Melawan Kebosanan Selama Penerbangan dalam Pesawat Terbang

35

Penerbangan, bagi sebagian orang, adalah momen yang menyenangkan dan juga mendebarkan — memandangi awan di balik jendela sambil membayangkan kota atau negara tujuan. Namun, bagi sebagian besar penumpang, terutama di penerbangan jarak jauh, kebosanan sering kali melanda. Duduk berjam-jam di dalam ruangan, mendengar dengungan mesin, serta keterbatasan ruang gerak membuat banyak orang harus pintar mencari cara agar tetap nyaman selama perjalanan.

Sebagai mantan awak kabin, saya menyaksikan banyak cara kreatif yang dilakukan para penumpang untuk mengusir bosan. Begitu juga dari cerita-cerita para penumpang yang saya rangkum, setiap orang punya cara sendiri selama di perjalanan.

Banyak penumpang berpendapat bahwa penerbangan jarak dekat (kurang dari 2 jam) ibarat “tidur siang kilat.” Waktu yang singkat membuat pilihan kegiatan tidak terlalu banyak.

Sebagian besar penumpang memilih langsung memejamkan mata. Biasanya beberapa orang bahkan sudah hafal: begitu pesawat take-off dan lampu tanda sabuk pengaman mati, mereka segera rebah. Menurut cerita seorang penumpang rute Jakarta–Surabaya, “Kalau bisa tidur satu jam saja, bangun-bangun sudah mendekati mendarat. Tidak sempat bosan.”

Penumpang lain memilih membaca majalah, buku saku, atau novel tipis. Karena penerbangan singkat, mereka sengaja membawa bacaan ringan. Biarpun Maskapai sering menyediakan majalah penerbangan yang meski isinya tidak selalu baru.

Pada penerbangan domestik atau regional tanpa in-flight entertainment, penumpang cerdas akan mengunduh film atau serial pendek sebelum berangkat. Seorang penumpang rute Pekanbaru Jakarta mengaku sudah menyiapkan satu episode drama Korea. “Pas banget, durasinya . Pas mendarat, pas tamat,” katanya sambil tertawa.

Foto ilustrasi penumpang pesawat

Ada juga penumpang yang memanfaatkannya dengan menyelesaikan pekerjaannya dan memanfaatkan waktu tersebut dengan membuat perencanaan kerja.
Mengobrol dengan teman seperjalanan juga jadi andalan. Namun, kadang pramugari harus menegur bila volume suara mulai mengganggu kursi sekitar. Ada cerita kocak seorang ibu yang keasyikan mengobrol sampai tidak sadar sudah harus mengenakan sabuk pengaman saat pesawat hendak mendarat.

Penerbangan jarak jauh ( 11 jam) lebih kurang, menuntut stamina lebih — bukan hanya fisik, tetapi juga mental. “Perjalanan ke Eropa itu lebih panjang dari nonton drama seri 10 episode,” kelakar seorang penumpang rute Jakarta–Amsterdam.

In-flight entertainment adalah “penyelamat utama”. Maskapai besar umumnya menyediakan beberapa pilihan film, serial, musik, hingga games. Banyak penumpang membuat daftar tontonan sebelum naik. “Saya sudah niat mau nonton 2 film kata seorang pria muda yang terbang ke Tokyo. Bahkan beberapa orang sengaja tidak tidur agar bisa menonton semua film yang sudah diincar.

Rasa pegal memaksa penumpang untuk bangun dan berjalan. Penumpang senior sering terlihat merentangkan tangan, menekuk lutut, atau memutar bahu di dekat toilet. Awak kabin menyarankan gerakan peregangan ringan setiap dua jam untuk menghindari kaki bengkak karena terlalu lama duduk ( deep vein thrombosis ).

Tak sedikit yang memanfaatkan waktu untuk menulis jurnal, catatan perjalanan, atau sekadar corat-coret. Seorang seniman pernah bercerita, “Saya malah senang di pesawat. Tidak ada telepon, tidak ada gangguan. Justru di sini saya bisa menyelesaikan tulisan/ menyelesaikan sketsa yang tertunda.”

Dengan earphone yang disediakan maskapai mendengarkan musik jadi terapi ampuh. Kadang-kadang, volume terlalu keras sampai bisa terdengar samar oleh kursi sebelah.

Beberapa penumpang wanita punya kebiasaan ritual mempercantik diri dengan mengoles krim pelembab, lip balm atau pun krim untuk kulit “Udara kabin kering sekali. Kalau tidak dirawat kulit akan terlihat kering dan kusam.

Ada yang iseng mencoba semua minuman yang tersedia. Ada pula yang rajin menekan tombol panggil, hanya untuk sekadar minta kacang atau biskuit untuk cemilan.

Tulisan Terkait

ADAKAH : Puisi Datin Sariana

Dalam penerbangan panjang, kreativitas penumpang kadang melebihi ekspektasi awak kabin. Ada yang merangkai puzzle mini, merajut syal, atau menyulam.

Seorang kru senior pernah menceritakan ada penumpang yang berkeliling kabin sambil mencatat dan merekam kejadian yang terjadi selama penerbangan menu makanan, hingga perilaku awak kabin — semua demi konten blog pribadinya.

Sementara itu, di penerbangan ekonomi, beberapa penumpang mencoba mencari kursi kosong untuk berbaring. Ada yang berhasil, ada juga yang harus kembali duduk setelah ditegur pramugari.

Meski banyak cara menghilangkan bosan, ada juga tantangan. Dengan ruang
terbatas, tidak semua gerakan atau aktivitas bisa dilakukan .
Ada yang terlalu antusias bercerita, sampai lupa menjaga ketenangan sekitar.

Ketergantungan gadget, bila baterai habis dan tidak ada colokan, penumpang bisa mendadak “gelisah”.

Khusus penerbangan lintas zona waktu, penumpang yang mencoba menyesuaikan pola tidur sering kesulitan ( Jet lag).

Dari berbagai pengalaman penumpang, ada beberapa tips agar terhindar dari kebosanan:

Siapkan hiburan cadangan: Buku, film, musik, podcast, atau games offline.

Bawa perlengkapan nyaman, baju yang longgar dan nyaman, bantal leher, kaus kaki hangat. Biarpun Maskapai memberikan suvenir seperti kaos kaki, tapi lebih nyaman dengan membawa perlengkapan sendiri.

Atur jadwal makan dan tidur: Menyesuaikan ritme waktu tujuan agar tidak jet lag parah.

Minum air cukup: Udara kabin cenderung kering, dehidrasi bisa memicu rasa lesu dan bosan.

Pilih kursi strategis: Kalau suka berjalan, kursi lorong lebih cocok.

Tak peduli seberapa jauh terbang, ujungnya adalah sensasi mendarat dan memulai cerita baru. Penumpang sering lupa semua keluh-kesah begitu kaki menjejak landasan — disambut angin kota baru atau kerabat yang menunggu.

Dari kisah para penumpang dan awak kabin, kita belajar bahwa melawan kebosanan di udara sebenarnya adalah seni menata diri, mengolah pikiran, menjaga kenyamanan, sambil mengisi waktu dengan aktivitas yang membawa kebahagiaan. Karena pada akhirnya, setiap penerbangan selalu menyimpan kenangan — bertemu teman baru, tawa bersama teman sebangku, film yang ditonton diam-diam sambil menitikkan air mata, atau percakapan singkat dengan awak kabin yang ramah dan penuh senyum.

Bagi mereka yang sering terbang, kebosanan hanyalah awan tipis yang akan segera berlalu. Karena mereka sudah menyiapkan mental dengan rasa bebas, rasa kagum, senang dan cerita/oleh-oleh yang akan mereka bawa pulang. Untuk menginggat setiap moment yang indah selama perjalanan. Selamat menikmati penerbangan dalam cerita episode selanjutnya***

 

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Soeharto. Kini menjadi Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau periode 2025-2030.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan