Mengapa Aku Menjadi Pramugari (Bagian Kesatu dari 2 tulisan)

Mengapa Aku Menjadi Pramugari (Bagian Kesatu dari 2 tulisan)

130

Mengapa Aku Menjadi Pramugari (Bagian Kesatu dari 2 tulisan)

Oleh Tutin Apriyani

 

Catatan Masa Kecil

SIANG hari tahun 1974, langit begitu cerah, secerah hatiku. Sambil bernyanyi-nyanyi, aku menyapu halaman rumah. Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk berbagi tugas. Aku adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara; dua di antaranya perempuan. Kakak pertamaku bertugas memasak, sedangkan aku mendapat tugas membersihkan rumah. Ibu (kami memanggilnya dengan Mami) adalah seorang ibu rumah tangga, meskipun dulunya pernah menjadi guru SD. Setelah melahirkan anak pertamanya, kakakku—beliau memutuskan berhenti mengajar.

Tiba-tiba, terdengar suara menderu di langit. Aku melihat ke atas, ternyata sebuah pesawat melintas di atas rumahku.

“Oh, alangkah enaknya kalau bisa berada di dalam pesawat dan melihat ke bawah,” bisa terbang kemana mana begitu pikirku saat itu. Melintasi kota-kota terasa sangat mengasyikkan dalam bayangan anak kelas 6 SD sepertiku.

Hari berganti, aku pun menjadi seorang siswi SMP. Kegiatan siang hari setelah sekolah kuisi dengan latihan basket, mengaji, dan bermain bulu tangkis, yang semuanya kulalui dengan penuh kegembiraan.

Tanpa terasa, aku sudah menamatkan SMP dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Tahun 1978, aku terpilih sebagai anggota Paskibraka mewakili Kabupaten Bengkalis untuk mengibarkan bendera di Istana Merdeka, Jakarta. Namun, karena satu dan lain hal, keberangkatan kami tertunda. Akhirnya, aku hanya sampai di tingkat Provinsi Riau. Terus terang, hal itu cukup mengecewakan karena bukan kesalahan kami, melainkan karena banyaknya tahapan dan birokrasi yang harus dilalui. Meski begitu, aku tetap bersyukur, karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti itu.

Jarum jam: aku usia SMP, usia 2 tahun dan bersama kawan SMA.
Jarum jam: aku usia SMP, usia 2 tahun dan bersama kawan SMA.

Hari-hari pun berlalu dengan rutinitas yang nyaris tak berubah. Aku dididik oleh seorang ayah (kami memanggilnya Papi) yang mengajarkanku untuk mandiri sejak kecil, agar mampu mengerjakan berbagai hal sendiri. Kami tidak memiliki pembantu seperti banyak keluarga sekarang yang dibantu oleh ART (Asisten Rumah Tangga). Semua anak memiliki tugas masing-masing—ada yang belanja ke pasar, ada yang membersihkan rumah, dan ada yang memasak (tentunya dibantu oleh Mami), sambil mengurus adik-adikku yang masih berjumlah empat orang.

Sampai suatu hari, aku mendengar Papiku yang bekerja di Beacukai berkata bahwa beliau akan dipindah tugaskan ke kota Bagansiapi-api yang lebih kecil dari tempat kami tinggal sebelumnya. Sejak saat itu, aku harus sekolah jauh dari kedua orang tuaku. Aku, bersama kakak, abang, dan adikku, pindah ke Medan untuk melanjutkan sekolah di sana. Mami waktu itu mengatakan bahwa mutu sekolah di Kota Medan lebih bagus.

Medan, 1979

Berita Lainnya

Aku sekolah di sekolah swasta, sementara abang dan adikku diterima di sekolah negeri. Maklum, aku pindahan kelas dua SMA setelah pembagian jurusan. Dulu, SMA terdiri dari tiga jurusan: IPA, IPS, dan Bahasa.

Awalnya, sekolah di kota besar membuatku takut. Aku berasal dari kota kecil yang hanya memiliki beberapa mobil dinas seperti mobil Bupati dan Kantor Penerangan, yang kerap berkeliling memberi informasi kepada masyarakat—termasuk pemutaran film penerangan di lapangan terbuka yang bisa ditonton oleh semua orang. Suasananya sangat berbeda dengan sekarang. Di Medan, setiap pagi aku mendengar suara mobil dipanaskan sebelum dipakai ke kantor atau mengantar anak-anak ke sekolah.

Di kota ini, aku memulai kehidupan baru. Aku juga bergabung menari di Istana Maimoon( belajar tari) menari dan fokus untuk mengisi waktu luang di hari Minggu atau sepulang sekolah. Dulu menari waktu SMP itu sekedar hobi. Tapi menari ini selain hobi juga mendapatkan rejeki, bisa untuk uang jajan dan itu juga mengasyiikan buat aku. Dan untuk pertama kalinya juga aku tampil di siaran TVRI Medan.

Pesawat Garuda Indonesia
Pesawat Garuda Indonesia

Sampai suatu hari, saat aku duduk di kelas tiga SMA, kami dari perkumpulan tari mendapat tugas tampil dalam acara penyambutan mendaratnya pesawat Garuda berbadan lebar yang pertama kalinya mendarat di Bandara Polonia (sekarang bandara ini sudah pindah di Kualanamu).

Aku dan beberapa teman menyambut para pilot dan awak pesawat dengan mengalungkan bunga. Saat itu aku bergumam dalam hati, “Alangkah cantiknya pramugari yang berjalan di depanku.” Aku pun mulai berkhayal, “Betapa enaknya bisa jalan-jalan keliling dunia tanpa harus membayar.”

Aku tidak tahu persis saat itu apa dan bagaimana sebenarnya pekerjaan sebagai awak kabin, yang dulu orang menyebutnya pramugari. Saat itu, aku membayangkan pekerjaannya hanya jalan-jalan. Padahal, kenyataannya sangat berbeda. Tugasnya cukup berat dan penuh tanggung jawab.

Seminggu setelah peristiwa itu, aku pun mulai melupakan impian tentang pramugari.

Juni 1980

Aku lulus dari SMA. Tahun itu, ada kebijakan bahwa masa SMA ditambah enam bulan. Yang seharusnya terima rapor pada bulan Januari, jadi ditunda hingga Juni.

Setelah lulus, aku mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SKASU) dengan memilih Fakultas Kedokteran. Namun, aku dinyatakan tidak lulus atau tidak diterima. Akhirnya, aku memutuskan kuliah di Akademi Bahasa Asing dibawah Yayasan Harapan, mengikuti kakak ku yang sudah duluan kuliah disana mengambil jurusan sekretaris.

Setelah tiga bulan menjalani perkuliahan, suatu sore sekitar pukul 17.00, sambil menonton TV, aku menonton berita daerah yang mengumumkan ada lowongan penerimaan pramugari Garuda.
Kenangan lama menyeruak, Pesawat yang melintas diatas rumah, pendaratan pesawat di Polonia, kalungan bunga, senyum pramugari yang ramah. Seakan diingatkan kembali pada khayalan masa kecilku.
Impian yang sempat menghilang kini kembali menyapa…( bersambung).

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Sieharto.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan