Kehidupan dan Tim Kerja seorang Pramugari yang Selalu Berubah

45

Kehidupan dan Tim Kerja seorang Pramugari yang Selalu Berubah

Oleh Tutin Apriyani

 

Cerita ini bermula ketika aku baru bekerja sebagai pramugari. Saat pertama kali mengenakan seragam oranye- warna resmi seragam pramugari maskapai tempatku bekerja. Aku tak pernah membayangkan betapa pekerjaan ini akan membawaku bertemu ratusan wajah yang berbeda setiap harinya—baik penumpang maupun rekan kerja di kabin pesawat

Setiap pagi sebelum terbang, Aku selalu mengikuti briefing. Di ruangan kecil itu ataupun di pesawat, karena hal itu sesuai aturan (SOP) kerja. Aku bertemu dengan kapten, co-pilot, dan para kru yang mungkin baru kulihat pertama kali. Kadang Aku bertugas dengan senior yang penuh disiplin, kadang dengan junior yang masih kaku, kadang dengan rekan yang gemar bercanda ataupun yang sangat cuek dengan keadaan hingga membuat suasana kerja terasa bervariasi.

“Selamat pagi, saya Nenny” kataku setiap kali memperkenalkan diri. Kalimat sederhana itu sudah seperti salam wajib, meski kadang diikuti dengan obrolan ringan, kadang hanya dijawab dengan anggukan singkat.

Aku belajar cepat membaca karakter. Ada kapten yang tegas dan disiplin seperti seorang Ayah dan ada pula yang hangat seperti sahabat. Ada pramugari yang senyumnya selalu cerah, tapi juga ada yang diam-diam menyimpan kesedihan karena menpunyai persoalan pribadi dan juga jauh dari keluarga. Semua itu membuat aku mengerti, di balik seragam yang sama, setiap orang membawa cerita berbeda.

Ilustrasi pramugari sedang bertugas
Ilustrasi pramugari sedang bertugas

Pernah suatu kali, Aku bertugas dengan seorang pramugara yang baru ditinggal tunangannya. Sepanjang penerbangan, lelaki itu tampak berusaha tegar, meski di wajahnya kelihatan adanya persoalan. Tanpa banyak bicara. Aku menemaninya dengan sikap hangat dan mulai bercerita.

Kita mungkin hanya terbang bersama sehari itu, tapi Aku tahu pertemuan singkat pun bisa menjadi penguat dan teman cerita sesaat.

Tulisan Terkait

Di penerbangan lain, Aku mendapat rekan kerja yang humoris, yang selalu bisa membuat semua orang tertawa bahkan saat penumpang sedang banyak komplain.

“Hidup di udara terlalu singkat kalau dibawa serius terus,” katanya.

Kalimat itu terus Aku ingat, menjadi penyemangat ketika Aku merasa lelah.

Meski wajah-wajah rekan kerjaku terus berganti, Aku selalu menemukan pelajaran baru. Aku belajar kesabaran saat bekerja dengan orang yang perfeksionis, belajar ketegasan saat harus menenangkan penumpang yang marah. Aku belajar keikhlasan, bahwa kebersamaan di langit hanyalah sementara, dan esok pasti akan berganti lagi. Dengan cerita yang beragam.

Namun, ada satu hal yang selalu sama: rasa kebersamaan ketika pintu pesawat ditutup. Saat itu, kami semua adalah sebuah tim, tak peduli kenal lama atau baru bertemu hari itu. Di udara, kami saling menjaga, saling mendukung, demi keselamatan ratusan nyawa di dalan pesawat.

Bagiku, menjadi pramugari bukan hanya soal melayani penumpang dengan senyum. Tapi juga tentang menerima kenyataan bahwa hidup adalah pertemuan singkat, seperti waktu melewati awan di angkas.

Dan meski rekan kerja selalu berganti, langit tetap menjadi rumah yang setia, menyaksikan perjalanan seorang pramugari yang belajar tentang arti kebersamaan dalam perpisahan.

Dan ada satu hal yang sama setiap hari, langit biru yang selalu setia menyambutku seolah menjadi saksi dari perjalanan.***

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Soeharto. Kini menjadi Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau periode 2025-2030.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan