Mengukur Kedalaman Cinta Perempuan: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

58

Beberapa waktu lalu seorang teman kuliah menelpon saya. Dia menangis sejadi-jadinya, sedang di rumah sakit dan dirawat. Dia bilang dia langsung sakit saat lelaki yang sudah menjanjikan pernikahan untuknya tiba-tiba membatalkan. Lelaki itu baru-baru ini diketahui kembali ke mantan istrinya setelah sebelumnya ia menyembunyikan banyak hal dari teman saya.

“Kita ketemu aja nanti ya, sehat dulu sekarang, insyaallah nanti akan baik, insyaallah!” saya meyakinkan dia berkali-kali dari balik telepon.

Ibunya yang juga kenal dekat dengan saya ikut menangis di sebelahnya.

FYI, memang akhir-akhir ini teman-teman kuliah sering sekali curhat tentang kondisi percintaan mereka. Saya dipercaya jadi tempat curhat aneka jenis kasus, saya pun tertawa.

Sejak kapan menguasai percintaan? Saya pun tidak tahu. Namun, ya saya ada pengalaman. Saya senang orang-orang terbuka dan berbagi. Biasanya para perempuan akan senang dengan dukungan, motivasi, kata-kata semangat, dan didampingi.

Lelaki Beristri yang Ingin Punya Kekasih

Baik, saya akan cerita tentang kasus teman saya yang satu ini. Alkisah sekitar satu tahun lalu dia mengenal seorang lelaki tampan menurut dia, saleh, karakter halus, lembut, simpati, bla..bla.

Pria itu mengaku sudah cerai dengan istrinya beberapa tahun lalu, dan dia sudah punya anak. Dia bilang jatuh cinta ke teman saya, dan ia berjanji akan menikahi teman saya ini.

Teman saya mengajak saya bertemu dengan pria itu. Dia ingin minta pendapat. Waktu itu saya lihat mereka saling mencintai, dan sudah merencanakan banyak hal untuk pernikahan.

Jujur, pada saat pertama kali menatap wajah laki-laki itu, saya merasa ada yang aneh dengan tatapannya. Tatapan lelaki yang senang jatuh cinta ke perempuan, saya melihatnya di sana. Sedikit liar menatap perempuan, dan memandang tajam pada orang di depannya.

Namun, saya tak sampaikan itu. Saya diam saja.
Beberapa bulan kemudian, teman saya bilang lelaki itu menghilang hampir seminggu, tidak ada kabar sama sekali. Namun, endingnya mereka balik lagi. Teman saya ini sangat-sangat cinta pada lelaki itu, banyak hal tak manusiawi yang akhirnya ia maafkan.

Berita Lainnya

Saya ingat beberapa kali ia curhat tentang hal-hal aneh dari lelaki itu, tetapi endingnya selalu balikan. Sampai akhirnya ia benar-benar masuk rumah sakit.

Lelaki itu sebelumnya menghilang lebih dari 10 hari, tidak ada kontak sama sekali. Dihubungi pun tidak bisa. Diketahui ternyata selama 10 hari itu ia bersama mantan istrinya kembali di rumah mertuanya. Mereka sudah berencana rujuk, pada saat si lelaki menjanjikan akan menikahi teman saya.

“Dia menipu saya Kak. Ternyata selama ini dia bersama mantan istrinya, anaknya juga baru berusia 4 bulan. Jadi selama ini dia belum berpisah dengan istrinya tetapi merayu saya, “ kata teman saya ini menangis sedih.

Dia sudah berkorban banyak untuk lelaki itu. Membantu masuk kerja, mencarikan tempat tinggal, cinta yang dalam dengan segala pengorbanan.

“Sekarang?” tanya saya.

“Sekarang pun saya masih mencintainya,” dia menangis.

Dalam sekali cintanya, dan begitulah perempuan.
Terakhir tadi malam dia mengirimkan foto lelaki itu bersama istri dan anaknya, tetapi dia pun masih menghubungi teman saya dan menyatakan cinta ingin tetap memiliki.

“Apa artinya itu, Kak?”

“Dia ingin memiliki keduanya, atau dia ingin punya istri dan punya kekasih,” kata saya.

Teman saya pun menangis.
Saya bilang, kamu ini cantik, suara kamu bagus, keluarga kamu kaya, karir pendidikanmu juga bagus, lanjutkan S3, setelah itu kamu akan menyesali pilihanmu saat ini.

Demikianlah kedalaman cinta perempuan. Mereka akan memaafkan dan menerima. Cinta mereka akan tetap ada walaupun disakiti. Apakah selamanya bodoh? Tidak. Waktu yang akan menghapus perasaan merekan. Lalu bila semuanya sudah terhapus, ia tidak akan pernah kembali pada masa lalunya.

De Daikos, 14 April 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan