap H. Kasman.
“Iya Ayah, baik lah,” jawab Ruslan.
Pondok pesantren itu bernama Pondok Pesantren Telaga Al Kautsar. Ponpes Telaga Al Kautsar adalah sebuah lembaga pendidikan berbasisiskan agama dengan status Ponpes Swasta yang terdapat di sebuah kota bernama Kota Cerenti. Ponpes ini menjadi pusat pendidikan keagamaan dan telah didirikan secara turun temurun oleh seorang Kiyai dari tanah Jawa yakni KH Mustofa Salam, sebelum Indonesia merdeka hinggalah masa Aisyah dan Ruslan menuntut Ilmu di tempat itu.
Ponpes ini mengkonsentrasikan diri dengan mengajarkan kitab-kitab klasik dan sedikit ilmu modern seperti Matematika, Biologi dan Fisika. Sepertinya Ponpesh ini siap untuk mencetak para kader yang Santri tapi juga ahli dalam ilmu hitung-hitungan (eksakta) ditambah dengan sedikit dengan ilmu makhluk hidup.
H. Kasman menitipkan putranya si Ruslan ke Ponpes Telaga Al Kautsar dengan maksud menjadi anak yang berjasa, berguna dan dapat meneruskan cita-citanya membimbing masyarakat di desanya menuju jalan yang selamat sebagai seorang Ustadz.
Sedangkan sholehah Aisyah pula gadis sekaligus seorang Kembang Desa bermaksud melanjutkan studi dan untuk mencari bekal diri menghadap ilahi rabbi dengan berbudi pekerti serta akhlak dan niat yang suci menjaga harkat dan martabat keluarga. Singkatnya ingin menjadi seorang muslimah sejati.
Ruslan dan Aisyah kini resmi diterima menjadi santri dari Ponpes Telaga Al Kautsar Kota Cerenti. Di Ponpes inilah mulai tumbuh benih cinta dan kasih sayang dua orang insan yang pada akhirnya tidak ditakdirkan menjadi sepasang suami isteri.
Hari ke-15 pada bulan Syawal setiap tahun, Ponpes Telaga Al Kautsar akan memulai tahun ajaran baru, hal ini sebagai pertanda secara resmi di Ponpes itu proses belajar mengajar (Pembelajaran) untuk tahun ajaran baru telah dimulai. Alasan Ponpes Telaga Al Kautsar memilih tanggal 15 hari bulan Syawal, karena bulan Syawal (Idul Fitri) adalah bulan atau hari kemenangan, maka alangkah baiknya setelah menang di satu babak dilanjutkan untuk memulai pada babak selanjutnya (babak baru) yakni dengan menuntut ilmu pengetahuan.
Ruslan dan Aisyah serta teman-teman mereka di Ponpes Telaga Al Kautsar pun kini mulai mempelajari kitab-kitab klasik dan ilmu pengetahuan eksakta serta ilmu mahkluk hidup.
Selama menimba ilmu Aisyah Sang Kembang Desa nan Anggun Rupawan, memiliki pretasi belajar terbaik bahkan sedikit melebihi teman-teman sejenisnya. Barangkali hal ini disebabkan oleh asal usulnya sebagai seorang perempuan desa yang letaknya masih jauh dari pengaruh buruk, jelek dan jahatnya perbuatan manusia seperti di kota, sehingga masih memiliki pikiran yang jernih dan dengan cepat mampu menangkap dan mencerna ilmu pengetahun yang diajarkan. Selain itu munhkin juga berkat doa kedua orang tuanya yang tulus ikhlas sehingga tak heran dia pun di panggil dengan nama Kartini Telaga Firdaus.
Sewaktu duduk masih di bangku kelas satu, Aisyah terus memperoleh juara umum pertama. Begitu juga sewaktu duduk di kelas dua dan tiga dan seterusnya ia berhasil mendominasi sebagai juara umum diantara teman-teman muslimahnya yang lain. Kalau pun pernah turun, itu pun hanya terjadi pada ujian semester dikarenakan tulisannnya terkadang sulit dibaca.
Suatu hari Kiyai Zawawi salah seorang ustadz sekaligus pengasuh di Ponpes Telaga Firdaus pernah berkata, “Aisyah itu sudahlah anaknya baik, sopan, cantik dan anggun, pintar pula dalam bidang akademik. Tutur katanya yang halus dan aduhaiiiii manis sekali, pokoknya sangat beruntung lelaki yang bisa memilikinya”.
Sementara sosok si Ruslan pula seorang Pria tangguh dari Desa Kaula mempunyai prestasi lebih menonjol dari teman sejenisnya dalam segala hal. Beberapa pertanyaan dan permasalahan dari para ustadz di Ponpes Telaga Al Kautsar mampu dijawab dengan cepat dan tepat serta mampu memberikan solusi apabila permaslahan itu begini maka solusi menghadapinya adalah begini dan begitu.
Kecerdasan yang dimiliki Ruslan ini berkat latar belakang dirinya sebagai anak dari salah seorang tokoh agama ustadz dari sebuah desa atau anak kampung. Orang tuanya H. Kasman selalu membantu masyarakat dengan ilmu pengetahun yang dimiliki dibarengi dengan keikhlasan dihatinya, ditambah dengan doa dari dirinya yang memang berkeinginan mempersiapkan Ruslan menggantikan posisinya sebagai tokoh agama dan masyarakat atau seorang ustadz.
Mengetahui perihal Aisyah dan Ruslan yang sama-sama memiliki kepintaran dan kesesuaian, Si Udin dan Si Joko (Teman laki-laki Ruslan di Telaga Al Kautsar) berbisik dan berkata “ Andaikan Aisyah dan Ruslan berjodoh kira-kira apa jadinya ya..sulit sekali untuk kita bayangkan”.
Keseharian di Pondok Pesantren Telaga Al Kautsar itu antara Aisyah dan Ruslan tampak semakin akrab. Terkadang keduanya saling berdiskusi dan bertukar pikiran tentang cara pandangan dan pemikiran dari suatu permasalahan jika itu mereka dihadapi . Sedang asyiknya berdiskusi mata Ruslan sesekali tertunduk malu karena hatinya sudah mulai ditawan oleh kejeniusan Aisyah si Kembang Desa yang memberikan jawaban demi jawaban.
“Ruslan kamu setuju dengan pendapat yang telah ku utarakan tadi kan,” tanya Aisyah
“Aku juga setuju Aisyah ya Aku sangat setuju, terlebih pendapatmu itu baru kali ini aku dengarkan”, suara Ruslan keluar dengan mata sesekali tertunduk malu dan mengagumi akan kepintaran dan kecantikan yang dimiliki Aisyah.
Ruslan kini bukan saja mengagumi pkepintaran Aisyah tapi lebih dari itu Ruslan telah pun jatuh cinta kepada Aisyah. Hari-hari terasa lebih indah bila bersama Aisyah. Bila satu hari tidak melihat Aisyah maka akan terasa gelaplah seisi dunia seperti matahari tak lagi mampu bersinar menerangi alam semesta. Bagi Ruslan Aisyah adalah segala nya dan hidupku kini kutujukan padamu.
Tak berlangsung lama kebahagiaan yang dimiki Ruslan dan Aisyah pun akan segera berakhir. Belum sempat ke jenjang pernikahan, Pendidikan mereka di Ponpes Telaga Al Kautsar pun ditahap akhir. Mereka akan di wisudakan karena waktu mengecap pendidikan di Telaga Al Kautsar sudah selesai. Pada hari wisuda itulah baru si Ruslan dengan matanya pertama kali betul-betul melihat kecantikan dan keindahan dari diri seorang Aisyah, yang kebetulan sedang mengenakan baju Muslimah nan indah seperti seorang bidadari atau seperti seorang permaisuri.
“Aisyah …. Boleh ku pinjam bajumu sebentar selama lebih kurang dari lima menit saja,” ujar Ruslan mengkagumi kecantikan Aisyah.
“Manalah bisa Ruslan, ini kan baju perempuan,” balas Aisyah dengan nada polos.
Itulah bahasa yang digunakan oleh Ruslan untuk mengungkapkan isi hatinya bahwa sebenarnya ia telah benar-benar jatuh cinta pada Aisyah namun ia tak berani untuk mengungkapkan sebenarnya dengan lidahnya. Sedangkan Aisyah menjawab dengan penuh rasa malu bercampur gembira, tapi kelihatan tanda-tanda diwajahnya bahwa dia juga mencintai Ruslan.
Setelah Tamat atau Wisuda dari Ponpes Telaga Al Kautsar itu, Ruslan tak lagi pernah bertemu dan melakukan kontak dengan Aisyah. Ruslan kini telah berusia 40 tahun dan telah dikarunai sepasangan anak berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan. Hidup berkeluarga dan berpasangan dengan si Nafisah seorang perempuan muslimah muda, denga umur selisih 3 tahun dibawah dari umurnya.
Hidupnya tetap berjalan normal seperti orang kebanyakan, walaupun cinta pertamanya tertuju pada Aisyah si Kembang Desa yang anggun, cantik nan rupawan serta Intelek dan muslimah sejati.
Suatu hari ketika Ruslan pergi ke luar kota hendak memberikan pengajian dan menyampaikan materi di salah satu seminar di sebuah hotel, Ruslan sangat terkejut dan tak menyangka di hotel tempat ia menginap dan memberikan materi, bertemu dengan seorang Aisyah kekasihnya dulu di Ponpes Telaga Al Kautsar, yang saat itu menjadi ketua panitia dari kegiatan seminar tersebut. Waktu itu si Ruslan lagi istirahat sejenak melepaskan lelahnya di cafe hotel (Tempat Ngopi di Hotel). Ketika sambil duduk menikmati segelas kopi dan secarik kue mueh yang tersedia, dari kejauhan ia melihat sesosok perempuan yang dulu pernah ia lihat. Wajah itu bahkan kian mendekat dan masuk menusuk tajam ke relung hatinya yang paling dalam. Iya itu lah Aisyah Si Kembang Desa dari sebuah Desa Kaula, dan sosok perempuan itu terus menghampiri Ruslan.
“Assalamualaikum.. Ruslan, betulkah ini Ruslan.. Ruslan yang dulu pernah belajar di Ponpes Telaga Al Kautsar”.Sapa Aisyah.
“Waalaikum salam… Aisyah…. Aisyah Binti H. Kasman.. Apa kabar ….tak banyak berubah kamu Aisyah masih seperti yang dulu…. Dalam hati Ruslan, Aisyah masih tetap Cantik dan Anggun seperti dulu yang pernah ia jumpai di Ponpes Telaga Al Kautsar”.Jawab Ruslan
“Alhamdulillah… baik Ruslan, saya sehat…Saya ketua panitia disini…panitia kegiatan seminar yang digelar di hotel ini. Kamu sendiri gimana ???”, Aisyah balik bertanya
“Alhamdulillah Aisyah.. sehat dan butuh istirahat sebentar untuk segarkan pikiran dan tubuh ini,” balas Ruslan.
Akhirnya terjadilah dialog panjang antara kedua alumni Ponpes Telaga Al Kautsar itu, sampai-sampai mereka menceritakan kondisin mereka masing-masing yang telah berumah tangga dan mempunyai keturunan dari buah perkawinan mereka itu sendiri.
Seminar pun usai. Menjelang pulang ke rumah untuk menjumpai anak dan keluarga tercinta, Ruslan merenung sejenak sambil di dalam hatinya berkata ”Ya Allah Aku bertemu dengan seorang Aisyah. Aisyah adalah Cinta pertama ku. Tapi aku tak berhak memilikinya. Siapalah Aku. Apa yang terjadi dengan diriku mengapalah aku”. Pada akhirnya Ruslan mengambil secabik kertas dan sebatang pena dan menuliskan kata-kata.
“Cinta itu tak harus memiliki. Cinta ini boleh untukmu tapi diri dan jiwa ini bukan lah diciptakan khusus untuk dirimu. Jiwa dan diri ini teruntuk Dia yang memang telah menggenggam seluruh jiwa dan ragaku. Maka akan dapat ku temui dari siapa dan kemanakah sebenarnya jati diriku ini. Ya .. untuk Dia Sang Ilahi Robbi yang menguasai seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi. Hidup ku saat ini adalah pinjaman dan sementara yang harus terus kujalani, jangan pernah disesali, jangan pernah mengeluh tetap syukuri, untuk meraih kebahagiaan dan kebaikan yang abadi, menuju kehidupan akhirat yang tak pernah di dengar, di lihat, dan terlintas di dalam hati, sungguh kenikmatannya tak terbayangkan dan tak bisa untuk ku tuliskan lagi”. Thanks You Allah.
Bengkalis, 21 Januari 2024
Hendrizon Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024 -2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 6561 9584